Mengetahui Tingkat Kesehatan Bank

Ternyata istilah kesehatan tidak hanya digunakan untuk manusia saja. Bank juga sering dikaitkan dengan istilah ini. Untuk itulah mengetahui tingkat kesehatan bank menjadi penting khususnya untuk Anda yang memiliki uang banyak dan ingin memyimpan dananya di bank atau menjadi seorang investor yang ingin membeli sahan bank yang bersangkutan.

Menurut Ahmad Gozali, seorang perencana keuangan di Jakarta yang tulisannya pernah di muat di Majalah Intisari, sempat mengatakan bahwa siapa pun yang sedang mencari bank yang cocok untuk menanam uangnya, pasti sering dibuat pusing dengan begitu banyaknya bank serta beragam produk dan tingkat suku bunga yang ditawarkan.

mengetahui-tingkat-kesehatan-bank
Ilustrasi (Gambat: GETTY)

Dan, ternyata suku bunga dan kemegahan kantor bukan suatu indikator yang menunjukkan tingkat kesehatan atau kelayakan sebuah bank. Karena masih banyak indikator lain yang harus dipertimbangkan.

Menilai Kelayakan Sebuah Bank

Saat ini sebagian besar bank di Indonesia masih menawarkan suku bunga sebagai daya tarik untuk menghimpun dana masyarakat, apalagi pada bank-bank kecil.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, bila sepak terjang bank yang kita pilih dijamin pemerintah, pilihannya mungkin akan sedikit lebih mudah, namun bagaimana bila bank tersebut tidak dijamin pemerintah? Apakah kita masih berani untuk menabung? Siapa yang akan menjamin uang tetap aman di bank?

Terlepas saat ini sudah ada LPS (Lembaga Penjaminan Simpanan), namun yang harus diutamakan bahwa kita akan menyimpan dana di tempat yang dipercaya, sehingga “kondisi bank” menjadi kata kunci dalam memilih bank.

Terdapat cara untuk menilai kelayakan sebuah bank, yaitu dengan menggunakan angka-angka keuangan, yaitu rasio. Rasio yang banyak digunakan adalah:

  • CAR.
  • NPL.
  • LDR

Baca juga: Mengapa Harus Menabung?

  • CAR atau Capital to Adequacy Ratio

Rasio ini juga disebut dengan ‘rasio kecukupan modal’ yang dibandingkan dengan ATMR (Aktiva Tertimbang Menurut Risiko).

Nilai ini memperlihatkan sebesar apa modal bila dibandingkan dengan besarnya aset-aset yang berisiko.

Makin besar CAR sebuah bank, maka makin baik bank yang bersangkutan tersebut.

  • NPL atau Non Performance Loan

NPL menunjukkan besarnya kredit yang telah disalurkan yang dianggap tidak memiliki prospek yang bagus. Penyaluran yang tidak berprospek tersebut tidak serta merta menjadi kegagalan operasional bank, karena bank sendiri memiliki barang jaminn atas pinjaman tersebut.

Namun yang harus diperhatikan adalah tujuan awal menyalurkan dana bukanlah untuk menyita atau mendapatkan jaminan berupa barang (seperti tanah atau rumah) nasabah, melainkan untuk mengembangkan dana yang ada.

Dengan demikian, bank memiliki pendapatan yang memadai untuk membayar bunga penabung dan mendapatkan keuntungan untuk biaya operasi dan pengembangan perusahaan.

Berbeda dengan CAR yang angkanya semakin besar semakin bagus. Pada NPL sebaliknya, makin kecil angka NPL makin bagus citranya di mata nasabah.

  • LDR atau Loan to Deposit Ratio

LDR merupakan angka yang memperlihatkan tingkat penyaluran dana kepada masyarakat bila dibandingkan dengan dana yang diperoleh dari simpanan masyarakat.

Angka LDR terbaik adalah yang mendekati 100%, artinya dana yang diperoleh dapat disalurkan secara efektif kepada masyarakat.

Bagaimana bila angka LDR ini terlalu kecil? Maka hal ini memperlihatkan bank tidak mampu bekerja secara maksimal, atau bisa disebut dana tidak tersalurkan dengan baik. Hal ini akan mengakibatkan modal bank habis hanya untuk membayar bungan simpanan saja. Apabila modal habis, otomatis simpanan tersebut akhirnya juga dipakai untuk membayar bunga. “Gali lobang tutup lobang” membuat bank makin merugi.

Indikator Lain untuk Melihat Tingkat Kesehatan Bank

Selain indikator yang disampaikan di atas masih ada beberapa indikator lain yang bisa menjadi pedoman, antara lain:

  1. Pemilik Bank.
  2. Umur Bank
  3. Kredibilitas Bank
  4. Tingkat profesionalitas.
  5. Keterbukaan dan transparansi.

Baca juga: Pilih Mana Tabungan atau Deposito?

1. Pemilik Bank.

Terdapat dua jenis kepemilikan bank di Indonesia, yaitu:

  • Bank milik pemerintah atau bisa disebut dengan bank plat merah, seperi Bank Mandiri, BNI (Bank Negara Indoensia), dan BRI (Bank Rakyat Indoensia).
  • Bank swasta, yang meliputi bank swasta nasional yang didirikan dan berpusat di Indonesia, seperti BCA, Bank Danamon, Bank Permata dan masih banyak bank lainnya.

Yang menjadi pertanyaan, bank mana yang akan dipercaya? Untuk menjawabnya, tentu harus mempelajari untung-rugi status yang disandangnya, hal ini dikarenakan status kepemilikan bank memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

2. Umur Bank

Umur bank menjadi hal yang harus dipertimbangkan, karena bisa memperlihatkan kemampuan bank dalam mengelola usahanya.

Bank dengan usia yang lebih tua pasti memiliki pengalaman dan kemampuan mengelola keuangan masyarakat lebih banyak, setidaknya bila dibandingkan dengan bank yang baru berdiri.

Indikator lain bisa dipengaruhi oleh kemampuan pengelola dan profesionalitasnya.

3. Kredibilitas Bank

Tidak semua orang menganggap nama besar bisa menjamin bank tersebut sehat atau memiliki kinerja bagis.

Namun sampai saat ini, masih terbukti bahwa nama besar bank sangat mempengaruhi orang untuk mempercayakan dananya ke bank tersebut.

4. Tingkat profesionalitas.

Profesionalitas ini akan menggambarkan kemandirian bank dalam menjalankan usahanya. Semakin profesional dan semakin fokus bank tersebut terhadap usahanya, maka akan semakin nyaman kita mempercayakan dana kita kepada bank tersebut.

5. Keterbukaan dan transparansi.

Pada jaman dahulu hanya bank-bank swasta saja yang berani mencatatkan diri di bursa efek dan menjual sebagian kepemilikan sahamnya kepada masyarakat.

Namun sekarang, hampir semua bank besar, baik pemerintah maupun swasta menjual sahamnya melalui bursa efek.

Dengan menjual sahamnya, berarti mereka menyertakan masyarakat untuk memiliki bank tersebut dan ikut serta mengontrol segala kegiatan yang dilakukan bank. Hal ini membuat bank menjadi lebih terbuka dan lebih transparan untuk bisa dinilai, sehingga padaa akhirnya menumbuhkan kepercayaan masyarakat.

Kelima indikator tersebut hanya sebagai alat bantu untuk memudahkan dalam memilih bank.

Satu hal yang harus dicatat disini adalah menyimpan uang di bank juga merupakan investasi, dan tiap investasi juga memiliki risiko. Maka untuk melakukan investasi, pilih dan ukur dengan tepat keuntungan yang diinginkan dan risiko yang mungkin diterima. Semoga informasi tentang “mengetahui tingkat kesehatan bank” ini bermanfaat.

Belum ada Komentar untuk "Mengetahui Tingkat Kesehatan Bank"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel