Puasa dan Racun Dalam Tubuh

Baru sebulan kemarin kita meninggalkan Bulan Ramadhan yang menjadi salah satu bulan yang mewajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh yang harus dilakukan umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sebagai salah satu ibadah wajib, tentunya siapa yang menyangka di balik aktivitas menahan makan dan minum selama sehari dijalankan tersebut, ternyata memiliki efek yang luar biasa bagi tubuh, salah satunya untuk mengeluarkan racun, yang tentunya akan mencegah seseorang mengalami toksemia atau keracunan dalam darah. Maka terinspirasi atas efek positif dari puasa tersebut, di bawah ini akan disampaikan sedikit informasi tentang “puasa dan racun dalam tubuh”. 

Selain efek positif tentunya masih banyak alasan mengapa sampai mengulas puasa dan efek positif untuk tubuh, selain mengalami sendiri juga informasi dari berbagai media yang memberikan berbagai informasi untuk melakukan puasa sebagai satu langkah dalam mengeluarkan racun dalam tubuh, yang salah satunya di tulis oleh Agus Surono, dalam Intisasri Edisi No 543 yang menyampaikan bahawa racun bisa keluar saat berpuasa, tentunya hal ini menjadi sangat menarik untuk diulas.

Puasa adalah Cara Mudah Mengeluarkan Racun dalam Tubuh

Sebagai seseorang yang banyak mengonsumsi berbagai makanan, entah sebagai bahan bakar untuk kuat dalam menjalankan aktivitas atau sekedar ingin menikmati jajanan kuliner, tentunya tubuh banyak dimasuki berbagai bahan yang tidak tahu apa kandungan di dalam makanan terbut, akhirnya Anda sering menderita sakit kepala, terganggu karena sering menderita sariawan, mengalami kulit bermasalah atau bahkan cepat lelah. Menurut Konsultan Gizi dan juga penggagas Food Combining yaitu Bapak Andang Widhawari Gunawan, hal ini menunjukkan adanya racun yang menumpuk dalam tubuh.

Puasa dan Racun Dalam Tubuh
Gambar ilustrasi (Foto: istockphoto.com Credit: CharlieAJA)

Berbicara tentang racun yang ada di dalam tubuh, maka racun ini dikeluarkan, apalagi jika jumlahnya sudah semakin berlebihan, semakin menumpouk dan mengakibatkan toksemia atau sebuah kondisi keracunan dalam darah. Mendengar kata toksemia, tentunya akan terasa ngeri apalagi kondisi tersebut sangat berhubungan dengan semua penyakit degeneratif.

Secara singkat, sel tubuh memperoleh makanan dari darah, dan darah mendapatkannya dari usus. Sedangkan usus menyerap makanan dari setiap zat yang telah dikonsumsi. Apabila terdapat racun dalam saluran usus, maka racun akan terserap dan turut beredar bersama darah pada setiap sel tubuh.

Baca juga: Tips Mendetoks Tubuh Setelah Lebaran.

Racun yang berada dalam tubuh bisa berasal dari dalam tubuh (endogenus) atau bisa juga berasal dari luar (eksogenus). Endogenus ini bisa berasal dari sisa metabolisme, radikal bebas, gangguan fungsi hormon, mengalami produksi hormon yang berlebihan akibat stress dan bisa juga akibat bakteri penyakit yang sudah ada di dalam tubuh. Sedangkan faktor eksogenus, bisa jadi disebabkan obat-obatan, polutan, hormon pada ternak, makanan yang diproses, mikroba atau pun lemak trans.

Yang perlu diketahui adalah tubuh sebenarnya sudah memiliki cara dan juga mekanisme sendiri  untuk mengatasi toksin atau racun dalam tubuh, seperti mengeluarkan keringat, berkemih dan melakukan BAB (Buang Air Besar) adalah salah satu upaya untuk melakukan detoksifikasi  atau bisa disebut, cara untuk mengeluarkan racun dari tubuh secara alami. Namun yang perlu dipahami adalah cara ini tidak serta merta menuntaskan masalah, terdapat beberapa penyebab yang membuat mekanime alami ini sering terganggu.

Puasa Sebagai Detoksifikasi yang Efisien untuk Tubuh

Detoksifikasi. Sebenarnya apakah yang dimasksud dengan istilah ini? Detoksifikasi atau yang biasanya disebut dengan proses mengeluarkan racun dari tubuh, cara ini menjadi jawaban bagi tubuh untuk memperoleh zat gizi yang tepat  dan juga memberi kesempatan tubuh untuk secara bebas melakukan pembuangan. Sedangkan organ yang memiliki peran penting dalam detoksifikasi adalah saluran usus dan liver.

Selain berperan untuk mengeluarkan racun, proses detoksifikasi ini juga harus memberi makanan dan mendukung kerja organ yang berhubungan dengan proses detoksifikasi tersebut. Terdapat dua cara yang bisa dilakukan dalam proses detoksifikasi, yaitu:

  • Memperbanyak konsumsi sayur.
  • Puasa

Puasa, siapa yang mengira, salah satu ibadah wajib yang harus dilakukan umat Islam yang telah dilakukan beberapa bulan yang lalu tersebut menjadi sebuah cara yang paling mudah dan aman untuk detoks. Detoksifikasi sebaiknya dilakukan  satu kali dalam satu tahun  selama 30 sampai 40 hari, meskipun jumlah hari tersebut hanya perkiraan waktu saja.

Yang menjadi pedoman dalam menentukan hari puasa adalah semakin tidak sehat, tentunya semakin sering dan semakin lama waktu yang diperlukan untuk detoksifikasi, oleh karena itu agar tidak kaget apabila harus melakukan puasa selama 30 sampai 40 hari, maka hendaknya Anda berlatih puasa dua hari dalam seminggu.

Baca juga: Tips Mengontrol Kadar Glukosa Darah.

Saat Anda melakukan puasa, secara alami usus akan membersihkan diri, begitu pula dengan organ tubuh yang lain, seperti hati dan lambung akan melakukan istirahat, apalagi hati dan lambung memiliki tugas yang berat, yaitu untuk menyaring segala sesuatu yang telah dikonsumsi. Dengan melakukan puasa, hal ini akan memberikan jeda beberapa jam bagi hati untuk beristirahat.

Bagi Anda yang baru mau melakukan proses detoksifikasi bisa dimulai dengan mengonsumsi sayuran dan juga buah-buahan segar. Sayur dan buah ini mengandung air dan serat yang tinggi sehingga bisa membantu melancarkan proses pembuangan racun dari usus 

Jadi tunggu apalagi, ingin selalu sehat dan selalu bahagia bukan? Sebagai pengingat dan juga informasi, semoga sedikit uraian di atas tentang “puasa dan racun dalam tubuh” bermanfaat dan Anda bisa memulai untuk hidup sehat.


Firman Seorang blogger yang senang menikmati kopi, traveling, dan menulis.

Belum ada Komentar untuk "Puasa dan Racun Dalam Tubuh"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel