JALAN POS PROBOLINGGO ERA DAENDELS

Siapa yang mengira kalau ternyata Probolinggo pada Jaman Hindia Belanda adalah daerah yang sangat penting bagi Belanda. Dan tidak hanya itu, Probolinggo juga memiliki sejarah kelam pada masa Pemerintahan Hindia Belanda. Kebanyakan orang hanya mengenal bahwa Probolinggo adalah salah satu daerah yang turut terkena pembangunan jalan untuk infrastruktur yang menjadi ambisi Gubernur Hindia Belanda saat itu, atau lebih dikenal dengan jalan Daendels yang terbentang mulai dari Anyer sampai Panarukan. Jalan pos Probolinggo era Daendels memang dibangun saat itu.

Pembangunan jalan mulai dari Anyer sampai Panarukan  yang digagas General Maasrchalk Herman Willem Daendels menjadi sebuah bukti kearoganan dan kekejaman Belanda pada pribumi saat itu. Meskipun memerintah hanya sebentar sekitar 3 tahun saja, mulai tahun 1808 -1811, namun Daendels menjadi sebuah mimpi buruk yang berkepanjangan bagi rakyat Indonesia. Bagaimana tidak?. Pembangunan jalan yang diinginkan Daendels tersebut telah mengorbankan ribuan nyawa rakyat Indonesia, begitu pula dengan masyarakat Probolinggo.

JALAN POS PROBOLINGGO ERA DAENDELS
Foto pos di setiap Jalan Daendels ( Sumber Foto: tembi)


1. Probolinggo Sebagai Pintu Gerbang Daerah Sebelah Barat Sudut Timur Pulau Jawa.

Daendels memang memiliki ambisi untuk membuat jalan yang bisa membelah Pulau Jawa, mulai ujung barat sampai ujung timur yang sampai sekarang lebih banyak dikenal dengan Jalan Daendels atau grote post weg (jaran raya pos) mulai dari Anyer sampai Panarukan sepanjang 1000 kilometsr, dan jalan ini melewati Probolinggo.
Baca Juga: Desain Rumah Sederhana Khas Mojopahit.
Bukan tanpa alasan mengapa Probolinggo menjadi daerah yang dilewati proyek ambisius Daendels, hal ini dikarenakan sejak zaman Hindu Jawa, saat zaman Hindia Belanda sampai dengan sekarang, Probolinggo masih menjadi pintu gerbang  untuk daerah yang terletak di sebelah barat sudut timur Pulau Jawa. Dan bagi Daendels, tujuan utama membangun jalan poros ini, adalah:
  • Sebagai grote militaire weg atau disebut juga dengan jalan raya militer.
  • Sebagai strategi pertahanan dan mobilisasi pasukan di Pulau Jawa, dengan tujuan untuk mengamankan wilayah kolonial Belanda dari serangan Inggris
Karena sangat pentingnya jalan poros ini, menjadikan proyek jalan ini menjadi proyek yang prestisius, sehingga pembangunan jalan ini dibangun dengan waktu yang singkat hanya dalam waktu satu tahun. Dengan adanya jalan poros ini menjadikan jarak Jawa Barat ke Jawa Timur yang sebelumnya membutuhkan waktu 40 hari, dengan adanya jalan poros ini perjalanan tersebut bisa dicapai hanya dalam waktu satu minggu.

2. Sejarah Kelam Proses Pembangunan Jalan Daendels di Probolinggo

Pembangunan jalan poros di pantai utara Pulau Jawa ini menjadi sebuah bukti sejarah kelam kolonialisasi Pemerintah Hindia Belanda di Indonesia. Daendels mewajibkan seluruh penguasa pribumi lokal, untuk mengerahkan rakyatnya untuk membuka hutan, membelah gunung dan bukit untuk proses pembuatan jalan, dan juga mendirikan pos dengan jarak per pos 4,5 kilometer. Pembangunan pos ini dengan maksud sebagai tempat pemberhentian dan juga penghubung pengiriman surat dan pasukan, baik pasukan Belanda atau pun pasukan yang diambil dari pribumi.

Sejarah kelam kolonialisasi ini juga terjadi, apabila terjadi kegagalan atau tidak melaksanakan perintah Daendels, baik kepada penguasa maupun para pekerjanya, yaitu dengan jalan mengeksekusinya. Eksekusi pun dilakukan dengan kejam, yaitu kepala mereka akan digantung di pucuk pohon di kiri dan kanan ruas jalan.

3. Penjualan Tanah Partikelir dan Pemaksaan Suksesi Kepemimpinan di Probolinggo Oleh Daendels

Berbicara tentang Pemerintahan di Probolinggo, saat Daendels memimpin Hindia Belanda, Probolinggo dipimpin oleh bupati yang bernama Panji Jayadiningrat atau yang juga disebut dengan Raden Tumenggung Joyodiningrat. Dan saat Belanda mengalami defisit keuangan, Daendels membuat sebuah kebijakan untuk menjual tanah partikelir kepada orang cina kaya yang bernama Kapiten Han Tik Ko dari Pasuruan. Defisit ini terjadi karena pengeluaran dana yang sangat besar, yang digunakan untuk biaya perang, menggaji tentara, membangun berbagai proyek besar dan mendirikan sekolah militer, persenjataan, gudang dan juga logistik, namun pendapatan semakin menurun dikarenakan hasil bumi dari Indonesia tidak bisa diekspor keluar karena blokade dari tentara Inggris.
Baca Juga: Alun-alun Kota Probolinggo.
Akhirnya Daendels memutuskan untuk menjual tanah probolinggo termasuk Kraksaan dan juga Lumajang sebagai tanah partikelir, dengan luas 35,5 mil persegi, dengan perincian 382 desa dengan jumlah penduduk 39.982 jiwa, dan Kapiten Han Tik Ko membelinya dengan harga 1 juta ringgit. Yang menyedihkan, Han Tik Ko selain mendapat tanah juga diberi gelar oleh Daendels dengan gelar “Babah Tumenggung” dan dinobatkan juga sebagai Bupati Probolinggo, menggantikan Raden Tumenggung Joyodiningrat.

Dalam perjanjiannya dengan Daendels, Han Tik Ko membayar tanah secara bertahap selama jangka waktu 10 tahun, untuk 20 kali angsuran dibayar setiap enam bulan sekali sebesar 125 ribu gulden. Selain itu, alat pembayaran yang digunakan juga menggunakan batangan perak dan juga berbagai barang seperti opium, kopi, gula, ayam dan juga beras. Untuk bisa memberikan perhitungan dari total piutang dari nilai perak yang telah dibayarkan, Pemerintah Hindia Belanda saat itu menerbitkan semacam kertas obligasi. Surat berharga ini menjadi satu-satunya surat berharga yag pernah ada di Jawa, yang disebut dengan Probolinggo Pappier atau disebut juga dengan uang kertas Probolinggo, dengan jumlah 100 lembar, yang terdiri atas pecahan 100, 200, 300, 400, 500 dan juga 1.000 ringgit.

4. Probolinggo, Sebuah Daerah Kecil Namun Memiliki Peran Sentral

Probolinggo pada jaman dahulu sudah menjadi pintu masuk bagi perekonomian di wilayah timur, seperti kopi, gula, teh dan barang komoditas lainnya. Hal ini yang mengakibatkan Probolinggo pada masa pemerintah Hindia Belanda juga memiliki peran santral yang sangat penting, hal ini dibuktikan dengan dibangunnya banyaknya fasilitas di Probolinggo, antara lain jalan, pelabuhan dan juga stasiun ditambah lagi dengan dibangunnya jalur kereta api yang menghubungkan antar daerah.

Adapun jalan yang dibangun pada jaman pemerintahan Daendels memiliki ciri khas, yaitu jalan yang dibangun banyak yang menyusuri pantai, seperti jalan raya di Desa Tambakrejo, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo sampai Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, yang memiliki kontur jalan lebih tinggi dibandingkan dengan tanah di sisi utaranya. Semua fasilitas yang telah dibangun pada era Daendels dengan tujuan untuk mencegah invasi Inggris ke Indonesia, khususnya Probolinggo.

Itu dia sedikit informasi tentang Jalan pos Probolinggo era Daendels yang sampai saat ini masih ada dan memiliki sejarah kelam bagi rakyat Indoneisa, khususnya rakyat Probolinggo.

Firman Seorang blogger yang senang menikmati kopi, traveling, dan menulis.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel