Igo, Sebuah Permainan Tradisional Catur Jepang

Banyak cara untuk mengisi waktu, mulai dari membaca buku, menikmati kopi atau bahkan hanya dengan bermain catur bersama teman. Diantara berbagai permainan yang sering dimainkan, maka catur sering menjadi salah satu pilihan. Kali ini yang dibicarakan bukan catur yang dimainkan dengan pion, raja, kuda yang dimainkan seperti biasanya, namun permainan ini menggunakan biji catur yang hanya berwarna hitam atau putih, yang disebut dengan “Igo”, sebuah permainan tradisional catur Jepang. 

Igo, Sebuah Permainan Tradisional Catur Jepang;Igo adalah Catur Jepang;
Igo (Foto: kcpinternational.)

Saat ini, igo sudah menjadi pilihan bagi anak muda, bahkan saat ini sering dilakukan turnamen persahabatan igo yang sering diselenggarakan di Japan Foundation, Jakarta. Bahkan karena sudah sangat familiar, igo menjadi pilihan untuk mengisi waktu dan bermain bersama teman.

Igo adalah Catur Jepang

Catur Jepang yang disebut igo ini merupakan sebuah permainan seni untuk berstrategi. Permainan ini hanya menggunakan papan dengan bentuk persegi 19x19 petak beserta biji catur warna hitam atau putih. Permainan ini dimulai dengan suatu papan kosong dan pemain secara bergiliran meletakkan batu hitam dan putih di atas titik temu antar garis pada papan sampai permainan ini sselesai.

Berbicara tentang igo, maka permainan ini menjadi menarik karena ditemukan oleh Shun, yang merupakan Kaisar China yang berkuasa mulai tahun 2256 – 2206 SM. Bahkan ada yang mengatakan sejak zaman Kaisar Yao, yaitu tahun 2357 – 2256 SM. Namun, ada juga yang menyebutkan Kaisar Kieh Kwei sekitar tahun 1818 – 1767 SM.

Baca juga: Graphic Diary, Curhat Kekinian Ala Komik.

Pada awalnya permainan igo sengaja diciptakan dengan tujuan untuk meningkatkan kecerdasan. Yang menarik, igo dianggap sebagai permainan aristokrat, sehingga kaum terpelajar China harus menguasai igo sebagai kemampuan dasar, selain kaligrafi, seni lukis atau bermain guqin. 

Igo dan Perkembangannya

Dengan berkembangnya waktu, permainan igo ini juga mulai masuk ke dunia barat pada abad 17, yang diperkenalkan oleh ahli matematika Jerman, Leibniz. Igo menjadi semakin populer setelah diperkenalkan oleh seorang pecatur terkenal, Edward Lasker dengan diluncurkannya buku “Go and Go Moku”.

Igo mulai dikenal dan disukai masyarakat, karena permainan igo tidak hanya menuntut logika dan konsentrasi, namun juga unsur kreativitas. Menurut Otake Hideo, seorang pemain igo profesional dari Jepang, kreativitas menjadi unsur utama dan para pemain harus memilikinya.

Tujuan akhir permainan igo ini bukanlah untuk mengalahkan sang raja, namun dengan tujuan untuk memperoleh teritori terbanyak. Sehingga igo diartikan sebagai permainan mengelilingi wilayah. Kedua pemain dengan segala kemampuannya akan berebut dan juga harus merelakan untuk memperoleh wilayah di atas papan. Hal inilah yang memunculkan filosofi igo, yaitu memenangkan pertandingan tanpa menghancurkan lawan.

Pada dasarnya permainan igo yang terdiri atas tiga babak ini disebut-sebut hampir sama dengan kehidupan manusia. Papan yang pada awalnya kosong kemudian disi dengan batu di atasnya, hal ini diumpamakan seperti manusia yang lahir kemudian mengembangkan dunianya. Pada babak tengah permainan menggambarkan kehidupan manusia saat berumur 20 sampai 40 tahun, yang banyak mengalami hal yang menyenangkan dan juga membuat pusing. Pada babak akhir permainan, seseorang akan mulai menggunakan hasil yang sudah ditabur semasa masa aktifnya. Dalam permainan igo, pemain mulai mengumpulkan wilayah dan pada saat permainan berakhir, semua dihitung. Pemenangnya ditentukan oleh wilayah yang telah dikumpulkannya.

Itu dia sedikit informasi dan juga pengetahuan tentang “Igo”, sebuah permainan tradisional catur Jepang. Semoga informasi ini bermanfaat.

Firman Seorang blogger yang senang menikmati kopi, traveling, dan menulis.

Belum ada Komentar untuk "Igo, Sebuah Permainan Tradisional Catur Jepang"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel