Resensi Buku “Sunan Kalijaga - Mistik dan Makrifat”

Siapa yang tidak kenal dengan sunan yang satu ini? Sunan Kalijaga, semua orang di seluruh Indonesia pasti sudah sangat mengenal dengan salah satu tokoh yang terkenal dalam jajaran Walisongo, yaitu yang berperan besar dalam menyebarkan agama Islam terutama di Pulau Jawa. Tertarik dengan berbagai hal tentang Sunan Kalijaga, di bawah ini akan disampaikan tentang resensi buku “Sunan Kalijaga - Mistik dan Makrifat”.

resensi-buku-sunan-kalijaga-mistik-dan-makrifat
(Gambar: twitter.com/lookslina/)

Banyak sekali buku, resensi dan catatan yang membahas tentang eksistensi dan penyebaran agama Islam yang disebarkan oleh Walisongo, yang salah satunya adalah Sunan Kalijaga, yang sampai saat ini masih sangat dihormati oleh umat Islam. Begitu pula tentang resensi Sunan Kalijaga yang ditulis oleh Sya’bani Takdir yang pernah dimuat dalam Majalah Gatra edisi Juli 2013.

Identitas Buku:

  • Judul: Sunan Kalijaga - Mistik dan Makrifat.
  • Penulis: Achmad Chodjim.
  • Penerbit: Serambi, Jakarta.
  • Cetakan: Maret 2013.
  • Jumlah halaman: 31 halaman.

Resensi Buku Non Fiksi “Sunan Kalijaga - Mistik dan Makrifat”

Ajaran dan kearifan Sunan Kalijaga dalam berdakwah dan menyebarkan Islam tentu sangat menarik untuk diulas. Bahkan laku tarekat yang diajarkannya harus dipahami dengan pikiran tenang dan jernih.

Bagi sebagian kalangan, Kanjeng Sunan Kalijaga merupakan sosok yang berperan besar dalam menyebarkan Islam melalui jalur budaya sehingga kearifan lokal tidak tergerus dan tetap terjaga.

Namun, sebagian yang lain beranggapan bahwa justru ajaran yang disebarkan oleh sunan dari Tuhan itu merupakan salah satu ancaman terhadap kemurnian Islam.

Sunan Kalijaga memang sosok yang fenomenal, sehingga tidak ada habisnya ajarannya diulas dalam berbagai buku. Salah satunya adalah buku yang ditulis oleh Achmad Chodjim dengan judul “Sunan Klaijaga - Mistik dan Makrifat” ini. Buku dengan tebal 371 halaman ini mengupas ajaran dan kearifan Sunana Kalijaga dalam berdakwah dan menyebarkan Agama Islam yang selama ini oleh sebagian kalangan dianggap sebagai bid’ah.

Baca juga: Resensi Buku "Relief Ramayana Candi Prambanan".

Dalam bab “Kandungan Kidung Rumeksa Ing Wingi (Perlindungan Pada Malam Hari)”, Chodjim, yang merupakan seorang spesialis dalam menulis buku-buku tasawuf, mencoba untuk mengelaborasi kidung yang saat ini masih dipakai oleh masyarakat petani, khususnya di wilayah Jawa bagian utara.

Menurut Chodjim, Kidung Rumeksa ing Wengi, sejatinya merupakan intisari dari Surat An-Nas dan Al-Falaq yang digunakan oleh Nabi Muhammad sebagai surat untuk pengobatan, baik pengobatan fisik maupun non-fisik. Nabi pernah membacakan surat-surat tersebut kepada sahabatnya yang terkena tenung.

Islam, sebagai agama yang disebarkan oleh Sunan Kalijaga, ditransformasikan sesuai dengan budaya masyarakat setempat tanpa mengubah esensinya.

Islam yang mulanya terasa asing bagi masyarakat Jawa, perlahan diubah nuansanya oleh Sunan Kalijaga, sehingga mereka tertarik dan memilih Islam sebagai jalan keselamatan.

Pada mulanya Islam ditawarkan sebagai cara mencari keselamatan lahiriah, nyata dan langsung bisa dirasakan oleh siapa pun pemeluknya. Karena itu, kemudian Sunan mengajarkan kepada masyarakat Jawa yang masih awam untuk membaca Kidung Rumeksa ing Wengi, sebagai penerjemahan dari kedua surat dalam Al-Quran yang sudah disebutkan tadi.

Cara yang ditempuh Sunan Kalijaga ternyata berkenan di hati masyarakat Jawa, sehingga Islam cepat menyebar di semua lapisan.

Pada bab lain, Chodjim juga berusaha mendudukkan tauhid dan syirik versi Sunan Kalijaga. Dalam bagian yang diberi judul “Tauhid versi Syirik” itu, penulis mencoba menganalogikan berbagai “laku tarekat” yang diajarkan Sunan Kalijaga kepada para pengikutnya sebagai bagian dari sunnah yang dilakukan oleh para nabi dan orang-orang soleh. Seperti puasa mutih, puasa yang hanya memakan nasi dan air putih saja, tidak mengonsumsi garam dan segala sesuatu yang bernyawa (seperti daging, telur dan susu).

Chodjim juga menulis, “Mari kita pahami ajaran puasa mutih ini dengan pikiran tenang dan jernih. Orang yang mutih sebenarnya orang yang sedang berjuang mengendalikan hawa nafsunya. Bukan ibadah wajib, melainkan wajib untuk kebaikan diri sendiri.”

Chodjim pun menguatkan pendapatnya dengan sebuah hadist dari Sahabat Jarir yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Barang siapa yang merintis jalan kebaikan dalam Islam, maka dia memperoleh pahala dari orang mengikuti jalannya tanpa mengurangi sedikit pun pahala yang bersangkutan.”

Chodjim juga mengulas ajaran-ajaran Sunana Kalijaga dengan bahasa yang sangat sederhana, tidak menggurui, tidak juga berusaha membenarkan pendapat sendiri.

Itu dia sedikit informasi dan resensi buku “Sunan Kalijaga - Mistik dan Makrifat”.Semoga informasi ini bermanfaat.

Belum ada Komentar untuk "Resensi Buku “Sunan Kalijaga - Mistik dan Makrifat”"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel