Resensi Novel “Ketika Cinta Bertasbih – Buku 2 Dwilogi Pembangun Jiwa”

Membaca kisah perjalanan Khairul Azzam dalam menggapai cita dan cintanya memang sangat menarik, bahkan membuat penasaran. Hal ini menunjukkan kepiawaian Kang Abik atau seorang novelis dengan nama panjang Habiburrahman El Shirazy dalam mengemas karya-karyanya menjadi sebuah kisah yang apik yang enak dibaca dan memberikan kisah tersirat penuh makna didalamnya. Tertarik melajutkan kisah Azzam, maka untuk mempermudah bagi para pecinta tulisan Kang Abik berikut akan disampaikan resensi novel “Ketika Cinta Bertasbih – Buku 2 Dwilogi Pembangun Jiwa”.

Resensi Novel “Ketika Cinta Bertasbih – Buku 2 Dwilogi Pembangun Jiwa”
Novel “Ketika Cinta Bertasbih – Buku 2 Dwilogi Pembangun Jiwa”

Seseuai dengan judulnya, tentunya Edisi 2 dari novel “Ketika Cinta Bertasbih” ini melanjutkan novel pertama yang telah ditulis Kang Abik. Dengan tetap menonjolkan kisah perjuangan seorang Azzam, setelah sampai di Indonesia sebagai seorang santri entrepreneur sukses dan tentu saja ending cerita yang manis dalam mencari pendamping hidupnya.

Identitas Buku:

  • Judul: Ketika Cinta Bertasbih – Buku 2 Dwilogi Pembangun Jiwa.
  • Penulis: Habiburrahman El. Shirazy
  • Penerbit: Republika – Basmalah Republika Corner.
  • Tahun terbit : Cetakan ke-1 November 2007 dan Cetakan ke-7 April 2008.
  • Tebal buku: 414 halaman.
  • ISBN: 978-979-1102-13-1.

Resensi Buku “Ketika Cinta Bertasbih – Buku 2 Dwilogi Pembangun Jiwa”

Sebagai kisah lanjutan dari Buku 1 “Ketika Cinta Bertasbih”, novel ini memberikan kisah lanjutan yang menarik dengan latar Kota Solo – Kartasura dan beberapa kota di Jawa Tengah dengan latar kehidupan masyarakat Jawa dan kultur Jawa yang begitu menarik perhatian.

Kisah ini menjadi puncak kisah antara para tokoh utama, yaitu Azzam, Furqan dan Anna. Azzam digambarkan dengan seorang santri yang memutuskan kembali ke kampung halamannya setelah 9 tahun menuntut ilmu di Universitas Al Azhar Mesir. Cerita dalam novel Ketika Cinta Bertasbih edisi 2 ini semakin menarik, apalagi dorongan dan motivasi lahir batin, baik dari dalam diri sendiri Azzam dan omongan tetangga, yang memberi motivasi sehingga Azzam meneruskan semangat wirausahanya.

Tidak malu dan bersemangat menghadapi tantangan menjadi ciri khas dalam diri Azam, semangat wirausaha Azzam ini dibuktikan dengan membuka warung bakso, yaitu “Bakso Cinta” dan pada perkembangan selanjutnya mampu membuka usaha baru lagi yaitu dibukanya usaha fotocopy-an. 

Baca juga: Resensi Novel “Ketika Cinta Bertasbih – Buku 1 Dwilogi Pembangun Jiwa”.

Kisah di dalam cerita ini juga diselipkan tentang kehidupan keluarga Azzam, yang mengedepankan sosok Ibu, yaitu Ibu Nafis, yang selalu sabar dengan doanya yang mampu mengantarkan Azzam dan adik-adiknya untuk sukses, meskipun  dalam kisah sebelumnya, untuk menopang kehidupan keluarganya di Solo, Azzam harus rela berjualan tempe dan bakso saat di Mesir.

Kisah semakin menarik dan membuat penasaran, saat Azzam berihtiar mencari jodoh yang shalehah, dan dalam cerita ini, hanya untuk mencari jodoh yang salehah saja juga diberikan ujian, meskipun pada akhirnya Azzam bisa menikah dengan gadis pujaannya, yaitu Anna Althafunnisa yang merupakan putri dari Kiai Lutfi, Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Qura’an Wangen.

Kelebihan Novel Ketika Cinta Bertasbih – Buku 2 Dwilogi Pembangun Jiwa

Berbeda dengan novel sebelumnya yang hanya mengisahkan kisah kehidupan dengan bumbu cinta didalamnya, dalam novel “Ketika Cinta Bertasbih” ini selain memberikan sebuah kisah menarik tentang kehidupan dan cinta, novel ini juga menunjukkan sisi lain dari seorang santri yang memberikan nilai positif dengan semangat wirausaha atau jiwa entrepreneurship dalam dirinya. Hal ini ditunjukkan oleh Azzam yang mampu mengantarkan dirinya menjadi salah satu pengusaha muda di Solo.

Resensi Buku “Ketika Cinta Bertasbih – Buku 2 Dwilogi Pembangun Jiwa”
Novel “Ketika Cinta Bertasbih – Buku 2 Dwilogi Pembangun Jiwa”

Bahkan terdapat beberapa kata positif yang bisa membangkitkan semangat seperti yang disampaikan pada halamam 375, mengutip perkataan dari Vince Lombard:

Sekali saja kamu belajar untuk berputus asa, maka akan menjadi kebiasaan!”

Tidak hanya itu, bahkan kisah cinta Azzam memberikan sebuah kisah semangat dan yakin bahwa Allohlah yang mengatur semuanya. Seperti yang dikatakan Ustadz Mujab, saat terlambat mengkitbah Anna saat di Mesir, yaitu “Allah yang mengatur perjalanan hidup ini”.

Kekurangan Novel Ketika Cinta Bertasbih – Buku 2 Dwilogi Pembangun Jiwa

Menarik dan membuat penasaran, secara keseluruhan semua karya tulis dari Kang Abik ini tidak ada kekurangan, namun meskipu tidak terdapat kekurangan yang berarti, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, sepertinya edisi ke-2 ini diperuntukkan bagi pembaca kalangan dewasa. Keromantiaan yang dimunculkan menjadi kisah dan rasa penasaran apabila yang membacanya masih anak di bawah umur.

Itu dia, sedikit resensi novel ““Ketika Cinta Bertasbih – Buku 2 Dwilogi Pembangun Jiwa””, semoga bermanfaat, menghibur dan menginspirasi kita semua. 

Firman Seorang blogger yang senang menikmati kopi, traveling, dan menulis.

Belum ada Komentar untuk "Resensi Novel “Ketika Cinta Bertasbih – Buku 2 Dwilogi Pembangun Jiwa”"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel