Tips Berobat dengan Hemat

Siapa yang ingin sakit? Pasti tidak ada siapa pun yang ingin sakit. Namun, bagaimana bila sakit tersebut benar-benar datang dan mengharuskan Anda beristirahat, tentu disela istirahat yang harus Anda lakukan, maka obat pun menjadi salah satu cara untuk menyembuhkan sakit yang datang. Tidak salah kalau kali ini Anda memperhatikan salah satu tips, yaitu tentang tips berobat dengan hemat, karena tidak selamanya orang sakit perlu ke dokter atau harus minum obat. Obat memang menjadi biaya terbesar saat sedang sakit. Maka mengetahui kapan harus ke dokter, kapan harus minum obat dan bagaimana cara mencegah penyakit menjadi hal bijak yang harus dilakukan, karena hal ini akan membantu menghemat pengeluaran.

Tips berobat dengan hemat
Ilustrasi (Foto: sbs)

Kondisi karena efek pandemi Covid-19 telah merubah segalanya, khususnya dari sisi ekonomi, membuat kita harus berhemat. Hal ini juga terlihat dari melambungnya harga obat. Karena kondisi saat ini yang sudah mengkhawatirkan dan menyiasatinya maka mencari informasi agar bisa berobat dengan hemat menjadi hal yang sangat penting, termasuk salah satunya tulisan dari Nis Antari dalam Kumpulan Artikel Kesehatan Intisari.

Cara Hemat saat Berobat

Seringkali saat sakit, kita mendapatkan berbagai jenis obat yang kita sendiri tidak tahu kegunaan obat tersebut, maka ada baiknya kita bersikap kritis  dan rasional dalam menggunakan obat, karena pada dasarnya hampir kebanyakan penyakit harian akan sembuh, walapupun tidak diobati. Selain itu, tubuh juga memiliki mekanisme penyembuhannya sendiri. Dan yang harus diketahui adalah dengan adanya intervensi obat yang terlalu cepat atau berlebihan justru akan mengganggu mekanisme alami tubuh.

Menurut dr Handrawan Nadesul, “Obat warung dibutuhkan apabila seseorang sudah merasa terganggu dengan keluhannya. Peningnya membuat susah tidur, atau mualnya sampai tidak bisa makan. Sedangkan ke dokter, bila keluhan dan gejala yang sama tidak menghilang sampai beberapa hari. Atau, keluhan dan gejala yang sama berkembang progresif. Keluhan dan gejalanya semakin berat. Hal tersebut menujukkan penyakitnya bertambah parah dan memerlukan intervensi medis.”

Terdapat beberapa panduan menurut dr Handrawan Nadesul, agar aktivitas berobat bisa berjalan dengan efisien, antara lain:

  • Tidak semua keluhan memerlukan obat.
  • Tidak semua obat menyembuhkan.
  • Tidak semua obat resep harus diterima.
  • Mutu tidak tergantung harga.
  • Obat bisa menimbulkan penyakit baru.
  • Pasien memiliki hak bertanya.
  • Apotek tidak berhak menukar obat.
  • Tidak semua obat harus dihabiskan.
  • Tidak setiap sakit harus ke dokter.

Baca juga: Tips Menerapkan Pola Makan Sehat.

  • Tidak semua keluhan memerlukan obat.

Obat makan bisa menjadi racun apabila saat penggunaan dan dipakai secara berlebihan, apalagi jika pemakaiannya terlalu sering. Efek samping obat sakit kepala pada ginjal dan hati misalnya. Pada orang yang konservatif, saat ini sangat takut menggunakan obat, sehingga tidak sebentar-bentar meminum pil, karena seringan apa pun obat, pasti memiliki efek buruk bagi tubuh.

Begitu juga dengan mereka yang bergerak dalam bidang pengobatan alternatif, yang merasa prihatin dengan pemakaian bahan kimia obat pada tubuh. Apabila masih bisa sembuh atau meringankan sakit tanpa obat, mengapa harus minum obat?

  • Tidak semua obat menyembuhkan.

Bisa diakui tidak semua obat bisa menyembuhkan penyakit. Apabila pemakaian obat yang sama untuk waktu yang lama tidak mengubah penyakit, bisa obatnya tidak tepat. Dalam kondisi seperti itu, konsumsi obat seharusnya segera dihentikan. Prinsip dalam memakai obat adalah memperhitungkan unsur manfaat dan segera melupakan efek buruknya.

Apabila masih memiliki manfaat, efek buruk obat bisa dilupakan. Namun, apabila minum obat dan tidak memberi manfaat, dan yang minum obat hanya mendapatkan efek buruknya, maka tentu harus dicegah. Contohnya adalah banyak pasien kanker tidak mau diberi obat, karena efek buruk obat kanker yang dianggap menyengsarakan, misalnya rambut jadi rontok, kulit menjadi jelek dan sel darah yang rusak.

  • Tidak semua obat resep harus diterima.

Pasien yang paham dan terdidik biasanya tidak mau terlalu banyak minum obat. Mereka biasanya tidak malu bertanya pada dokter tentang manfaat obat yang telah diresepkan. Kalau tidak perlu mereka tidak akan menebus obat tersebut. Pertanyaan yang diajukan bisa menjadi lebih spesifik, seperti, “Ini obat simptomatik atau bukan?”

Di Indonesia, terkadang masih ada dokter yang tersinggung mendengar penrtanyaan tersebut, meskipun mengajukan pertanyaan adalah hak pasien. Di luar negeri hal seperti itu lazim dilakukan pasien. Bahkan pasien bisa menolak resep obat bila dirasa kurang berguna atau kurang memberi manfaat. Yang perlu diingat adalah, seringan apa pun obat bisa membawa efek samping.

Dokter yang bijak akan selektif dalam memberikan obat, dengan membuat resep yang rasional. Resep yang cerdas akan memberi sedikit mungkin obat, tapi menyembuhkan. Di masa krisis seperti sekarang, pasien dimungkinkan menebus setengah resep dari yang seharusnya. Dengan catatan, asal bukan antibiotik. Karena biasanya dalam salinan resep dokter, obat antibiotik hanya satu. Hanya obat antibiotk yang tidak boleh ditebus setengah, karena bila ditebus setengah, pengobatan menjadi tidak tuntas, bahkan bisa menimbulkan efek kebal. Maka satu resep antibiotik harus dihabiskan.

  • Mutu tidak tergantung harga.

Bukan harga yang tinggi yang menyebabkan obat menjadi lebih bermutu. Bahkan semua obat generik yang meniru obat aslinya, apabila dicampur dengan standar pembuatan obat yang baik (CPOB), akan sama manjurnya. Pengalaman menunjukkan, banyak kasus pasien sembuh justru ditentukan oleh faktor psikis.

Selama ini, banyak orang yang menganggap, kurang manjur kalau tidak minum obat mahal. Dengan kata lain, si pasien dari awal sudah tidak percaya dengan obat murah. Sugesti seperti ini akan sangat berpengaruh dalam proses kesembuhan, sehingga akhirnya tidak sembuh.

  • Obat bisa menimbulkan penyakit baru.

Saat ini, banyak orang yang senang minum berbagai jenis obat secara sekaligus, sepertinya hal ini menjadi suatu kebanggaan. Padahal di negara maju , orang mampu akan membatasi pemakaian obat. Berderetnya obat dalam resep dokter, bisa jadi mencerminkan keragu-raguan dokter, meskipun kadang menentramkan hati psien.

Maka banyak ahli obat yang mencemaskan kecenderungan dokter sekarang yang menulis resep lebih banyak. Resep tersebut disebut bersifat polypharmacy yang menjadikan perut pasien seperti apotek. Pemakaian obat secara berlebihan yang tidak jelas manfaat dan tujuaannya akan merugikan pasien.

  • Pasien memiliki hak bertanya.

Yang menjadi kesalahan selama ini adalah pasien tidak memanfaatkan haknya untuk bertanya pada dokter yang memeriksa. Bahkan bertanya tentang obat yang diberikan, tentang penyakitnya pun pasien tidak tahu. Pasien cenderung menerima saja alias menurut saja apa yang dikatakan dan diberikan dokter.

  • Apotek tidak berhak menukar obat.

Seringkali terjadi, apotek menukar obat yang tidak sesuai dengan yang dituliskan dokter, tanpa sepengetahuan si pembuat resep. Motif yang sering terjadi adalah kebanyakan karena alasan ekonomi. Bisa saja karena obat yang diminta dokter tidak ada, dan agar pasien tidak pindah ke apotek lain, pihak apotek menukarnya dengan obat dengan jenis sama dari pabrik yang berbeda.

  • Tidak semua obat harus dihabiskan.

Pasien terkadang sering bingung, apakah obat yang diberikan dokter harus dihabiskan? Kurangnya informasi ini bisa merugikan pasien, karena pada akhirnya pasien memakai obat secara salah. Sebab tidak semua obat yang diberikan dokter perlu dihabiskan. Obat jenis simptomatik yang berfungsi untuk meredakan keluhan dan gejala, tentunya tidak perlu dihabiskan, dan hanya diminum kalau keluhan dan gejala masih ada atau muncul lagi.

Obat yang masih ada tersebut sebaiknya disimpan dengan sebaik-baiknya. Apabila tahu indikasinya, maka obat yang disimpan baik-baik tersebut bisa dipakai kembali, ketika terjadi keluhan yang sama.

  • Tidak setiap sakit harus ke dokter.

Demi penghematan dan efisiensi, sungguh bijak bila kita tidak selalu pergi ke dokter setiap sakit. Maka hal ini membutuhkan pengetahuan medis dari bacaan dan pergaulan. Apabila batuk-pilek saja, bisa minum obat sendiri. Begitu juga bila sekedar mulas, pening, pusing atau mual. Karena tubuh memiliki mekanisme penyembuhan sendiri.

Dengan kata lain, selama bisa tanpa obat, biarkan tubuh menyembuhkan dirinya sendiri. Mengobati sendiri memang tidak selamanya aman. Namun, dengan pengetahuan dan wawasan medis yang baik, apalagi saat harga obat dan biaya berobat menjadi semakin mahal, maka upaya pengobatan sendiri bisa menjadi pilihan untuk efisiensi.

Tips Mencegah Sebelum Sakit 

dr Handrawan Nadesul memberikan panduan dalam rangka pencegahan, dimana banyak hal yang bisa dilakukan agar tidak mudah sakit, yaitu:

  1. Kondisi tubuh jangan sampai diperlemah. Dalam kondisi seperti sekarang, stress bisa merusak badan. Semua akan memperburuk pertahanan tubuh. Dalam kondisi pertahanan tubuh yang buruk, penyakit akan mudah menyerang.
  2. Tetaplah hidup secara teratur. Saat musim penghujan. Buatlah tubuh menjadi lebih hangat, pilihlah menu makanan yang hangat, seperti soto, sup atau makanan lain yang berprotein tinggi.

Baca juga: Tips Mengatasi Batuk dengan Bahan Alami.

Banyak penyakit menyerang orang yang tubuhnya lemah. Semua ancaman di sekitar kita tidak memungkinkan diredam. Yang bisa dilakukan hanya membuat tubuh menjadi lebih kuat dengan menu bergizi, cukup istirahat dan olahraga untuk melawan semua ancaman tersebut.

Semoga informasi dan tips berobat dengan hemat di atas bermanfaat dan menjadi referensi dalam menjaga kesehatan kita dan keluarga.

Firman Seorang blogger yang senang menikmati kopi, traveling, dan menulis.

Belum ada Komentar untuk "Tips Berobat dengan Hemat"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel