Resensi Novel “Negeri 5 Menara”

Sudah berulang kali membaca novel ini, bisa dikatakan sangat senang dengan isi dan hikmah yang terkandung dalam cerita novel ini, meskipun sudah diterbitkan sejak lama yanitu sekitar tahun 2009, namun isinya yang sangat menginspirasi, yang pada akhirnya ingin mengulas sedikit, berupa resensi novel “Negeri 5 Menara”. Sebagai novel yang merupakan kisah nyata dan kisah hidup dari penulis, yaitu A. Fuadi, yang mengisahkan kisah hidup menuntut ilmu di sebuah pondok, yang pada akhirnya mematikan stigma negatif tentang pondok, dan menjadikan pondok saat ini menjadi sebuah destinasi belajar favorit bagi masyarakat.

Sangat menarik, sangat menantang dan yang terakhir adalah ada rasa terharu saat memabca novel ini, rasa yang campur aduk, seperti mengajak pembaca untuk menikmati kisah yang ada dalam novel ini. Tidak hanya itu, pembaca serasa diajak masuk dan membayangkan kisah yang terjadi dalam dunia pondok, yaitu PM Madani Gontor. Novel ini memang luar biasa yang terinspirasi dari pengalaman penulis (A.Fuadi) saat menikmati pendidikan di Pondok Modern Gontor. Selain itu, semua tokoh utama merupakan sosok terinspirasi dan sosok asli, dan tokoh lainnya adalah gabungan dari beberapa karakter yang sengaja diciptakan oleh penulis.

Identitas Buku:

  • Judul: Negeri 5 Menara
  • Penulis: A. Fuadi.
  • Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.
  • Tahun terbit : Cetakan pertama JUli 2009, Cetakan keenam April 2010.
  • Tebal buku: 423 halamn
  • ISBN: 978-979-22-4861-6

Resensi Buku “Negeri 5 Menara”

Sebagai buku yang sangat menginspirasi, buku ini harus Anda baca. Bagaimana tidak, begitu banyak kata-kata positif yang memotivasi, bahkan pada bagian awal sebelum masuk Bab 1 saja, sudah disampaikan kata mutiara dari ulama terkenal yang diajarkan kepada siswa pada tahun keempat di Pondok Modern Gontor, sebagai berikut:

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman.

Tinggalkan negeirmu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.


Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan

JIka mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.


Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran.


JIka matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang


Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan. 

- Imam Syafi’i -

Itu baru kalimat pembuka, yang memiliki makna mendalam yang memberikan semangat bagi para pembaca novel ini untuk terus membaca. Kisah hidup Alif ini diawali dengan kisah flashback, yang menceritakan bagaimana seumur hiduypnya Alif yang tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau dan masa kecilnya dilalui dengan berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain bola di sawah dan mandi di air biru di Danau Maninjau. Yang tiba-tiba karena harapan seorang Amak yang memiliki impian besar, mengharuskan Alif harus melintasi punggung Sumatera menuju sebuah desa pelosok di Jawa Timur. Amak yang merupakan ibunya menginginkan Alif menjadi seorang Buya Hamka, meskipun sebenarnya Alif ingin menjadi seorang Habibie. Dengan setengah hati Alif mengikuti perintah Anak untuk belajar di pondok.

Resensi Novel “Negeri 5 Menara”;Resensi Buku “Negeri 5 Menara”;
Novel “Negeri 5 Menara”

Di hari pertama di PM (Pondok Madani), Alif sangat terkesima dengan mantera sakti “Man jadda wajada”, yang berarti “Siapa yang bersungguh sungguh pasti sukses”. Bahkan yang menarik dan terkadang bisa membuat tertawa sendiri saat membaca novel ini adalah bagaimana seorang Alif Fikri bersama temann-temannya yang meruakan Shohibul Menara yang kemudian dipersatukan dengan hukuman jewer berantai, yang membuat Alif berteman dengan kawan-kawan dari penjuru Indonesia, Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep,  Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid, yang menjadikan mereka sebagai shohibul menara menjadikan tempat itu sebagai tempat untuk memimpikan tujuan dan harapan setelah menyelesaikan pendidikan di PM Madani. Bagi Alif Fikri dan kawan-kawan, mimpi dan impian adalah sesuatu yang tidak boleh diremehkan, walau setinggi apa pun, Tuhan sungguh Maha Pendengar.

Baca juga:  Resensi Novel “Ayat-ayat Cinta”.

Begitu banyak kisah menarik dan menantang yang bisa Anda baca dan dipahami, makna tersirat yang ada dalam novel “Negeri 5 Menara” ini. Buku ini merupakan buku pertama dari sebuah trilogi yang ditulis oleh A. Fuadi, mantan wartawan TEMPO & VOA, yang juga sangat menyukai fotografi dan pernah menjadi Direktur Komunikasi di sebuah NGO Konservasi. A. Fuadi adalah alumni Pondok Modern Gontor, HI Unpad, George Washington University dan juga Royal Holloway, University of London.

Kelebihan Novel “Negeri 5 Menara”

Secara umum, novel ini memberikan sebuah kisah perjalanan yang sangat menarik, bahkan dari beberapa pengalaman pembaca novel ini juga memberikan catatan positif yang diksinya sekelas dengan ramuan kata-kata Andrea Hirata, dengan deskripsi yang sebening dengan novel Ayat-ayat Cinta.

Tidak hanya itu, novel ini juga seperti memaksa pembaca untuk merekatkan kembali sebuah impian, mulai dari keinginan untuk menghafal Al-Quran sampai impian untuk belajar ke luar negeri.

Berbicara tentang pondok sebagai tempat pendidikan, Novel Negeri 5 Menara ini sangat menunjukkan bahwa pondok saat ini berbeda dengan pondok yang dulu. Hal ini bisa terlihat pada halaman 20 yang mendeksripsikan gambaran pondok dalam protes yang disampaikan Amak, bahwa banyak orang melihat bahwa pondok adalah buat anak yang cacat produksi, baik karena tidak mampu menembus sekolah umum yang baik, atau karena salah gaul dan salah urus. Sehingga pondok hanya dijadikan bengkel untuk memperbaiki yang rusak, bukan dijadikan sebagai tempat untuk menyemai bibit unggul.

Resensi Novel “Negeri 5 Menara”;Resensi Buku “Negeri 5 Menara”;Kelebihan Novel “Negeri 5 Menara”;
Novel “Negeri 5 Menara”

Selain kisahnya yang sangat menarik, berbagai kata-kata didalamnya seolah memotivasi bagi siapa saja yang ingin sukses, yaitu:

  • Kompas kehidupan yaitu “Man Jadda Wajada”, yang berarti “Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil”.
  • Man shabara zhafira” yang berarti  “Siapa yang bersabar akan beruntung”. Jangan risaukan penderitaan hari ini, jalani saja dan lihatlah apa yang akan terjadi di depan. Karena yang dituju bukan sekarang, namun ada yang lebih besar  dan prinsipil, yaitu menjadi manusia yang telah menemukan misinya dalam hidup.
  • Man thalabal ‘ula sahiral layli”, yang bermakna “Siapa yang ingin mendapatkan kemuliaan, maka bekerjalah sampai jauh malam”.

Baca juga: Resensi Antologi Cerpen “Taman Hujan”.

Terdapat dua hal penting dalam mempersiapkan diri untuk sukses, yaitu going the extra miles. Tidak menyerah dengan rata-rata. Lebihkan usaha, waktu, upaya, tekad dan sebagainya dari pada orang lain. Yang kedua, yaitu tidak pernah mengizinkan diri ini dipengaruhi oleh unsur di luar diri. Oleh siapa pun dan suasana bagaimana pun. Artinya jangan mau sedih, marah, kecewa dan takut karena ada faktor di luar, kita yang berkuasa terhadap diri kita sendiri, jangan serahkan kekuasaan kepada orang lain. Orang boleh menodong senapan, tapi kita punya pilihan, untuk takut atau tetap tegar.

Yang terakhir sebagai catatan positif adalah Petuah Kiai Rais yang bisa memberikan semangat kepada siapa saja untuk sukses, yaitu “Jangan puas jadi pegawai, tapi jadilah orang yang punya pegawai”.

Kekurangan Novel “Negeri 5 Menara”

Berbicara tentang kekurangan sebuah karya, tentunya pasti ada. Namun dari berbagai novel yang pernah Saya baca, meskipun ada kekurangan, namon novel karya A, Fuadi ini hampir tidak ada celah, mulai dari diksi deskripsi atau bahkan tulisan semuanya sempurna. Oleh karena itu, saya mengacungkan jempol untuk A. Fuadi, meskipun novel ini sudah diterbitkan sangat lama, namun masih enak dan layak untuk dijadikan sebagai sumber informasi dan cerita menarik

Itu dia sedikit resensi novel “Negeri 5 Menara” karya A. Fuadi, semoga bermanfaat dan menginspirasi kita semua. 


Firman Seorang blogger yang senang menikmati kopi, traveling, dan menulis.

Belum ada Komentar untuk "Resensi Novel “Negeri 5 Menara”"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel