Banjir Jakarta, Cerita Dulu dan Sekarang

Beberapa hari ini, sebagian wilayah sudah dirundung hujan, apalagi hujan yang turun pun tidak dalam skala kecil atau hanya sekedar gerimis, namun sangat deras dan cenderung disertai badai. Tentunya kekhawatiran akan terjadinya banjir selalu membayangi benak kita. Berbicara tentang banjir tentu pandangan mata kita selalu tertuju pada ibukota negara kita, yaitu Jakarta. Banjir Jakarta, cerita dulu dan sekarang yang melingkupinya selalu menarik untuk dipelajari. Bahkan tidak hanya itu, banjir yang selalu datang di musim hujan, membuat kebanyakan orang berusaha mencari cara dan solusi agar Jakarta tidak tergenang banjir.

Pembangunan kanal di Batavia (Rijksmuseum: Oudheidkundige dienst) - Foto: abc.

Sebenarnya rasa penasaran tentang Jakarta yang selalu banjir saat musim hujan terjawab saat mencari berbagai referensi tentang banjir di Jakarta. Salah satunya dari tulisan Restu Gunawan, yang saat itu menjadi Staf Ditjen Sejarah dan Purbakala, Depdiknas RI, dan juga pernah dimuat dalam Tabloid Intisari Edisi 535, yang membahas tentang banjir Jakarta.

Banjir Jakarta Hari Ini dan Sejarahnya

Siapa yang mengira kalau banjir di Jakarta ini sering terjadi sejak jaman dahulu kala, bahkan pernah terjadi saat zaman Kerajaan Tarumanegara pada abad ke-12. Berdasarkan temuan arkeologis, banjir di Jakarta dapat diketahui melalui tulisan pada batu tulis ‘Tugu’ yang ditemukan di dekat Tanjung Priok. Batu tulis ini memberikan informasi tentang penggalian sebuah ‘kali yang permai dan berair jernih’. 

Penggalian tersebut dilakukan dalam waktu 21 hari dan dilakukan oleh para Brahmana dengan hadiah 1.000 ekor sapi. Pekerjaan penggalian sungai ini dilakukan pada tahun ke-22 saat Raja Purnawarman bertahta.

Tujuan penggalian tersebut dilakukan untuk mengairi sawah dan menahan banjir (Abdurrahman Surjomihardjo: Perkembangan Kota Jakarta; Jakarta 1973). Apabila melihat angkat pada tahun 1133 pada batu tulis Tugu, hal ini berarti “masalah banjir sudah menjadi perhatian sejak zaman Kerajaan Tarumanegara”.

Baca juga: Jalan Pos Probolinggo Era Daendels.

Selain informasi dari batu tulis Tugu, informasi lain juga berasal dari Peta 'Jayakarta' yang dibuat oleh Dr. JW Ijzerman tahun 1917 yang menunjukkan upaya VOC untuk mengurangi banjir dengan meluruskan Sungai Ciliwung, selain itu juga dengan tujuan untuk memperlancar transportasi dan memperlancar aliran sungai ke Batavia.

Kemenangan Jan Pieterzoon Coen atas Jayakarta, tentu saja menjadikan nama Jayakarta diubah menjadi Batavia. Sehubungan dengan kebijakan VOC dan untuk memperlancar transportasi dari dan ke Batavia, maka dibangunlah kanal-kanal. Yang menarik adalah pada setiap pembangunan kanal selalu dibarengi dengan pembangunan pintu air, pintu air ini berfungsi untuk mengatur debit air yang melewati kota.

Terdapat beberapa kanal, salah satunya adalah Kanal Molenvliet yang dibangun pada tahun 1648, merupakan kanal yang menghubungkan kota dengan kawasan selatan. Kanal ini dibangun atas permintaan Poa Bingam. Saluran ini dibangun untuk pengangkutan hasil hutan di bagian selatan. Kanal ini awalnya bernama 'Bingamsgracht' diubah menjadi nama 'Molenvliet' pada tahun 1661. Kanal ini dimulai dari daerah Glodok ke selatan yang diapit oleh Jalan Gajahmada dan Jalan Hayam Wuruk.

Banyak hal yang menyebabkan banjir di Batavia saat itu, salah satunya adalah terjadinya endapan lumpur yang semakin cepat di kanal-kanal, apalagi sejak meletusnya Gunung Salak pada tahun 1699, yang menyebabkan debit air Ciliwung yang masuk ke kota menjadi semakin kecil.

Hal ini menjadikan Gubernur Diederik Durven pada tahun 1732 memerintahkan pembuatan saluran baru yaitu ‘Mookervart’ dengan tujuan untuk menambah debit air ke kota, namun penggalian saluran baru menimbulkan efek negatif, seperti timbulnya wabah penyakit, tewasnya para kuli, dan juga timbulnya bencana banjir di Batavia. Akibatnya timbul erosi, yang membuat timbulnya endapan di muara dan paya-paya yang menjadikan penuh air sehingga menjadi sarang nyamuk.

Akhirnya pusat kota dipindah ke wilayah selatan pada tahun 1830-an, yaitu ke Weltervreden atau saat ini berada di daerah Monas. Namun, meskipun kota mengalami perkembangan, banjir terus terjadi, bahkan pada tahun 1893, kawasan kampung Kepu, Bendungan, Nyonya Wetan dan Kemayoran masih tergenang air. Banjir juga mengakibatkan Kampung Pluit Belakang, Sawah Besar, Kandang Sapi, Pesayuran, Kebon Jeruk, Tanah Sereal, Tangki Belakang, Tanah Nyonya, Kampung Kepal, Tanah Tinggi, Kemayoran Sawah, Kemayoran Wetan dan Sumur Batu terendam yang mencapai ketinggian 1 meter. (Fitri R. Ghozally; Dari Batavia Menuju Jakarta; Jakarta: 2004).

Namun. siapa yang menyangka, Batavia masih berturut-turut dilanda banjir, bahkan pada tanggal 19 Februari 1909, menurut koresponden De Locomotief, hujan pun sangat deras sehingga kanal-kanal tidak mampu menampung air yang menyebabkan banjir luar biasa.

Pembangunan Kanal, Solusi Mengatasi Banjir Batavia

Sejak terbentuknya Kotapraja Batavia pada tahun 1905, banjir masih menghantui, dan hal ini menginiasiasi dilakukannya penelitian secara menyeluruh terhadap sungai di Batavia sekitar tahun 1911, yang menyangkut sedimentasi dan pengaliran sungai, mulai dari Kali Angke, Pesanggrahan, Ciliwung, Krukut, Cisadane dan Grogol.

Melihat kondisi tersebut, akhirnya ditunjuklah Herman van Breen, seorang Insinyur lulusan Technische Hooge School (saat ini ITB) yang bertugas untuk merencanakan tata air di Batavia. Perencanaan tata air ini dilakukan, dengan alasan:

  • Pembangunan kawasan Menteng.
  • Terjadinya penggundulan hutan di daerah Puncak yag masih terus berlangsug, yang diakibatkan alih fungsi lahan dari hutan menjadi perkebunan teh, yang menimbulkan ancaman banjir bagi Batavia.

Akhirnya dibangunlah pintu air Matraman atau Manggarai yang dimulai tahun 1913 sampai tahun 1919. Selain itu juga dibangun pintu air di Kampung Gusti dan Sunter.

Pembangunan kanal yang fenomenal adalah pembangunan kanal banjir dari Matraman sampai Karet. Namun, meskipun telah dilakukan pembangunan kanal teryata Batavia tetap mengalami banjir secara periodik, yaitu tahun 1918 dan 1923, bahkan pada tahun 1930 sampai tahun 1933, tiap tahun Batavia mengaami kebanjiran.

Itu dia sedikit informasi tentang “banjir Jakarta, cerita dulu dan sekarang”. Ternyata banjir Jakarta sudah terjadi sejak dulu, dan berbagai upaya telah dlakukan. Oleh karena itu, perlu kiranya sebagai warga masyarakat yang baik, kita tidak membuang sampah, kotoran di sungai agar tidak terjadi penyumbatan aliran sungai. Selain itu, juga yang penting adalah memperlakukan sungai di Jakarta sebagai water front yang membuat kita selalu menjaga sungai sebagai sahabat dan saudara yang selalu diperhatikan, agar jangan sampai terjadi dan terulang lagi banjir seperti yang terjadi di masa lalu (Batavia) tahun 1779 yang menjadikan sarang berbagai penyakit.


Firman Seorang blogger yang senang menikmati kopi, traveling, dan menulis.

Belum ada Komentar untuk "Banjir Jakarta, Cerita Dulu dan Sekarang"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel