Kekhawatiran Ibu Pada Bayi

Kelahiran si buah hati menjadi sebuah anugrah yang menyenangkan bagi seluruh keluarga, apalagi buah hati yang ditunggu-tunggu tersebut adalah yang pertama dari keluarga besar Anda. Namun, dibalik kebahagiaan tersebut, seringkali muncul kecemasan atau kekhawatiran ibu pada bayi. Hal utama yang harus dicatat adalah saat ibu baru tersebut mengalami kekhawatiran atau merasa tidak nyaman saat merawat buah hati yang baru lahir adalah jangan malu untuk meminta bantuan pada keluarga atau khususnya pada pasangan. Kalau perasaan atau rasa khawatir tersebut terus dipendam akan berpengaruh pada kondisi buah hati dan Anda sebagai seorang ibu.

Kekhawatiran Ibu Pada Bayi;
Foto: careertrend.com

Sebenarnya sudah banyak sekali catatan dan tips yang bisa dipelajari dan menjadi sumber informasi bagi para ibu, khususnya ibu baru yang baru melahirkan buah hati kesayangan. Namun, meskipun sudah banyak informasi, rasa was-was pasti selalu ada dibenak Ibu sekalian.

Kecemasan Pada Bayi dan Solusinya

Tenang, Anda tidak sendiri, semua Ibu khususnya ibu baru merasakan hal yang sama dengan Anda, yang perlu dilakukan sebagai langkah awal adalah jangan panik. Namun, terdapat beberapa hal dibawah ini yang bisa menjadi perhatian sebagaimana dikutip dari Majalah Mother & Baby (M&B), antara lain:

1. Kotoran bayi berwarna hijau dan berbentuk cairan.

Tidak dapat dipungkiri, saat tinja buah hati berwarna hijau tua dan berwarna agak kehitaman, akan membuat Anda sebagai orang tua baru merasa cemas. Sebenarnya hal ini adalah hal yang normal. Hal ini bisa terjadi dikarenakan bayi minum cairan ketuban yang kemudian dikeluarkan kembali ke dalam air ketuban dalam plasenta ibu. Saat bayi lahir, apabila sang bayi buang air besar, maka kotoran pertama yang dikeluarkan berupa kotoran saat si bayi masih dalam kandungan, yang disebut dengan meconium. Biasanya meconium berlangsung selama 2 sampai 3 hari. Baru setelah itu kotoran berwarna hijau. 

Sebagai catatan, apabila bayi mengalami diare lebih dari 6 kali sehari, konsultasikan pada dokter, dikhawatirkan si bayi mengalami kekurangan cairan dalam tubuhnya.

Langkah-langkah yang bisa dilakukan adalah:

  • Berangkat ke dokter anak secepat mungkin.
  • Berikan terus ASI, agar si bayi tidak kekurangan cairan.
  • Apabil diperlukan, berikan susu formula.
  • Cucilah tangan Anda setelah membersikan kotoran si bayi.

Baca juga: Mitos dalam Persalinan.

2. Ruam popok.

Ruam popok merupakan suatu kelainan kulit yang timbul karena disebabkan radang di daerah yang tertutup popok. Ruam biasanya terjadi di sekitar daerah kemaluan, pantat, lipatan paha, dubur, dan juga perut bagian bawah. Gejala yang terjadi biasanya berupa kemerahan pada kulit pada daerah yang tertutup popok. Apabila makin parah, seperti timbul bintil-bintil merah,terjadi lecet atau luka, terkadang bersisik, basah dan bengkak. Hal ini bisa menyebabkan bayi menjadi rewel karena merasakan nyeri saat buang air kecil atau saat buang air besar, bahkan ruam popok ternyata bisa mengakibatkan infeksi jamur atau bahkan infeki bakteri.

Pencegahan yang bisa dilakukan, antara lain:

  • Mengganti segera popok bayi, pada saat sebelum dan sesudah tidur.
  • Segera gantilah popok apabila tampungan urin sudah mulai penuh, hal ini bisa terlihat dari popok yang terlihat berat dan tebal.
  • Sesering mungkin memeriksa popok agar tidak terlambat mengganti,khususnya pada malam hari.
  • Saat mengganti popok, bersihkanlah terlebih dahulu daerah di sekitar kemaluan secara lembut dengan air hangat, bisa menggunakan sabun bayi yang lembut setelah si bayi buang air besar dan telah dibilas. Kemudian keringkan dengan handuk dan angin-anginkan sebentar sebelum dipakaikan dengan popok yang baru.
  • Sementara biarkan bayi tidak memakai popok selama 2 sampai 3 jam sehari, agar kulit bayi bisa bernapas, tidak terasa panas dan tidak lembab.

3. Tali pusar.

Saat si bayi masih berada dalam kandungan, pusar si kecil masih berupa tali dan berfungsi sebagai saluran suplai bahan makan dari plasenta. Biasanya pemotongan tali pusar dilakukan oleh dokter akan menyisakan bagian sepanjang beberapa senti meter, yang nantinya akan terlepas secara otomatis sekitar 10 sampai 21 hari setelah adek bayi lahir.

Langkah merawat tali pusar yang belum lepas, antara lain:

  • Lakukanlah perawatan secara cermat, dengan menjaga kebersihan area pusar dan sekitarnya, serta upayakan kondisi pusar selalu dalam keadaan kering.
  • Gunakanlah kapas baru pada setiap basuhannya.
  • Gunakan kain kasa pada bagian pusar agar tali pusar lebih mudah dan lebih cepat lepas. Lakukanlah 1 sampai 2 kali dalam sehari.

Baca juga: Tips Sehat dan Bugar untuk Ibu Hamil.

4. Bayi mengalami muntah setelah minum ASI.

Seringkali terjadi bayi mengalami muntah setelah minum ASI, dan hal ini sering menjadi kekhawatiran seorang ibu apalagi ibu baru. Padahal, seharusnya makanan atau minuman yang masuk dari mulut ke lambung kemudian ke usus dua belas jari. Kalau terjadi muntah, berarti terdapat sesuatu yang mengganggu. Biasanya yang menjadi masalah adalah terdapatnya masalah pada pintu masuk lambung atau bisa jadi yang terjadi malah pada pintu keluar lambung sehingga menyebabkan lambung menjadi terganggu saat akan mengeluarkan isinya. Hal lain yang bisa menjadi penyebab adalah terjadinya infeksi pada radang tenggorokan yang bisa mengakibatkan reaksi muntah.

Langkah yang bisa dilakukan apabila adek bayi masih muntah, adalah sebagai berikut:

  • Angkatlah dengan perlahan kepala bayi setelah menyusui agar tidak tersedak.
  • Apabila menggunakan botol susu, usahakan dot tersebut jangan mudah terlepas dari mulut bayi.
  • Saat bayi menangis, jangan berikan susu.

5. Apabila tubuh bayi menjadi menguning.

Ini dia yang sering membuat khawatir para ibu, sebenarnya warna kuning pada kulit bayi yang baru lahir tidak berbahaya, karena hal ini bukanlah sebuah penyakit, melainkan diakibatkan fungsi organ hati yang belum matang. Penyebab lainnya adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah, yang normalnya adalah secara berkala sel darah merah akan pecah. Bayi kuning akan terlihat pada wajah, kemudian menjalar pada seluruh tubuh. Namun, bayi tampak sehat dan aktif, dan bayi masih tetap mau menyusui dan menangis degan kuat. Hal ini  terjadi sekitar 3 sampai 4 hari setelah bayi dilahirkan. Apabila terjadi lebih dari 1 minggu, segera konsultasikan dan periksakan ke dokter.

Langkah mengatasinya, adalah:

  • Untuk mengurangi warna kuning pada bayi, bisa dilakukan dengan menjemurnya pada sinar matahari pagi. Atau bisa diberikan asupan ASI yang cukup, agar zat-zat  tidak berguna di dalam tubuh bisa segera terbuang melalui kotoran, dan berikan pula penerangan secukupnya.

6. Mata bayi berarir dan belekan.

Hal ini juga sering membuat para ibu yang baru melahirkan khawatir, apalagi mata si bayi selalu tampak belekan atau bahkan berair terus. Pada beberapa bayi, jika produksi air matanya berlebihan, sementara saluran yang ada ke hidung belum sempurna, dan belum bisa dipakai dengan baik, maka bayi akan mengeluarkan air mata hanya dari matanya. Saluran hidung tersebut pada umumnya akan membaik bila bayi sudah menginjak 1 bulan.

Yang harus dilakukan, yaitu mandikan bayi dengan air hangat kemudian bersihkan  secara perlahan pada bagian matanya. Kemudian jangan lupa bersihkan tangan Anda sebelum mengusap pada bagian mata buah hati Anda. Ambillah sedikit kapas dan celupkan pada sedikit air dan usapkan pada bagian mata secara perlahan. Lakukanlah pada kedua matan bayi secara bergantian.

Semoga sedikit informasi di atas tentang “kekhawatiran ibu pada bayi” bermanfaat dan bisa memberikan rasa tenang bagi Anda atas hal-hal yang sering terjadi pada bayi yang baru lahir.


Firman Seorang blogger yang senang menikmati kopi, traveling, dan menulis.

Belum ada Komentar untuk "Kekhawatiran Ibu Pada Bayi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel