Lupus

Kemarin seorang kawan, teman nongkrong, dan juga teman diskusi kami meninggal dunia. Terkejut? Pasti, karena baru kemarin kami bertemu dan sempat bercerita banyak hal, khususnya tentang hidup dan mati. Sebenarnya yang membuat kami terkejut adalah saat teman tersebut menyebutkan bahwa dirinya divonis lupus oleh dokter. Berulang kali ke dokter dan berulang kali harus rawat inap, ditambah lagi dokternya juga bingung dalam diagnosa. Setelah menjalani serangkaian tes, baru kemudian sebelum meninggal dinyatakan menderita lupus atau nama kerennya ‘lupus nefritis’.

lupus
Ilustrasi orang dengan lupus (Foto: techtips)

Sejak dinyatakan menderita lupus, praktis dirinya harus berjuang dengan sekuat tenaga untuk menghadapi penyakit ini. Yang menyedihkan yang tentu saja membuat semangatnya drop, saat dokter memvonis harapan hidupnya hanya tiga tahun, ditambah dengan kawan baiknya sesama ODAPUS (orang dengan lupus) meninggal dunia akibat penyakit ini. Namun yang membuat kita sebagai teman salut adalah semangatnya dan kata-kata yang selalu diucapkannya, yaitu ‘Saya tidak menyerah, tapi saya pasrah’, menjadi kata yang selalu diingat.

Lupus adalah Penyakit yang Tidak Dapat Disembuhkan

Lupus??? Apa sebenarnya lupus itu? Menurut Karnen Garna Baratawidjaja dalam buku Imunologi Dasar yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, lupus adalah salah satu penyakit autoimun.

M. Sholekhudin dalam tulisannya dengan judul ‘Agar Senjata Tak Makan Tuan’ dalam Kumpulan Artikel Kesehatan Intisari, menyebutkan bahwa pada orang sehat, antibodi bertindak sebagai tentara yang melindungi tubuh dari serangan kuman. Sedangkan pada ODHA (orang dengan HIV/AIDS), sistem kekebalan tersebut melemah, sehingga sangat rentan terinfeksi. Begitu pula pada penderita gangguan autoimun, antibodi menjadi hiperaktif dan liar, yang menakutkan adalah bukan hanya bakteri saja yang diserang, tetapi organ tubuh juga jadi sasaran. Karena menyerang organ sendiri inilah maka disebut dengan autobodi. Apabila sedang liar maka autoantibodi ini bisa menjadi sangat ganas.

Menurut dr Nanang Sukmana, Sp.PD, KAI seorang pengajar pada Divisi Alergi dan Imunologi Klinik FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, “Manifestasi penyakit autoantibodi ini bermacam-macam”. Pada sebagian orang, autiantibodi ini menyerang organ tertentu saja, misalnya pankreas atau kelenjar tiroid. Apabila menyerang sel pankreas (penghasil hormon insulin). Apabila menyerang kelenjar tiroid, maka akan menyebabkan tiroiditis.

Baca juga: Batu Empedu dan Pengaruhnya Bagi Vegetarian.

Pada penderita lupus, maka autoantibodi menyerang banyak organ, sehingga memiliki gejala yang sangat beragam. Apabila menyerang kulit, bisa meyebabkan ruam di wajah dan sekujur tubuh, bahkan dalam kondisi yang parah, kulit bisa bersisik dan mengelupas, sehingga tampak seperti ular yang sedang ganti kulit.

Apabila menyerang mukosa mulut, akan menimbulkan sariawan yang tidak sembuh-sembuh. Bahkan saat menyerang persendian akan menyebabkan artritis rematoid. Artritis ini yang menyebabkan seorang kawan tadi hanya bisa berjalan dengan satu kaki.

Nah, bagaimana bila autoantibodi ini menyerang sel darah merah? Tentu saja hal tersebut akan menyebabkan anemia. Hal ini pula yang menjelaskan mengapa seorang kawan tersebut tidak sembuh-sembuh, meskipun sudah minum obat-obatan penambah darah. Apabila menyerang ginjal, maka fungsi filter darah akan menurun. Pada kasus kawan di atas, hal tersebut menyebabkan proteinuria (yaitu protein yang lolos melalui urine), karena sifatnya pintar mengelabui tersebut, dokter sering kali terkecoh.

Lupus adalah Salah Satu Penyakit yang Bisa Dikendalikan

Menurut dr Nanang, meskipun penderita lupus tidak bisa sembuh, namun penyakit ini bisa dikendalikan, sehingga penderitanya bisa memiliki kualitas hidup yang baik. Penderita bisa memperoleh kualitas hidup yang baik dengan syarat disiplin menjalani terapi farmakologis dan melakukan pengaturan pola hidup yang baik. Dan yang paling penting adalah jangan hanya mengandalkan obat saja.

Agar antibodi tidak hiperaktif, maka ia harus diredam dengan obat-obat imunosupresan. Namun yang sulit adalah saat sistem kekebalan ditekan, tubuh jadi gampang terkena infeksi. Ditambah terapi ini akan menimbulkan efek negatif lainnya, seperti risiko pengeroposan tulang dan juga peningkatan kadar gula darah.

Oleh karena itu, dengan adanya efek negatif ini, terapi penyakit autoimun harus menimbang antara risiko dan manfaat. Misalnya untuk mencegah pengeroposan tulang, pasien harus mendapat cukup asupan kalsium, baik dari makanan atau dari suplemen.

Tips agar Lupus Tidak Berulah

Selain terapi farmakologis, penderita autoimun juga harus memperhatikan juga pola hidupnya. Terdapat beberapa resep agar lupus tidak berulah, antara lain:

  1. Hindarilah stress. Mengucapkan memang mudah, namun pada parakteknya sangat sulit untuk dilakukan. Berdasarkan pengamatan dr Nanang, pasien mengalami perubahan kejiwaan setelah 3 sampai 6 bulan didiagnosis menderita lupus, mulai dari stress ringan sampai depresi. Oleh karena itu, dokter, keluarga dan lingkungan harus turut memberikan pengertian dan dukungan agar pasien tetap tenang. Ketenangan jiwa bisa diperolah melalui banyak cara, sebagian menemukan ketenangan hidup melalui meditasi dan belajar memaknai hidup, dan pada teman seperti di atas, meditasinya dengan sholat tahajud.
  2. Hindarilah kelelahan. Kelelahan fisik itu seperti stress psikis, yang membuat autoantibodi tidak terkendali. Begitu pula dalam berolahraga, penderita harus menghindari olahraga yang membebani tubuh. Yang penting dalam berolahraga ini adalah tubuh terlatih tanpa menimbulkan rasa capek yang berlebihan.
  3. Kembali mengonsumsi produk hasil alam atau kembali ke alam. Saat ini makanan banyak mengandung bahan tambahan sintetis, bahan tidak alami tersebut oleh tubuh akan dianggap benda asing. Maka semakin banyak bahan makanan sintetis masuk ke dalam tubuh, maka semakin besar risiko autoantibodi kembali aktif.
  4. Hindari faktor pemicu lainnya. Seperti asap rokok, infeksi, sinar matahari antara pukul 09.00 sampai pukul 16.00, dan juga hindari kontrasepsi oral (pil KB).

Semoga informasi tentang lupus di atas benrmanfaat. Yang tidak kalah pentingnya adalah bisa mendeteksi lupus sedini mungkin, karena bila terlambat dikhawatirkan organ-organ vital terlanjur rusak. Maka dengan mengetahui lebih awal, kerusakan bisa dicegah. Terima kasih.

Firman Seorang blogger yang senang menikmati kopi, traveling, dan menulis.

Belum ada Komentar untuk "Lupus "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel