Saat Tubuh Drop karena Kekurangan Kalium

Menjaga kesehatan tubuh adalah hal penting, apalagi semenjak wabah pandemi Covid-19 kemarin, munculnya wabah sampai meredanya wabah, menjadikan kita sadar bahwa hal sekecil apa pun yang berhubungan dengan kesehatan tidak bisa diremehkan. Begitu pula saat tubuh drop karena kekurangan kalium, tentu hal ini akan berpengaruh pada aktivitas kita.

kekurangan-kalium
Gambar ilustrasi (Foto: consejosdesalud.org)

Seperti kita ketahui bersama, kalium adalah zat atau mineral yang dibutuhkan oleh tuhuh. Berkurangnya kalium akan membuat tubuh menjadi lemas dan hal ini berakibat terganggunya kesehatan Anda.

Cara Mengatasi Tubuh yang Drop karena Kekurangan Kalium

Ide untuk membahas bahasan kekurangan kalium ini didapatkan dari rubrik tanya jawab yang diasuh oleh dr Tan Shot Yen, yang juga dimuat dalam Tabloid Nyata.

Menurut Ibu Yani sebagai penanya, dirinya menanyakan tentang masalah kalium yang sering drop, dan hal ini membuatnya lemas. Dengan berat badan 48 kg, dengan dua orang anak, menikah pada umur 33 tahun. Saat anak pertama berumur 3 bulan, saat itu ia duduk bersila saat akan berdiri, langsung jatuh lagi dan ditarik agar bisa berdiri, kejadian ini pun diabaikan karena hanya terjadi satu kali.

Setelah lahir anak kedua yang berjarak 14 bulan dari kelahiran anak pertamanya, saat itu pada pagi hari ia sempat jalan-jalan dan pada siang harinya makan mie. Pada sore harinya, tiba-tiba jatuh saat berjalan dan segera dibawa ke dokter.

Baca juga: Program Detoksifikasi ala dr Tan Shot Yen.

Setelah dilakukan pengechekan, ternyata kalium drop sampai 1,6 rendah sekali, dan di opname untuk menambah kalium. Sampai saat ini juga belum bisa kembali normal.

Menurut dokter yang memeriksanya, Bu Yani tidak boleh banyak karbohidrat, karena akan memicu kerja kalium, sehingga membuat Bu Yani harus mengatur makan yang membuat dirinya tidak bisa gemuk.

Yang menjadi pertanyaan, adalah bagaimana keberadaan kalium di tubuh? Karena kekurangan kalium membuat lemas, sedangkan kelebihan kalium membuat kaku atau tegang. Dan bagaimana pola makan bagi orang yang mengalami kasus seperti tersebut di atas?

Ulasan dan Jawaban dr Tan Shot Yen

Menurut dr Tan, kasus tersebut memang harus dilihat secara detail dengan berbagai penyebabnya. Namun paling tidak dengan kondisi tersebut, penderita dalam hal ini Bu Yani semakin paham, bahwa tubuh tidak cukup dilihat dari satu masalah yang timbul dan apa yang muncul sebagai masalah hari ini, sebenarnya adalah kumpulan dari berbagai hal yang terjadi sebelumnya atau merupakan dampak kompensasi yang telah dilakukan sebelumnya.

Yang menjadi pertanyaan dari dr Tan, adalah bagaimana riwayat kehamilan Anda? Apa juga mengalami pre-eclampsia? (bahasa awam yang kurang tepat adalah keracunan kehamilan, yang sebenarnya terjadi adalah terjdinya gangguan metabolisme secara keseluruhan pada ibu saat hamil dengan gejala kenaikan tekanan darah, kaki bengkak, sering pusing yang semestinya begitu terminasi kehamilan atau anak dilahirkan maka gangguan ini akan hilang).

Pre-eclampsia dan eclampsia yang tidak ditangani secara bijaksana (bukan hanya dengan obat, tapi juga mengatur pola makan dan kondisi emosional ibu) akan berakibat fatal, termasuk stroke (sering terjadi pada waktu mendekati persalinan atau pada saat persalinan berlangsung dan pasca persalinan) akibat tekanan darah yang terlalu tinggi dan pecahnya pembuluh darah otak.

Tetapi penurunan tekanan darah yang kebablasan pun pasti ada efek sampingnya. Semua obat penurun tekanan darah tinggi yang bersifat diuretik (mempercepat pengeluaran carian melakui kencing agar tekanan dalam pembuluh darah tidak tegang atau tinggi) mengakibatkan turunnya kadar kalium dalam darah. Karena kalium pun ikut hanyut terbuang bersama air kencing. Dan bukan itu saja, obat penurun tekanan darah tinggi seperti ini juga meningkatkan risiko diabetes.

Yang sangat menarik dari ilmu tentang kalium ini adalah keberadaannya yang dikontrol oleh natrium. Dalam tubuh yang sehat, kadar kalium dan natrium berada dalam kondisi seimbang.

Bila kalium meningkat, maka natrium akan turun. Begitu pula jika kalium drop, maka natrium akan melonjak.

Hal ini yang sering disampaikan dr Tan tentang keseimbangan dalam alam (seperti halnya kolesterol jahat dan baik).

Baca juga: Tips Menjaga Tubuh di Usia yang Mulai Senja.

Yang menjadi pertanyaan, bukan masalah bagaimana mendongkrak kalium, tetapi mengapa kalium tersebut drop. Atau jangan-jangan natrium yang memang tinggi! Apakah Anda memiliki riwayat darah tinggi? (Bisa jadi dari kemungkinan pre-eclampsia kehamilan? Sebab menarik sekali tentang catatan Anda yang mengatakan episode lemas Anda berhuhungan dengan pasca melahirkan).

Apabila dropnya kalium diakibatkan natrium yang terlalu tinggi (atau memang mengidap darah tinggi yang tidak disadari), maka jalan keluarnya bukan semata-mata membatasi pemasukan natrium (dalam bentuk garam dapur) seperti kebanyakan asumsi orang, bahwa garam adalah musuh besar darah tinggi.

Justru yang harus diwaspadai adalah penyebab lain dari darah tinggi yang mengakibatkan natrium tinggi dan kalium drop.

1. Cek ‘water intake’ (pemasukan air) sehari-hari Anda. Kekurangan air (yang juga mengandung mineral termasuk natrium) bisa menyebabkan volume darah menurun. Akibatnya ginjal memproduksi hormon Renin-Angiotensin yang langsung menyempitkan pembuluh darah agar sepadan dengan volume darah yang mengalami penurunan tadi.

Penyempitan pembuluh darah akhirnya menyebabkan kenaikan tekanan darah. Pada waktu yang bersamaan, hormon Renin-Angiotensin tadi juga memberikan perintah : “Tahan garam tubuh”. Jadi seakan-akan terjadi ‘kenaikan natrium pada orang hipertensi, padahal yang sebenarnya terjadi hanyalah pemekatan konsentrasi garam tubuh akibat kurang air. Setiap natrium terkonsenstrasi tinggi, maka kalium akan drop. 

Hanya bila Anda minum cukup banyak air, maka kepekatan natrium akan kembali encer dan kadar hormon Renin-Angiotensin kembali pada level normal dan pembuluh darah kembali melebar lagi serta perintah “Tahan garam tubuh!” ditiadakan.

2. Kecurigaan dr Tan pada kasus ibu di atas tentang hipertensi dan gangguan pembuluh darah otak akhirnya beralasan karena Anda menyebutkan ‘salah satu tangan atau jari Anda yang sulit diangkat.” Artinya, perintah otak melalui saraf motorik tidak ‘sampai’ ke organ yang dituju.

Saraf otak yang memberi makan adalah pembuluh darah otak. Jadi bila ada gangguan pada peredaran darah otak, maka mustahil saraf dapat berfungsi dengan baik.

Dokter ibu tadi yang menyarankan untuk “tidak boleh mengonsumsi terlalu banyak karbohidrat karena akan memicu kalium (memboroskan kalium?).” Tentu ada maksud lebih jauh lagi dari sang dokter sehingga menyarankan si ibu untuk membatasi karbobidrat. Masalahnya karbohidrat yang seperti apa?

Menurut dr Tan, “Jangan-jangan si ibu juga penderita diabetik atau kencing manis sehingga sang dokter menyarankan untuk membatasi karbohidrat.” Apalagii si ibu juga membei catatan  “setelah makan mi” tidak lama kemudian terjatuh lemas ketika sedang berjalan dan sulit sekali untuk berdiri kembali, dan juga bagaimana dengan kadar gula darah ibu, terutama saat hamil?

Ada suatu kondisi yang disebut dengan pregnancy-induced diabetes, artinya kencing manis yang terjadi atau terpicu saat kehamilan, yang bisa berlanjut hingga pasca melahirkan. Dengan berat badan 48 kg, menurut dr Tan, si ibu tidak perlu lebih kurus lagi, ditambah pila perlu mengurus 2 anak yang masih kecil).

3. Setelah mencermati apakah cukup banyak air minum yang dikonsumsi per hari (2 sampai 2,5 liter) maka si ibu harus memperhatikan riwayat kesehatan, bahkan semasa kehamilan. Dalam sebuah penelitian yang melibatkan lebih dari 6000 orang pria dan wanita, mereka yang paling rendah mengasup kalium (nama kain dari potassium) 1,5 x lebih tinggi kemungkinannya untuk menderita stroke dalam kurun waktu 4 sampai 8 tahun ke depan dibandingkan dengan orang yang mengonsumsi lebih banyak kalium (sumber: Neurology 2002:59:302-303, 314-320).

Dan banyak pakar memberi nasihat untuk meminum jus jeruk atau makan pisang sebagai sumber kalium. Namun mereka lupa dengan sisi gelap dari kedua jenis buah tersebut.

Pisang adalah jenis karbohidrat yang sangat tinggi kadar gulanya (Glikemik indeks tinggi) dengan risiko meningkatkan insulin dan semua urutan metabolisme yang menyertainya sehingga pisang juga disebut buah yang menggemukkan dan sangat disukai hewan yang membutuhkan kalori tinggi untuk kehidupannya. Begitu pula dengan jus buah yang nyata-nyata meningkatkan risiko diabetik (hasil penelitian ini telah ditulis di Kompas pada tanggal 15 Juli 2008).

Sayur berdaun hijau gelap dan lalap segar yang biasa mengisi piring salad justru mempunyai kadar kalium berkali lipat dari pisang dan jus jeruk. Sejenis sayur hijau bernama kale ternyata mengandung 300 persen lebih banyak kalium daripada sebuah pisang.

Bonusnya, bukan hanya kadar kalium menjadi normal kembali bersanding dengan natrium (karena tubuh melakukan regulasi alamiah melalui makanan bukan obat) tapi semua sayur hijau gelap dan lalap segar membuat kepadatan tulang terjaga hingga akhir hayat.

Alpukat yang selalu direkomendasikan dr Tan mempunyai 300 mg kalium per 1 ons buahnya, dengan kadar natrium (nama lainnya disebut dengan sodium) yang sangat rendah membuat alpukat sumber yang terbaik untuk peningkatan kalium, begitu pula dengan daun katuk).

Dengan kondisi ibu penanya yang sedang menyusui pasca melahirkan, daun katuk sebagai sayur hijau berdaun gelap yang sangat disukai orang Indonesia bisa menjadi pilihan yang sangat baik.

4. Yang harus diingat adalah tubuh manusia pada prinsipnya harus berada dalam keadaan basa (alkali). Kalium juga merupakan sumber alkali. Untuk menjaga kondisi ini, semua asupan yang berakhir menjadi asam (acidic) dalam tubuh perlu dihindari.

Karbohidrat buruk (gula, terigu, beras, pati atau ubi, singkong, jagung, talas) dan susu serta produk turunannya yang berakhir menjadi asam dalam proses metabolisme. Begitu pula dengan daging mentah.

Maka mulailah dengan pola makan yang sehat seimbang. Isi penuh piring karbohidrat Anda dengan lalap segar (selada segala jenis, timun kyuri, horenzo, tomat, buah alpukat setengah) dimakan bersama protein jenis baik (ikan laut dalam, ayam kampung, putih telur, kecambah, jamur). Pengolahan lauk bisa dengan di pepes, sup, soto, kari (santan encer namun kaya rempah), bakar dengan bungkus daun dan masih banyak cara lain.

Selain yang telah disebutkan semua di atas, lauk berupa sayur hijau yang dimasak pun sehat, walau pun kondisi enzimnya berubah karena proses pemanasan, namun beberapa zat yang masih bisa digunakan tubuh tetap bermanfaat seperti kailan, bakcoy, sawi pahit, pare dan masih banyak lainnya.

Batasi pula kacang-kacangan dan produk turunannya bila Anda terserang diabetik. Beri lemak jenis prima (misal exrta virgin olive oil, bukan untuk menumis atau menggoreng, tapi untuk dressing atau cocolan atau pelengkap sambal buatan sendiri. Jadi ulek dulu semua bahan sambal, boleh dioseng tanpa minyak, setelah di piring baru bubuhi 1 sendok makan extra virgin oil).

Sarapan, makan siang, makan malam mulailah dengan komitmen dan disiplin, namun penuh variasi.

Semoga informasi kesehatan tentang “saat tubuh drop karena kekurangan kalium” yang diasuh oleh dr Tan Shot Yen ini bermanfaat.

Belum ada Komentar untuk "Saat Tubuh Drop karena Kekurangan Kalium"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel