Resensi Novel “Ayat-ayat Cinta”

Buku atau novel ini sudah lama sekali teronggok di lemari buku disela-sela koleksi novel terbaik yang ditulis para satrawan dan penulis Indonesia. Ayat-ayat Cinta menjadi novel terbaik yang saya beli di tahun 2008. Pada awalnya karena iseng dan tertarik dengan filmnya yang saat itu sangat booming, karena ingin tahu bagaimana dengan isi cerita yang ada di novel. Ternyata isinya luar biasa, berulang kali membaca dan baru kali ini menulis resensi novel “Ayat-ayat Cinta” karya kang Abik atau Habiburrahman El Shirazy, seolah terbawa suasana Mesir yang menggelora panas namun tetap semangat untuk menuntut ilmu.

Di awal novel, dengan mengambil komentar Ustadz H. Abu Ridho dalam bedah buku “Ayat-ayat Cinta”, yang menyampaikan bahwa “Ayat-ayat Cinta” adalah novel yang sangat bagus dan lengkap kandungannya. Bukan hanya novel sastra dan novel cinta, namun juga novel politik, novel budaya, novel reliji, novel etika, novel fikih, novel bahasan dan novel dakwah. Menjadikan novel karya Kang Abik ini sangat bagus untuk dibaca siapa saja.

Selain itu, tidak kalah bagusnya juga adalah komentar dari Inspiring Words for Writter, edisi Juli 2005, yang menyampaikan tentang keindahan novel karya Kang Abik ini, “Ambiilah novel Ayat-ayat Cinta dan masuki keindahannya, niscaya akan engkau dapati luasnya pengetahuan dan goresan pena yang penuh gizi. Kadang ia mengundang air mata, tetapi ujungnya tetap ilmu yang berguna. Kadang ia membuat hati kita tergoda, tetapi nafasnya tetaplah ajakan untuk kembali pada agama yang mulia. 

Resensi Novel “Ayat-ayat Cinta”;
Novel “Ayat-ayat Cinta”

Identitas Buku:

  • Judul buku: Ayat-ayat Cinta 
  • Nama pengarang: Habiburrahman El Shirazy.
  • Penerbit: Penerbit Republika dan Pesantren Basmala Indonesia.
  • Tahun terbit: Desember 2004 (Cetakan I) dan Cetakan XXV Februari 2008
  • Ketebalan: 404 halaman.
  • Nomor edisi buku: 979-3604-02-6

Resensi Buku “Ayat-ayat Cinta” Karya Habiburrahman El Shirazy

Baru kali ini saya membaca buku yang tidak lekang ditelan waktu, novel ini adalah gambaran kehidupan yang selalu ingin dicapai oleh hamba Alloh menuju kehidupan yang tentram dan bijak walaupun banyak rintangan yang harus dilalui. Tokoh-tokoh dalam novel Ayat-ayat Cinta menjadi tokoh yang menginspirasi seperti Fahri begitu pula dengan tokoh wanitanya seperti Aisha dan Maria.

Dengan mengambil Prolog yang ditulis oleh Hadi Susanto seorang pemerhati sastra dan juga Doktor dari Twente Universiteit, Belanda, tentunya mewakili secara keseluruhan keindahan novel Ayat –ayat Cinta ini.

“Begitu menariknya novel Ayat-ayat Cinta ini, pada halaman pertama dibuka dengan cerita suasana Mesir yang panas. Dari sinilah masuk tokoh utama yang dikenalkan kepada pembaca melalui rangkaian kegiatan sehari-hari tokoh Fahri. Penggambaran suasana kehidupan kota Mesir menjadi latar belakang yang mengesankan, pembaca seperti melihat langsung Mesir dengan suasana panas 41 derajatnya, begitu pula dengan mahattah atau stasiun-stasiun di Mesir.

Baca juga: Resensi Antologi Cerpen “Taman Hujan”.

Suasana yang dibangun juga diperkental dengan digunakannya bahasa Arab fusha (formal) maupun ‘amiyah (informal) pada hampir disetiap paragrafnya. Ungkapan-ungkapan dalam bahasa Arab pasaran yang digunakan di sana-sini berhasil membawa pembaca ke dalam setting novel.

Juga menurut Hadi Susanto, judul novel yang mengandung kata “Cinta”, tidak lengkap jika tidak membahas tentang kesan dimana novel ini juga mengandung sebuah novel romantis. Sebagai bagian dari novel asmara, kisah ini ditunjukkan dengan kehidupan Fahri dengan kisah hubungan lelaki dan perempuan. Bagaimana perasaan Fahri diceritakan dengan baik saat harus menjadi rebutan tiga orang perempuan, antara Aisha, Nurul dan juga Maria. 

Pada bagian cerita bulan mau Fahri dan Aisha yang digambarkan dengan terjadinya adegan percintaan yang merupakan bagian penting dari novel asmara. Disini pula kelebihan novel yang menceritakan hubungan suami istri namun tidak terjatuh dalam suasana yang vulgar.

Kelebihan Novel “Ayat-aya Cinta”

Rasanya membaca dan memahami novel karya Kang Abik banyak pelajaran yang bisa didapatkan, seperti bagaimana menjalani hidup saat dirantau, atau menghargai hasil jerih payah orang tua agar seseorang bisa sekolah sampai dengan impian tertinggi.

Baca juga: Resensi Novel “Langit Merah Muda”.

Terdapat banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah para tokoh, antara lain:

  • Hidup di negeri orang harus saling mambantu dan melengkapi. Itulah inti persaudaraan, tanpa orang lain mana mungkin bisa hidup dengan lebih baik.
  • Mengutip yang disampaikan Imam Syafii, “Memenuhi segala kecocokan dengan hati nurani manusia adalah hal yang tidak mungkin kamu capai.
  • Merencanakan hidup seperti yang dilakukan Fahri menjadi contoh bagaimana impian harus diraih dan harus direncanakan. Peta masa depan berangkat dari semangat spiritual ayat suci Al-Quran Surat Ar-Ra’ad ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kamu kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya.”
  • Hal ini juga sama dengan yang disampaikan Thomas Carlyle, “Seseorang dengan tujuan yang jelas akan membuat kemajuan walaupun melewati jalan yang sulit. Seseorang yang tanpa tujuan, tidak akan membuat kemajuan walaupun ia berada di jalan yang mulus.”
  • Bergaullah dengan orang yang baik, hal ini sesuai dengan pepatah, “dekat dengan penjual minyak akan mendapatkan wanginya.”
  • As you sow, so will you reap!” Pepatah Inggris, mengatakan “apa yang Anda tanam, begitu pula yang akan Anda petik”. 
  • Kecintaan dan hormat atas sosok Ibu, yang disampikan Fahri, dari penggabungan dua petikan sajak Fatin Hamam yang berjudul ‘Aku ingin ibu’ dan ‘ibu’ yang terdapat dalam kumpulan puisi ‘Papyrus”, “Oh ibu, jika engkau adalah matahari, aku tak ingin datang malam hari. Jika engkau adalah embun, aku ingin selalu pagi hari. Ibu, durhakalah aku, jika ditelapak kakimu tidak aku temui sorga itu.”
Dan berbagai hikmah yang luar biasa yang bisa kita petik dari novel Ayat-ayat Cinta.

Kekurangan Novel “Ayat-ayat Cinta”

Saya tidak tahu apa kekurangan dari kisah novel “Ayat-ayat Cita” ini, karena sepertinya tidak ada kekurangan atas seluruh kisah yang disampaikan Kang Abik dalam novel ini. Sama halnya dengan berbagai kisah novel romantis lainnya, yang selalu berakhir happy ending atas tokoh utama.

Itu dia sedikit resensi novel “Ayat-ayat Cinta”, semoga memberikan informasi untuk Anda, yang ingin mendapatkan dan membaca kembali novel menarik karya Habiburrahman El Shirazy.


Firman Seorang blogger yang senang menikmati kopi, traveling, dan menulis.

Belum ada Komentar untuk "Resensi Novel “Ayat-ayat Cinta”"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel