Mengenal SGOT-SGPT

Apakah Anda pernah mendengar istilah kesehatan yang satu ini, SGOT-SGPT? Bagi Anda yang terbiasa untuk melakukan check-up kesehatan, tentu istilah ini sudah sangat dikenal. Namun apa sebenarnya maksud yang disebutkan tersebut? Mengenal SGOT-SPGT, menjadi pembahasan menarik kali ini.

mengenal-sgot-sgpt
Ilustrasi (Gambar: orami.co.id)

Sebenarnya dengan semakin mudahnya informasi didapatkan, baik dari media sosial, media cetak dan juga media lainnya. Istilah tersebut sangat mudah didapatkan. Bahkan di media cetak, salah satunya di Majalah Intisari Edisi Nomor 516 yang ditulis oleh M. Sholekhudin, menyebutkan bahwa SGOT-SGPT sering membuat orang kecele dengan hasil yang diberikan.

SGPT - SGOT adalah Enzim Transaminase

Dalam dunia kesehatan, istilah SGOT-SGPT memang bukan istilah yang baru. Apa sebenarnya SGOT-SGPT itu?

SGOT-SGPT merupakan dua enzim transaminase yang dihasilkan terutama oleh sel-sel hati. Bila sel-sel liver rusak, misalnya disebabkan karena hepatitis atau sirosis, biasanya kadar kedua enzim ini akan meningkat.

Oleh karena itulah, melalui hasil tes laboratorium, kedua enzim ini dianggap memberikan gambaran adanya gangguan pada hati.

Baca juga: Pre-Eclampsia dan Gejalanya.

Kadar SGOT-SGPT, menurut dr Rino A. Gani, SP.PD-KGEH, seorang hepatolohg Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menyampaikan bahwa kadar SGOT-SGPT memang mudah naik turun. Bisa saja saat diperiksa, kadarnya sedang tinggi, namun setelah itu kembali normal.

Oleh karena itu, belum bisa dijadikan pedoman untuk membuat kesimpulan

Dalam bahasa medis, SGOT (serum glutamic-oxaloacetic transaminase) dan SGPT (serum glutamic-pyruvic transaminase) sebenarnya memiliki banyak nama lain.

Di kalangan hepatolog, seperti George Lau dan Rino A. Gani, kedua nama ini jarang dipakai. Sebagai gantinya, mereka menggunakan ALT (alanine transaminase) untuk menyebut SGPT. Sedangkan untuk SGOT, disebut AST (aspartate transaminase). Kedua cara penyebutan ini sama, tidak ada yang berbeda.

Jenis Gangguan Hati

Gangguan hati sendiri bentuknya juga bermacam-macam, dengan jumlah penderita yang sangat banyak. Jumlah pengidap hepatitis C saja sekitar 3% dari populasi, belum termasuk Hepatitis A dan Hepatitis B yang jumlahnya jauh lebih banyak. Apalagi jika ditambah dengan perlemakan hati, sirosis, intoksikasi obat, fibrosis hati, dan berbagai penyakit lainnya.

Penyakit seperti yang disebutkan di atas umumnya ditandai dengan peningkatan angka SGOT-SGPT. Namun, kedua enzim tidak 100% dihasilkan oleh liver. Sebagian kecil juga diproduksi oleh sel otot, jantung, pankreas dan ginjal. Itu sebabnya, bila sel-sel otot mengalami kerusakan, maka kadar kedua enzim ini akan meningkat.

Rusaknya sel-sel otot bisa disebabkan oleh banyak hal, misalnya aktivitas fisik yang berat, luka, trauma, atau bisa karena kerokan. Ada banyak hal faktor yang bisa menyebakan kenaikan SGOT-SGPT.

Dibandingkan dengan SGOT. SGPT lebih spesifik menunjukkan ketidakberesan pada sel hati, karena SGPT hanya sedikit diproduki oleh sel nonliver. Biasanya faktor nonliver tidak menaikkan SGOT-SGPT secara drastis. Umumnya, memang tidak sampai 100% di atas BAN (Batas Ambang Normal).

Mengetahui Mekanisme Pertahanan Diri Pada Hati

Seperti organ lainnya, maka hati memiliki mekanisme pertahanan diri. Saat diserang virus, maka hati berusaha untuk melawan. Bila kalah, hati memiliki dua pilihan: berjuang sampai mati atau bunuh diri. Pada hepatitis A dan B, hati mengambil pilihan berjuang sampai mati.

Begitu sel-sel liver mati, dindingnya jebol, dan akhirnya hati mengalami peradangan. Kondisi ini menyebabkan naiknya kadar SGOT-SGPT di dalam darah. Karena kadarnya meningkat, maka dokter mudah untuk mendiagnosis.

Namun pada Hepatitis C menjadi lebih kompleks, karena tidak semua sel hati merespons kekalahan dengan tetap berjuang sampai mati. Sebagian mengalami apotosis (programmed cell death), atau berarti bunuh diri secara terencana, hal ini dimaksudakan, sel-sel liver berusaha membunuh virus secara tidak langsung.

Salah satu kelemahan virus yaitu tidak memiliki mekanisme sendiri dalam berkembang biak. Virus ini berkembang biak dengan cara memanfaatkan mekanisme hidup sel makhluk hidup lainnya.

Dalam kasus hepatitis, sel yang ditumpangi adalah sel-sel liver. Dengan membunuh dirinya sendiri, maka sel liver berusaha membuat virus tidak bisa berkembang biak.

Karena sel membunuh dirinya sendiri, sel-sel hati tidak pecah, tapi menciut. Yang terjadi selanjutnya buka proses peradangan, melainkan pengerutan, karena liver tidak meradang, kadar SGPT menjadi tidak terpengaruh. Itu yang menyebabkan penderita hepatitis C bisa memiliki kadar SGPT normal, meskipun sebenarnya menderita penyakit kronis.

Menurut dr Rino, SGOT-SGPT hanya menggambarkan tingkat kerusakan sel hati. Kedua enzim tersebut tidak bisa mengambarkan tingkat kemampuan sel hati untuk meregenerasi dirinya.

Dalam kondisi normal, sel-sel tubuh memiliki kemampuan regererasi. Jika rusak, mereka akan menggantinya dengan sel-sel baru. Kemampuan regenerasi ini yang akan mengimbangi kerusakan sel.

Itu dia sedikit informasi tentang “mengenal SGOT-SGPT”. Semoga informasi tersebut bermanfaat dan menjadi referensi tentang menjaga kesehatan tubuh kita.

Belum ada Komentar untuk "Mengenal SGOT-SGPT"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel