Antara Raw Food, Enzim & Umur Panjang

Ada yang menarik kali ini, tentu saja pembahasan tentang kesehatan yang diasuh oleh dr Tan Shot Yen dalam Tabloid Nyata. Sebagai pihak yang sangat terbantu dengan berbagai artikel dan apa yang disampaikan dr Tan, maka tidak salah kali ini di sampaikan ulang tentang bahasan dengan tema “Antara Raw Food, Enzim & Umur Panjang”.

Antara Raw Food, Enzim & Umur Panjang
Raw food (Foto: retreatsinsedona)

Yang disampaikan kali ini adalah hasil tanya jawab antara seorang ibu sebagai wujud kegelisahan dan kepedulian akan kesehatan keluarga, terdapat beberapa pertanyaan yang disampaikan, antara lain:

  1. Bagaimana caranya agar anak yang berumur 8 tahun bisa mengubah pola makan agar mau dengan pola makan raw food, hal ini berbeda dengan adiknya yang masih berusia 3 tahun sudah bisa makan raw food, seperti selada, ketimun, tomat, paprika, wortel mentah dan minyak zaitun.
  2. Informasi tentang enzim , karena jarang ada pembahasan tentang enzim.
  3. Apakah glaukoma disebabkan metabolisme tubuh yang jelek dan asupan yang tidak bergizi.
  4. Adakah efek buruk kopi dan teh?

Pembahasan “Antara Raw Food, Enzim & Umur Panjang”

Selalu penasaran dengan apa yang terjadi, khususnya tentang kesehatan, apalagi yang berhubungan dengan kesehatan keluarga adalah suatu hal yang bagus. Begitu pula kali ini, dengan mengikuti semua jawaban yang disampaikan dr Tan, maka kita akan mengetahui semua hal yang dibutuhan oleh tubuh, apalagi dari bahan makanan yang sehat.

Terdapat beberapa pembahasan yang disampaikan dr Tan, antara lain:

1 | Cara agar anak berumur 8 tahun bisa mengubah pola makan agar mau dengan pola makan raw food, hal ini berbeda dengan adiknya yang masih berusia 3 tahun sudah bisa makan raw food, seperti selada, ketimun, tomat, paprika, wortel mentah dan minyak zaitun.

Bagi anak yang sudah melalui proses nalar dan memiliki kemampuan berpikir kognitif cukup matang (di atas 6 tahun) maka untuk mengubah pola pendidikan makanan yang sudah terlanjur salah tentu  mempunyai tantangan tersendiri.

Seperti apa yang dilakukan Ibu di atas tadi sudah sangat bagus. Yang harus dilakukan sekarang tinggal bagaimana anak bisa mencocokkan antara pengalaman dan nalar. Karena anak dengan umur 8 tahun tersebut sudah bisa membantah, seperti, ”Lho, temenku tiap hari makan nasi dengan bekal roti keju ke sekolah kok baik-baik saja?”. Tentu saja anak pandai membutuhkan penjelasan lebih jauh.

Namun, sayang buku-buku yang mencerdaskan anak yag sudah bisa membaca dari sisi gaya hidup dan pola makan yang benar memang belum ada. Yang ada justru kepercayaan klasik dan yang lebih parah di sekolah masih dicekoki dengan aliran kolonial  untuk pelajaran gizi. 

Baca juga: Tips Sehat dengan Menu Sehat.

Untu itu, anak ibu seperti di atas yang berusia 8 tahun tadi perlu lebih banyak merasakan raw food yang sedap, pilihan selada mentah barangkali perlu dipertimbangkan dari  dari jenis yang renyah  (crunchy), agak manis dan juga tidak terlalu membuat nyangkut ditenggorokan. Favorit saya (dr Tan) adalah butterhead lettuce (bisa dicari yang mini buterhead), baby romaine lettuce, juga dari jenis frilice lettuce (agak bulat-bulat ujung daunnya, yang mirip selada keriting tapi bukan keriting). Atau bisa juga di ajak ke resto yang menyajikan berbagai menu salad. Namun hati-hati dengan dressing yang menyesatkan yang sebetulnya hanya mengandung krim, gula dan kuning telur. ‘Cocolan’ salad lebih baik dicelupkan ke kuah atau bumbu lauknya.

2 | Informasi tentang enzim , karena jarang ada pembahasan tentang enzim.

Enzim adalah ‘kunci’ tentang semua alasan memakan raw food. Enzim bukan vitamin, bukan hormon, bukan mineral. Tapi di dalam enzim bisa terdapat protein didalamnya , sebagai carrier (pembawa) faktor aktivitasnya. Enzim merupakan substansi kehidupan yang membuat vitamin, mineral, hormon bisa bekerja. Tapi enzim bukanlah katalis. Katalis atau jembatan reaksi kimia hanyalah zat yang tidak ikut dalam reaksi kimia.

Enzim ibarat faktor energi dari sebuah batu beterai yang terbuat dari lempeng logam dan karbon. Enzim ibaratnya juga tenaga kerja  (labor force) yang membuat pekerjaan konstruksi suatu pembangunan gedung menjadi mungkin terbangun.

Hal yang percuma bila kita memiliki batu bata, semen, tiang pancang, bahkan besi beton begitu banyak, bila tidak ada tenaga kerja yang membangunnya . Anggap saja asupan gizi adalah batu bata, semen dan semua material yang dibutuhkan oleh tubuh, enzim adalah faktor energi yang memungkinkan semuanya tersusun rapi sesuai cetak biru  yang diharapkan.

Begitu pula dengan kita yang mewariskan sejenis potensi enzim sejak lahir. Faktor energi kehidupan ini harus tetap ada sepanjang hidup. Manusia atau mahluk hidup tetap hidup selama tubuhnya mempunyai faktor aktivitas enzim untuk tetap memproduksinya. Namun yang disayangkan, seperti layaknya harta warisan, semua mengalir ke satu arah. Kita terus memboroskan, menghabiskan tanpa ada pemasukan. Semua makanan yang dimasak  dan dikonsumsi manusia pasti membutuhkan dan memboroskan enzim kita.

Dengan mengonsumsi makanan matang dalam sebagian besar porsi makanan sehari-hari, manusia terpaksa membebani tubuhnya untuk mensuplai banyak enzim ke liur, cairan lambung, cairan pankreas dan cairan usus.

Akibatnya adalah tubuh tidak cukup membentuk enzim lain untuk kebutuhan pekerjaan otak, jantung, ginjal, paru, otot dan semua jaringan tubuh lain yang membutuhkan enzim.

Begitu pula sebaliknya, bila kita mengonsumsi raw food, maka dalam bahasa makanan yang masih mentah tersebut mengandung enzim yang akan memecah dirinya sendiri (self digesting) sehingga kita tidak memboroskan sebagian besar enzim pencernaan kita.

Baca juga: Madu Menurut dr Tan.

Maka bagi sebagian besar orang, paradigma ini akan terdengar seperti cara pandang baru mengenai pencernaan. Padahal sebenarnya tidak. Orang purba Neanderthal yang hidup 50.000 tahun yang lalu sudah mengenal api dan menggunakan api secara luas untuk memasak makanannnya bahkan binatang peliharaan mereka. Sedangkan di belahan bumi lainnya, orang Eskimo primitif, yang disebutkan dalam salah satu literatur  sebagai kelompok manusia yang tidak memiliki riwayat penyakit kronik dan radang sendi. Mereka memakan sebagian besar raw food dan pada kenyataanya kata ‘Eskimo’ berasal dari latar belakang Indian yang berarti ‘dia yang makan mentah’.

Kita sendiri juga mengetahui bahwa penurunan kadar enzim tubuh ditemukan pada banyak penyakit kronik, seperti alergi, gangguan kulit bahkan penyakit serius seperti diabetik dan kanker. Bahkan terdapat indikasi konsumsi pangan tanpa enzim (artinya sudah dimasak matang) yang merupakan kontribusi terhadap kelenjar hipofise yang membesar, padahal kelenjar hipofise di otak adalah regulator bagi pembentukan hormon-hormon lain di seluruh kelenjar hormon manusia, termasuk kelenjar kelamin dan pankreas.

Dengan demikian, difisiensi enzim dalam makanan yang diasup merupakan sumbangan dan jawaban atas pertanyaan mengapa anak sekarang lekas ‘dewasa’ (exaggerated maturation). Cepat tumbuh besarnya anak dan proses menjadi remaja yang terlalu cepat  sangat berhubungan dengan konsumsi makanan matang dan hilangnya raw ood consumption dalam kehidupan saat ini.

3 | Apakah glaukoma disebabkan metabolisme tubuh yang jelek dan asupan yang tidak bergizi.

Glaukoma adalah peyebab kebutaan kedua  di dunia, yang sebenarnya merupakan kumpulan berbagai masalah mata yang merusak saraf penglihatan secara perlahan yang awalnya bisa tanpa gejala sama sekali dan tahu-tahu mencuri penglihatan.

Masalah awal glaukoma terjadi karena drainase atau pengaturan cairan dalam bola mata tidak bekerja  dengan baik sehingga terjadi penumpukan cairan pada bola mata dan menyebabkan tekanan bola mata meningkat. Tekanan ini mendorong saraf mata dan menybabkan rusak.

Pada kasus glaukoma yang lain, kerusakan saraf mata bisa karena aliran pembuluh darah ke saraf tersebut tidak lancar yang disebabkan plak atau pengerasan pada dinding pembuluh darah. Glaukoma ini terkait dengan pola makan dan pola hidup yang secara keseluruhan merusak dinding pembuluh darah yang salah satunya bisa saja terjadi pada pembuluh darah mata.

Maka salah satu anjuran Mayo Clinics di Amerika Serikat adalah dengan menekan tingginya insulin dalam darah. Tubuh yang sudah mati rasa dengan insulin akan membuat gula darah selalu tinggi dengan berbagai risikonya yang semua diawali oleh kerusakan dinding pembuluh darah.

Semua produk gula, terigu, beras dan pati adalah pemicu insulin terparah.

4 | Adakah efek buruk kopi dan teh?

Teh selama diminum secara wajar tanpa gula dan dalam bentuk kualitas yang baik (daun teh diseduh) sangat membantu kadar oksidan  yang membantu tubuh menanggulangi radikal bebas.

Begitu pula dengan kopi, apabila kita mengenal kopi sebagai stimulan atau perangsang yang membuat kondisi tubuh terjaga namun sekaligus mengandung homosistein yang memicu stroke dan kerusakan dinding pembuluh darah, maka pada teh sebaliknya. Dalam keadaan tegang dan gelisah, teh sangat mampu menenangkan jiwa. Dalam keadaan lesu dan low batt, teh merupakan penyegar yang sangat bersahabat.

Semoga informasi kesehatan dengan tema “Antara Raw Food, Enzim & Umur Panjang” ini bermanfaat dan menjadi referensi kesehatan Anda.

Firman Seorang blogger yang senang menikmati kopi, traveling, dan menulis.

Belum ada Komentar untuk "Antara Raw Food, Enzim & Umur Panjang"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel