Resensi Buku “Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)”

Apa yang ada di benak Anda saat pertama kali membaca cover judul buku “Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)”? Pokoknya jangan sampai ada pikiran kotor, saat Anda membaca kumpulan cerpen ini. Begitu pula dengan resensi buku “Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)” ini semoga sedikit banyak bisa membedah isi buku ini.

resensi-buku-jangan-main-main-dengan-kelaminmu
(Gambar: Dokumen Pribadi)

Tentunya banyak hal menarik yang akan membuat Anda tertarik untuk membaca buku lama karya dari Djenar Maesa Ayu ini.

Identitas Buku:

  • Judul Buku: Jangan Main-main (dengan Kelaminmu).
  • Penulis: Djenar Maesa Ayu.
  • Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.
  • Cetakan: Kelima, November 2005.
  • Jumlah Halaman: 122 halaman.
  • ISBN: 979-22-0670-1

Resensi Buku Non Fiksi “Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)

Buku “Jangan Main-main (dengan Kelaminmu) karya Djenar Maesa Ayu adalah buku yang berisi kumpulan cerpen yang khusus untuk dibaca bagi mereka yang sudah cukup umur atau sudah dewasa.

Kumpulan cerpen ini menampilkan satu dunia yang dipadati oleh manusia yang terluka, marjinal dan terkhianati. Tidak ada pijakan kokoh dalam dunia ini, dimana komitmen bisa berubah setiap saat, ikatan yang tidak mengikat, dan logika yang tidak punya validitas.

Karakter-karakter yang muncul dalam cerpen karya Djenar Maesa Ayu ini bisa dikatakan hampir semuanya antihero, dan jangan berharap karakter ini akan membawa berita segar, dan jangan pula mengira mereka mengemis pengertian ataupun empati kita. Karena mereka eksistensialis, karakter penuh paradoks, yang tercipta dari lingkungan yang brutal. Dan tentu saja mereka adalah steel magnolia di tengah kehidupan kita.

Dengan mengikuti perjalanan karakter-karakter dalam cerpen tersebut, sangat terasa bila mengikuti para tokoh dalam perjalanan yang krusial, sehingga kita bisa belajar sedikit tentang diri kita, beban yang ditumpukkan di bahu kita oleh teman-teman, pasangan atau bahkan lingkungan pergaulan kita.

Dalam cerpen yang berjudul “Saya di Mata Sebagian Orang”, tokoh utamanya seolah menghardik masyarakat yang mendakwanya dengan kebenaran seseorang yang merasa berhak untuk memilih cara hidupnya:

Sebagian orang menganggap saya munafik. Sebagian orang menganggap saya pembual. Sebagian lagi menganggap saya sok gagah. Sebagian lagi menganggap saya sakit jiwa. Sebagian lagi menganggap saya murahan! Padahal saya tidak pernah merasa munafik. Tidak pernah merasa membual. Tidak pernah merasa sok gagah. Tidak pernah merasa sakit jiwa. Tidak merasa murahan!”

Setelah pembelaan tersebut, karakter saya kemudian menceritakan bagaimana ia bertemu dengan lelaki dan dalam keintiman pertemanan itu ia pun bersetubuh dengan mereka.

Saya melakukannya karena saya mau, bukan karena paksaan. Saya menikmati kebersamaan kami. Menikmati tiap detail manis yang kami alami. Makan malam di bawah kucuran sinar rembulan dan keredap lilin di atas meja. Percakapan yang mengasyikkan penuh canda dan tawa. Sentuhan halus di rambut saya. Kecupan mesra di kedua mata, hidung, pipi dan bibir yang berlanjut dengan ciuman panas membara lantas berakhir dengan rapat tubuh kami yang basah berkeringat di atas tempat tidur kamar hotel, di dalam mobil, di taman hotel, di toilet umum, di dalam elevator, di atas meja kantor atau di dalam kamar karaoke.”

Tentu saja ia tidak melakukan itu dengan hanya satu teman, tapi dengan semua temannya. Perilaku yang tentu saja tidak akan mengundang simpati, tetapi memang bukan simpati yang diharapkan. Karena dalam keadaan sekarat pun pada akhir cerpen itu, ia masih berang dan membela cara hidupnya dengan pernyataan ini:

Karena, ketika saya positif mengidap HIV ternyata saya masih punya banyak teman yang setia menyiapkan air hangat untuk bilas badan. Mengirim makan siang. Menemani makan malam. Mendongeng tentang sebuah peristiwa lucu di suatu cafe. Bercerita tentang film yang baru saja diputar, membayar ongkos perawatan, ketika sebagian orang sibuk bergunjing atas akibat yang saya terima karena saya munafik. Pembual. Sok gagah, Sakit jiwa. Murahan!”

Ironinya, hingga detik-detik terakhir pun ia sama sekali tidak menyesali apa yang terjadi pada dirinya. Tidak juga marah pada teman-temannya yang sebenarnya adalah penyebab utama ia mengidap HIV.

Hal ini adalah salah satu paradoks karakter-karakter Djenar yang kadang membuat kita gemas atas kenaifannya. Dan dalam kegemasan atas kenaifannya, sekaligus kita merasakan kegetiran jiwa karakter yang terlihat nyata dalam pembelaan yang begitu gigih untuk eksistensinya. Baginya kebebasan adalah segalanya, sekalipun itu harus dibayar dengan jiwanya.

Moral bukan merupakan pegangan atau sesuatu yang sakral bagi karakter-karakter dalam cerpen-cerpen yang ditulis oleh Djenar Maesa Ayu. Moral disini malah diperolok dalam satu cerpen yang berjudul Moral.

Dalam cerpen Moral, moral dianggap seperti barang obralan seharga lima ribu rupiah tiga. Prinsip-proinsip pribadi, keutuhan individualisme adalah kode etik pribadi, atau hak penuh masing-masing karakter tanpa ada kompromi.

Dalam keadaan terpojok hal tersebut malah menjadi pegangan, terkadang menjadi penyelamat, bagi kewarasan jiwa mereka. Seperti yang disampaikan dalam cerpen “Menyusu Ayah”.

Dari berbagai penilai dan pemerhati cerpen, cerpen “Menyusu Ayah” menjadi cerpen terbaik dalam kumpulan cerpen Djenar saat itu. Dalam “Menyusu Ayah” disampaikan bahwa seorang anak kecil, ‘Nayla’ yang sejak kecil menyusu penis ayahnya tidak begitu mempersoalkan kalau ia kemudian juga menyusu penis teman-teman ayahnya. Tetapi saat salah satu teman ayahnya mulai meraba dadanya dan kemaluannya, Nayla langsung merasa sekan integritas dirinya diperkosa:

Pada suatu hari ketika saya sedang asyik menyusu salah satu teman ayah, ia meraba payudara saya yang rata. Saya merasa tidak nyaman. Ucapan ayah bahwa payudara bukan untuk menyusui namun hanya untuk dinikmati lelaki terngiang-ngiang di dalam telinga saya. Saya tidak ingin dinikmati. Saya hanya ingin menikmati...”

Dan pada saat-saat terpojok atau tak berdaya, ia bersandar pada beberapa hal yang merupakan pilar-pilar penopang eksistensinya:

Apakah ini? Saya berusaha mengingat-ingat peristiwa ketika saya masih berada di dalam rahim ibu. Seingat saya tidak pernah ada juga lidah yang mengunjugi saya, juga tidak lidah ibu.”

Walaupun ia tidak berhasil mempertahankan dirinya secara fisik, ia mencoba mempertahankan keutuhan psikisnya.

Terkesan kuat dalam beberapa cerpen seperti Mandi Sabun Mandi, Penthouse 21 dan Jangan Main-main (dengan Kelaminmu), sang penulis menampilkan berbagai adegan secara gamblang untuk mengomentari tentang penyimpangan perilaku, pengkhianatan bersilang dan kesemuan hidup metropolitan.

Itu dia sedikit resensi buku “Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)” karya Djenar Maesa Ayu yang tidak saja cukup berani menampilkan tema-tema yang kontroversial seperti Menyusu Ayah, Djenar juga memperkenalkan suatu gaya penulisan yang merupakan pembaruan yang berarti dalam perkembangan Sastra Indonesia saat ini. Semoga bermanfaat.

Belum ada Komentar untuk "Resensi Buku “Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)”"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel