Mitos dalam Persalinan

Indonesia adalah negara yang kaya akan suku dan budaya, tentunya dibalik beragamnya budaya memiliki mitos yang dipercaya yang harus dipatuhi oleh masyarakat didalamnya. Berbicara tentang kesehatan, khususnya yang berkaitan kehamilan dan persalinan, terdapat mitos dalam persalinan yang selama ini beredar dalam masyarakat. Mitos apa sajakah itu?

Mitos dalam Persalinan
Foto: istockphoto.com by staticnak1983

Mitos yang beredar pun sangat banyak, mulai dari larangan mengonsumsi makanan tertentu, sampai kegiatan yang harus dilakukan oleh ibu hamil yang akan melahirkan. Beberapa mitos ini sengaja dikutip dari Majalah M&B (Mother & Baby) yang selama ini banyak dipercaya oleh masyarakat, namun yang menarik, selain mitos juga perbandingan atas kenyataan yang terjadi.

Mitos-mitos Ibu Bersalin

Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap ibu menjelang persalinan pasti memiliki perasaan campur aduk, apalagi yang dihadapi adalah persalinan pertama. Anda pun berusaha untuk bisa mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya, namun bingung dengan mitos seputar persalinan, baik informasi dari orang lain atau pun dari artikel.

Baca juga: Tips Sehat dan Bugar untuk Ibu Hamil.

Untuk itu di bawah ini akan disampaikan berbagai mitos dan kenyataan, yang bisa Anda pelajari sebagai pertimbangan sehingga tidak khawatir dan bingung dalam melakukan persalinan, antara lain:

1. Mitos: Persalinan selalu diawali dengan pecahnya air ketuban dengan cara yang memalukan, biasanya di tempat umum atau bisa di atas tempat tidur sehingga kasur ternoda.

Kenyataan: Tidak semua proses persalinan spontan diawali dengan keluarnya cairan ketuban. Pada beberapa kasus, seorang ibu mengalami kontraksi mendahului pecahnya ketuban. Bahkan pada sebagian besar kasus, cairan tersebut mengalir keluar dengan perlahan sampai beberapa ibu merasa seperti sedang ngompol. Kalaupun cairan ketuban tersebut tumpah keluar biasanya karena ketuban tertekan oleh kontraksi karena sang bayi sudah mendesak keluar. Oleh karena itu, tidak mungkin bila Anda sedang berjalan santai di mall, tiba-tiba air ketuban keluar seperti air yang sedang tumpah dari gayung.

2. Mitos: Persalinan yang terjadi begitu sangat cepat sehingga Anda harus ngebut agar bisa lekas sampai di rumah sakit.

Kenyataan: Anda boleh berharap mitos itu benar. Hampir yang terjadi pada semua kasus persalinan membutuhkan proses yang panjang. Bahkan  rata-rata persalinan berlangsung antara 18 sampai 24 jam. Ketakutan melahirkan di rumah atau di perjalanan sering menjadikan seorang perempuan pergi ke rumah sakit terlalu cepat. Sebenarnya, malah jeda kontraksi  masih lama. Tetapi, jika persalinan pertama hanya kurang dari 4 jam, ada kemungkinan persalinan berikutnya akan mengalami jeda yang sama. Apabila Anda sudah memasuki tahap kontraksi, hitung waktu lama kontraksi dan jeda antar kontraksi. Setelah jeda kontraksi makin pendek, hubungilah bidan dan kapan waktunya Anda harus ke rumah skait. Apabila sudah waktunya untuk berangkat, tidak perlu terburu-buru. Siapkan segala perlengkapan, jangan sampai ada yang tertinggal hanya karena panik.

3. Mitos: Selama menunggu pembukaan lengkap, calon ibu harus berbaring di ranjang.

Kenyataan: Jika Anda merasa tidak ada masalah atau merasa fit, Anda disarankan untuk tetap bergerak. Anda bisa berdiri dan berjalan sedikit. Jalan kaki bahkan bisa membentu mempercepat pembukaan. Terkadang, pembukaan yang sudah besar tidak menjamin bayi langsung bisa keluar. Posisi kepala bayi yang belum lurus mengarah ke vagina bisa menyebabkan bayi tersendat. Jika Anda mengalami masalah ini, Anda hanya perlu menggoyang pinggul dengan posisi menungging sampai bidan bisa memastikan posisi  kepala bayi siap meluncur keluar.

4. Mitos: Bayi prematur yang lahir pada bulan kehamilan genap lebih rentan masalah.

Kenyataan: Pada prinsipnya, semakin tua usia kehamilan, maka semakin tinggi tingkat survival bayi untuk lahir. Jadi, apabila terdapat dua janin yang sama-sama sehat dan normal lahir pada bulan ke-7 dan bulan ke-8, maka yang lebih baik adalah bayi yang lahir pada bulan ke-8 karena organ-organ tubuhnya sudah lebih matang.

5. Mitos: Anestesi atau suntikan pengurang rasa sakit akan membuat mati rasa dan membuat persalinan menjadi semaki lambat.

Kenyataan: Saat ini sudah ada anestesi yang bisa mengurangi rasa sakit tanpa membuat Anda terasa mati rasa, bahkan Anda bisa merasakan sensasi dorongan mengejan. Proses persalinan tidak akan bertambah panjang dikarenakan anestesi tetapi akan memungkinkan persalinan Anda dibantu oleh alat. Dan anestesi bukanlah faktor yang menentukan cepat atau lamanya dalam persalinan.

6. Mitos: Kaki Anda akan di tempatkan di penyangga sepanjang proses persalinan.

Kenyataan: Anda menggunakan penyangga bila Anda merasa nyaman  atau bila staf medis membutuhkan akses leluasa agar bayi Anda keluar lebih cepat.

7. Mitos: Anda tidak boleh makan dan minum.

Kenyataan: Anda malah disarankan untuk menikmati makanan cemilan yang mudah dicerna. Coklat dan teh bisa menjadi sumber energi agar Anda bisa bertahan melalui persalinan yang panjang.

8. Mitos: Anda kehilangan kontrol kemudian mudah marah pada pasangan.

Kenyataan: Setiap ibu yang melahirkan akan menghadapi masa transisi, yaitu masa setelah kontraksi dan masa sebelum mengejan. Pada masa itu, Anda akan merasa sangat emosional. Ada yang jadi mudah marah, ada yang manja dan banyak sifat lainnya.

Itu dia sedikit mitos dalam persalinan, semoga bisa memberikan pencerahan dan informasi. Ketenangn dan tidak panik menjadi kunci utama agar persalinan berjalan dengan baik.


Firman Seorang blogger yang senang menikmati kopi, traveling, dan menulis.

Belum ada Komentar untuk "Mitos dalam Persalinan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel