The Hamburger of Happiness

Apa yang bisa Anda bayangkan tentang kebahagiaan? Tentu banyak hal, ternyata memiliki rasa bahagia bisa berimplikasi pada banyak hal, bahkan dalam suatu perusahaan, kabarnya, karyawan yang bahagia ternyata bisa lebih produktif dan lebih mau bekerja keras. Apakah benar demikian? The hamburger of happiness menjadi sebuah konsep menarik untuk melihat cara dalam menyikapi kehidupan.

the-hamburger-of-happiness
Ilustrasi hamburger (Foto: foodnetwork.com)

Berbagai catatan dan referensi tentang kebahagiaan telah banyak disampaikan yang ingin menunjukkan ternyata terdapat korelasi antara sikap bahagia dengan peningkatan kinerja seperti yang disampaikan Tanadi Santosa, MBA dalam catatannya yang berjudul “Happiness at Work” yang memberikan sebuah informasi positif tentang kebahagiaan.

Bahagia dan Peningkatan Kinerja Suatu Hubungan Positif yang Sering Terlewatkan

Ternyata pernyataan tentang ‘karyawan yang bahagia bisa menjadi lebih produktif dan lebih mau bekerja keras’ adalah salah satu hasil temuan dari penelitian psikologi positif. Dan psikologi positif ini populer sekitar tahun 1998, melalui tulisan Martin Seligman dan Mihaly Csikszentmihalyi. Dalam tulisan tersebut, kebahagiaan menjadi topik yang banyak dibahas.

Yang menarik dari topik tentang bahagia ini adalah saat ini ternyata para ekonom dan juga neuroscientist juga mulai tertarik dengan pembahasan tentang kebahagiaan ini.

Terdapat tiga pendekatan berbeda tentang kebahagiaan:

  • 50% dari kebahagiaan ditentukan oleh faktor genetik.
  • 10% disebabkan oleh kondisi eksternal seperti kepemilikan materi, kondisi keluarga dan juga lingkungan sekitarnya.
  • 40% sisanya berasal dari usaha yang dilakukan untuk menjadi lebih bahagia. Usaha ini disebut sebagai aktivitas intensional atau aktivitas yang dilakukan secara sadar berdasarkan pilihan pribadi, aktivitas ini yang kemudian membentuk pengalam hidup.

Tentu saja dalam hal ini, bila perusahaan bisa membuat para karyawannya memandang kerja sebagai aktivitas yang membahagiakan, hal ini tentu lebih efektif untuk meningkatkan produktivitas kerja bila dibandingkan hanya pemberian insentif atau reward apa pun.

Baca juga: Empat Hal Utama Dalam Perilaku Bisnis.

Terdapat konsep flow yang disampoaikan oleh Mihaly Csikszentmihalyi, terori ini menyampaikan bahwa terdapat pengalaman optimal bila seseorang terlibat dalam suatu aktivitas yang disukai dan menantang karena membutuhkan skill tertentu, hal ini berdampak sangat besar. Saat berhasil masuk dan terlibat dalam aktivitas seperti ini, maka orang tersebut akan mengalami flow, hal ini adalah kondisi dimana seluruh fokus terserap sepenuhnya. Menjadi lupa diri, lupa waktu dan benar-benar tenggelam didalamnya.

Maka bila konsep flow diaplikasikan dalam lingkungan kerja akan meberikan efek yang luar biasa, tentunya bukan saja pada karyawan menjadi lebih bahagia, tetapi produktivitas kerja akan meningkat dengan pesat. Saat seseorang berhadapan dengan suatu pekerjaan yang memang disukai dan sangat menantang baginya, maka ia akan mau melakukan yang terbaik, dan berusaha maksimal untuk menyelesaikan tantangan yang sudah diberikan. Dan kemungkinan besar hasilnya akan menjadi sangat baik.

Bisa ditebak hasilnya, atasan atau pimpinan akan senang, dan perusahaan pun diuntungkan, dan yang tidak kalah penting, proses kerja yang diakui akan membuat orang atau karyawan tersebut akan bahagia. Dan bukan hasilnya yang menarik bagi yang menjalankan, tetapi proses tersebutlah yang membuatnya bahagia.

Semakin memahami seorang pimpinan atau manajemen akan konsep bahagia dalam peningkatan produktivitas kerja tentu akan semakin menguntungkan perusahaan. Sebagai atasan, bila mampu menganalisa bakat, minat bawahan maka perusahaan akan diuntungkan karena sudah menempatkan bawahan tersebut pada posisi yang tepat, mengerjakan pekerjaan yang memang disukainya dan berada sedikit di atas jangkauan kapasitas mereka.

Aplikasi The Hamburger of Happiness

Mengutip catatan Tanadi Santosa, MBA yang menyampikan tentang kebahagiaan dari Tal Ben-Shahar seorang dosen Harvard University, yang menjelaskan tentang konsep orientasi waktu  dalam kebahagiaan melalui “The hamburger of Happiness”, yang disampaikan bahwa setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menyikapi kehidupan.

“The hamburger of Happiness”
Bagan “The hamburger of Happiness” (Gambar: globallinker.com)

Dianalogikan sama dengan hamburger, dimana ada orang yang memilih makan burger tebal berisi daging dan keju saja, ada pula kelompok lainnya yang mengombinasikannya dengan daging dan sayuran, bahkan ada pula yang menikmati burger dengan acar saja.

Disampaikan bahwa orang yang memilih makan burger dengan daging saja merupakan orang yang hedonis yang benar-benar hanya hidup di saat ini, tanpa memikirkan apa yang akan terjadi di depan.

Sebaliknya orang yang makan burger vegetarian adalah orang yang fokus pada masa depan, sehingga ia rela berkorban saat ini demi masa depan yang lebih baik. Tentu yang lebih baik adalah orang yang mengombinasikan sayur dan daging, karena ia benar-benar tahu caranya menikmati hidup.

Hidup merupakan suatu kesenangan hari ini, tetapi juga harus memperhitungkan hari esok. Tentu saja yang paling sengsara adalah orang yang hanya makan buger dengan acar saja. Bisa dikatakan ia tidak peduli masa sekarang, atau pun masa depan. Tidak ada gairah, tidak memiliki tujuan dan hanya sekedar hidup saja.

Semoga informasi tentang “The hamburger of happiness” ini bermanfaat untuk Anda.

Belum ada Komentar untuk "The Hamburger of Happiness"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel