Resensi Novel “Di Bawah Langit”

Kisah hidup setiap orang memang berbeda-beda. Begitu pula dengan sebuah karya tulis yang sengaja menceritakan kehidupan masyarakat pinggiran dengan segala kekurangannya, hal ini akan membuka mata kita bahwa masih banyak hal yang harus diperhatikan pada masyarakat arus bawah. Selain itu, dengan adanya kisah tersebut yang sangat condong dengan kehidupan sebenarnya akan memberi hikmah untuk selalu bersyukur atas segala karunia yang diberikan Tuhan kepada kita. Hal ini pula yang mendorong Opick “Tombo Ati” dan Taufiqurrahman Azizi, menelurkan sebuah buku yag menceritakan kondisi hidup masyarakat nelayan Dusun Glagah. Hal ini pula yang mendorong dibuatnya resensi novel “Di Bawah Langit”, untuk memberikan informasi awal betapa menariknya kisah yang disampaikan dalam novel ini.

Bisa dikatakan menarik dan memberikan sensasi berbeda, tatkala seorang penyanyi love story bisa menyampaikan karya tulis dalam karya berbeda, hal ini memberikan sebuah filosofi dalam dimensi lebih dalam tentang hidup. Untuk itulah, novel ini sengaja ditulis, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan seni dan sastra, namun juga sebagai perwujudan pergolakan cinta dan nilai-nilai spiritual yang bisa menjadi bahan renungan.

Identitas Buku:

Resensi Novel “Di Bawah Langit”

Judul: Di Bawah Langit.
Penulis: Opick “Tombo Ati” dan Taufqurrahman Azizi.
Penerbit: Grafindo Khazanah Ilmu.
Tahun terbit: Cetakan pertama Januari 2010.
Tebal buku: 280 halaman.
ISBN: 978-979-3858-70-8.

Resensi Buku “Di Bawah Langit”.

“Di Bawah Langit” adalah sebuah novel yang menceritakan keseharian masyarakat di pesisir pantai Dusun Glagah dengan segala pernak-pernik hidupnya. Cerita ini diawali dengan kehidupan seorang Kyai yang tinggal di daerah pantai yang memiliki seorang putri dan juga beberapa anak angkat. Anak angkat ini berasal dari berbagai latar belakang, yang rata-rata terlantar kehidupannya. Bagi sang Kyai, anak-anak ini sudah menjadi seperti anak kandung Pak Kyai Ahmad sendiri.

Semakin lama, putri pak kyai tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik, begitu pula dengan kedua anak angkat pak Kyai yang juga tumbuh remaja. Pada momen inilah terjadi pergolakan cinta dan juga spiritual antara Maysaroh putri kandung Kyai Ahmad dengan Gelung dan Jaelani anak angkat Kyai Ahmad, tentunya hal ini menjadi sebuah konflik hukum dan kebenaran.

Maysaroh, putri Sang Kyai akhirnya jatuh cinta, namun cinta Maysaroh bukan pada Jaelani pilihan ayahnya, namun pada Gelung, begitu pula dengan Gelung yang juga jatuh cinta pada Maysaroh. Yang membuat Maysaroh tercekat, saat Kyai Ahmad ternyata menjodohkan Maysaroh dengan Jaelani, yang merupakan anak angkat pertama kali yang diasuh Kyai Ahmad. Alasan Pak Kyai karena pertimbangan ilmu agama yang dimiliki Jaelani.

Baca juga: Resensi Novel “Rindu Purnama”.

Bagaimana nasib Gelung?

Gelung sedih dan kecewa, hal ini merubah hidup Gelung, yang pada akhirnya Gelung mencari kesejatian diri. Saat Kyai Ahmad meninggal, pada akhirnya Jaelani seperti menjadi penerusnya, yang oleh warga kampung dipanggil dengan sebutan “Mas Guru”. Bagaimana dengan Gelung? Gelung dianggap sebagai orang aneh, orang gila, orang gendeng, namun sebagian masyarakat Dusun Glagah menganggapnya sebagai orang sakti.

Pada cerita selajutnya, terjadi perbedaan antara Jaelani sebagai guru agama dan warga kampung atas apa yang terjadi pada Gelung. Pada saat bersamaan, di Dusun Glagah masih ada masyarakat yang hidup miskin dan menderita, dan tidak ada satu pun yag menolong mereka. Hanya anak asuhan almarhum Kyai Ahamd-lah yang bisa membantu dan menolong mereka. Ketujuh anak asuh tersebut membantu orang miskin dan menderita dari uang hasil mencopet dan mencuri.

Pada akhirnya, tujuh anak tersebut tertangkap oleh pihak berwajib, dan Gelung menjadi pelindung tujuh anak tersebut dengan mengaku sebagai yang menyuruh anak-anak tersebut, yang mengakibatkan Gelung harus mendekam di penjara. 

Dan pada akhirnya tujuh anak tersebutlah yang mempersatukan Maysaroh dan Gelung dalam satu ikatan suci, pernikahan.

Kelebihan Novel “Di Bawah Langit”

Novel ini berisi tentang harapan, ajakan dan renungan bagi para pembacanya untuk selalu menjaga cinta suci, pentingnya menghormati perbedaan, persepsi dalam keberagaman dan pentingnya saling nasehat menasehati, saling membantu dan juga saling menolong.

Selain itu, hal utama yang harus diperhatikan adalah jangan pernah melihat seseorang dari bentuk luarnya saja, namun cobalah lihat lebih jauh ke dalam.

Syariat dan hakikat adalah dua sisi yang sama. Syariat tanpa hakikat seperti kulit pisang tanpa isinya, sedangkan hakikat tanpa syariat seperti pisang tanpa kulitnya. 

Kekurangan Novel “Di Bawah Langit”

Tidak ada kekurangan berarti dalam novel dengan judul “Di Bawah Langit” ini, hanya ceritanya terlalu fokus pada kehidupan keluarga Kyai Ahmad. Semoga kedepannya cerita ini bisa dikembangkan lagi.

Itu dia, sedikit resensi novel “Di Bawah Langit” karya Opick “Tombo Ati” dan Taufiqurrahman Azizi, semoga bermanfaat, menghibur dan menginspirasi kita semua.

Firman Seorang blogger yang senang menikmati kopi, traveling, dan menulis.

Belum ada Komentar untuk "Resensi Novel “Di Bawah Langit”"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel