Resensi Novel “Ketika Cinta Bertasbih – Buku 1 Dwilogi Pembangun Jiwa”

Apa yang Anda bayangkan tentang novel karya penulis yang satu ini? Ya benar novel karya Kang Abik atau Habiburrahman El Shirazy ini memang memberikan kisah menarik, tidak hanya menarik, namun memberikan kisah yang penuh makna. Belum hilang pesona novel karya Kang Abik sebelumnya, yaitu Ayat-ayat Cinta, kini novel “Ketika Cinta Bertabih” menjadi penawar dahaga. Hal ini bisa kita lihat, begitu banyak penggemar novel Ketika Cinta Bertasbih, hal ini terlihat dari penjualan novel ini yang luar biasa. Tertarik dengan kisah novel ini, maka di bawah ini disampaikan resensi novel “Ketika Cinta Bertabih – Buku 1 Dwilogi Pembangun Jiwa”.

Resensi Novel “Ketika Cinta Bertasbih – Buku 1 Dwilogi Pembangun Jiwa”
Novel "Ketika Cinta Bertasbih"

Membaca karya Kang Abik, seolah membaca sebuah karya tulis yang berisi tentang arti ketulusan dan cinta yang begitu apa adanya. Hal inilah yang menjadi modal dasar Kang Abik dalam melahirkan karya-karyanya, begitu pula dalam novel “Ketika Cinta Bertasbih Buku 1” ini. Yang menarik adalah terdapat sisi kekuatan yang bisa Anda baca secara total dalam novel karya Kang Abik ini, apalagi dalam novel ini tidak hanya dieksplore tentang pentingna menimba ilmu agama, namun juga mengeksplor tentang kisah santri salaf yang sadar akan entrepreneurship. Hal ini mengambil dari Prolog yang disampaikan Prof. Laode M. Kamaluddin, Ph.D. yang menyebut Azzam sebagai tokoh utama yang juga seorang santri yang sadar akan entrepreneurship.

Identitas Buku:

  • Judul: Ketika Cinta Bertasbih – Buku 1 Dwilogi Pembangun Jiwa.
  • Penulis: Habiburrahman El. Shirazy
  • Penerbit: Republika – Basmalah Republika Corner.
  • Tahun terbit : Cetakan ke-1 Februari 2007 dan Cetakan ke-13, April 2008 2010.
  • Tebal buku: 483 halaman.
  • ISBN: 978-979-3210-84-1.

Resensi Buku “Ketika Cinta Bertasbih – Buku 1 Dwilogi Pembangun Jiwa”

Kisah ini diawali seorang Khairul Azzam atau yang biasa dipanggil dengan Azzam yang merupakan mahasiswa Indonesia di Al Azhar yang merupakan penerima beasiswa dari Departemen Agama Indonesia. Azzam sendiri adalah seorang anak Indonesia  yang pintar, cerdas dan bersahaja, namun lahir dari keluarga pas-pasan, yang merupakan ciri khas anak Indonesia yang cerdas, namun dari keluarga biasa. Kecerdasan Azzam ini terbukti, saat di tahun pertama mengenyam bangku kuliahnya di Al Azhar yang memperoleh predikat jayyid jiddan atau istimewa dan karena prestasi ini Azzam sampai mendapat beasiswa dari Majlis A’la.

Namun terdapat hal berbeda, saat di tahun kedua, ayah Azzam di Indonesia  meninggal dunia karena kecelakaan. Semenjak ditinggal ayahnya, ibu Azzam sering sakit-sakitan, dan hal ini pula yang menjadikan Azzam berupaya agar bisa membantu ibunya, hal ini disebabkan ketiga adik perempuannya belum bisa diharapkan untuk membantu ibunya karena belum dewasa. 

Baca juga: Resensi Novel “Ayat-ayat Cinta”.

Sebagai anak sulung, Azzam pun menyadari posisinya, sehingga semenjak saat itu Azzam mengalihkan konsentrasinya, dari belajar hingga bekerja, sehingga pa yang dilakukan Azzam di Cairo adalah bekerja sambil belajar. Pekerjaan yang dilakukan Azzam untuk menghidupi keluarganya di Indonesia adalah berbisnis tempe dan bakso. Kunci sukses dalam berbisnis yang dilakukannya adalah “Konsentrasi penuh” pada pekerjaannya. Dan jangan ditanya hasilnya, sungguh luar biasa. 

Dibalik kesuksesan pasti ada pengorbanan, begitu pula dengan Azzam, dibalik pengorbanannya untuk keluarga di Indonesia sampai membuat prestasinya menurun, beberapa kali tidak naik tingkat, bahkan sampai 9 tahun di Mesir, dan belum lulus juga dari S1-nya. Namun, pada akhirnya Azzam lulus juga dengan predikat yang tidak mengecewakan, jayyid.

Dibalik pengorbanan yang dilakukan Azzam, hal tersebut menjadi motivasi bagi keluarganya di Indonesia, adik-adiknya sukses karena motivasi dan biaya hidup dari Azzam, dari berjualan tempe dan bakso. Husna berhasil menjadi psikolog dan juga menjadi penulis terbaik nasional, sedangkan Lia sudah lulus PGSD, dan menjadi guru favorit di SDIT Al-Kautsar Solo. Dan Sarah, si bungsu sedang menghafalkan Quran di Pesantren Al-Quran di Kudus.

Tentunya terdapat sisi menarik yang bisa diambil dalam kisah Azzam bahkan bagaimana kekuatan motivasi dalam diri Azzam yang menjadikan dirinya kuat.

Kelebihan Novel Ketika Cinta Bertasbih – Buku 1 Dwilogi Pembangun Jiwa

Diantara berbagai novel yang ditulis oleh Kang Abik, baru dalam Novel “Ketika Cinta Bertasbih” sebagai novel pembangun jiwa yang memberikan sentuhan semangat dan motivasi berwirausaha bagi kaum muda, hal ini tercermin dalam kehidupan Azzam, faktor kepepet dan harus hidup, termasuk menghidupi keluarganya di Indonesia menjadikan jiwanya tertempa menjadi jiwa yang kuat dan lebih dewasa.

Resensi Novel “Ketika Cinta Bertasbih – Buku 1 Dwilogi Pembangun Jiwa”;Resensi Buku “Ketika Cinta Bertasbih – Buku 1 Dwilogi Pembangun Jiwa”;
Novel "Ketika Cinta Bertasbih"

Mengambil dari Prolog yang disampaikan Prof. Laode M. Kamaluddin, Ph.D., Azzam disebutkan sebagai anak muda yang memiliki ruh atau jiwa entrepreneur sejati, hal ini seperti yang disampaikan oleh John Kao dalam Entrepreneurship, Creativity and Organization, juga oleh Raymond Kao dalam Defining Entrepreneurship. Ruh entrepereneur sejati yang dimaksudkan disini, seperti kreatif menciptakan dan mengemas ide baru untuk kemakmuran diri dan orang-orang yang dicintainya (kreatif-inovatif), berani mengambil risiko, suka pada tantangan, memiliki daya tahan hidup yang luar biasa, pantang menyerah dan putus asa, selalu ingin menjadi dan menyuguhkan yang terbaik, dan juga memiliki visi yang jauh ke depan.

Kekurangan Novel Ketika Cinta Bertasbih – Buku 1 Dwilogi Pembangun Jiwa

Bagi saya, novel ini luar biasa. Pada dasarnya tidak ada kekurangan yang berarti, hanya pemilihan lokasi dan latar yang hampir sama dengan novel sebelumnya yaitu “Ayat-ayat Cinta”.

Itu dia, sedikit resensi novel “Ketika Cinta Bertasbih – Buku 1 Dwilogi Pembangun Jiwa”, semoga bermanfaat, menghibur dan menginspirasi kita semua. 

Firman Seorang blogger yang senang menikmati kopi, traveling, dan menulis.

Belum ada Komentar untuk "Resensi Novel “Ketika Cinta Bertasbih – Buku 1 Dwilogi Pembangun Jiwa”"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel