Tindik, antara Fungsi dan Seni

Di Indonesia, aktivitas yang satu ini sering dilakukan dan kebanyakan hanya dilakukan untuk kaum wanita, dan selalu dilakukan setelah bayi perempuan lahir, yaitu dengan menindik telinga. Kalau ada yang bertanya mengapa bayi perempuan yang baru lahir langsung ditindik? Banyak yang menjawab, bahwa menindik bayi yang baru lahir dilakukan dengan tujuan sebagai tanda untuk membedakan antara bayi laki-laki dan bayi perempuan.  Berbeda sekarang berneda dengan masa lalu, saat ini sudah sangat sering kita temukan tidak hanya kaum wanita saja yang ditindik, namun beberapa pria juga melakukan hal ini. Tindik, antara fungsi dan seni, saat ini juga mulai berkembang tidak hanya melihat fungsi yang hanya sekedar membedakan mana bayi pria dan bayi perempuan saja.

Pada beberapa dekade yang lalu, mungkin sangat jarang ditemukan orang yag bertindik, namun saat ini sangat mudah menemukan orang dengan tindik di sekitar kita, bahkan saat berpapasan di jalan, saat naik angkutan umum atau di beberapa tempat umum lainnya.

Tindik dan Asal-usulnya

Sarah Sawyer dalam bukunya yang berjudul Body Piercing and Tattooing, yang dikutip juga dalam Tabloid Intisari Edisi no. 559, kebiasaan melakukan tindik ini telah diyakini sudah ada sejak lima millennium yang lalu. Bahkan hal ini dibuktikan dengan keberadaan  koleksi patung laki-laki  dari zaman kebudayaan Mesopotamia di Benua Asia (tiga millennium sebelum masehi) yang memakai anting-anting di telinga yang tersimpan dalam Museum  Arkeologi dan Antropologi University of Pensylvania, Amerika Serikat.

Tindik, antara Fungsi dan Seni
Foto: glamcheck.

Tradisi yang sama juga bisa dijumpai di semua kebudayaan di dunia. Di Benua Afrika, bahkan kebiasaan menindik juga dapat ditemukan sejak zaman kerajaan Mesir kuno. Para Firaun dan para bangsawan Mesir memiliki kebiasaan menindik pusar sebagai penegasan identitas kebangsawanan.

Selain di Mesir, di Eropa, para ksatria pada masa Romawi kuno juga memiliki tradisi menindik. Yang ditindik bukan telinga, namun puting dada sebagai tanda kesatriaan mereka. 

Baca juga: Histrionik dan Ciri-cirinya.

Tradisi menindik anggota badan juga bisa dijumpai pada suku-suku kuno, hal ini bisa dijumpai saat ini, yang ada di Asia Selatan seperti di India, yang memiliki kebiasaan menindik hidung. Bagi mereka dalam tradisi Ayurveda, mereka meyakini bahwa menindik hidung bagi kaum perempuan, mereka meyakini dengan menindik hidung bisa memudahkan dalam proses melahirkan.

Tidak hanya di luar negeri, di Indonesia, pada beberapa suku, seperti di Suku Dayak dan beberapa suku di Papua  juga memiliki kebiasaan menindik cuping telinga dan juga hidung.

Tindik, antara Seni dan Gaya Hidup

Berbicara tentang gaya hidup, terdapat hal menarik yang harus diperhatikan, pada abad ke-20 ini tindik badan pada masyarakat modern tidak dapat dilepaskan dari adanya ideologi punk. Ideologi punk ini dipopulerkan sekitar tahun 1970-an. Tindik badan yang dilakukannya adalah sebuah penegasan dan menunjukkan identitas kelompok yang juga merupakan bentuk perlawanan terhadap ideologi konservatif. Sejak dikenalnya iodeologi punk tersebut, tindik badan kemudian berubah menjadi sebuah gaya hidup seperti busana, yang kemudian menyebar di semua lapisan masyarakat pada berbagai negara yang juga dipopulerkan oleh selebritis kelas dunia. Saat ini, bahkan kebiasaan menindik telah menyebar hampir di seluruh dunia. Bagian yang ditindik pun tidak hanya cuping telinga, hidung, lidah atau pun pusar saja, namun juga pada beberapa bagian tubuh seperti pelipis, alis, pipi, dagu, bibir, alat kelamin dan juga hampir di seluruh permukaan tubuh. Dan yang mengerikan yang digunakan sebagai tindik tidak hanya logam saja, namun juga kayu, tulang dan berbagai alat tindik lauinnya.

Sebenarnya sebagian besar tindik yang dilakukan mengarah pada seni atau dengan kata lain untuk membentuk suatu keindahan. Sehingga hal inilah yang perlu dibedakan tindik, antara fungsi dan seni. Untuk itu, harus diperhatikan mana tindik yang digunakan sebagai keindahan dan mana yang bertujuan untuk fungsi atau yang berguna bagi tubuh.

Firman Seorang blogger yang senang menikmati kopi, traveling, dan menulis.

Belum ada Komentar untuk "Tindik, antara Fungsi dan Seni"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel