Gaji dan Sebuah Tanggung Jawab di Balik Nominal Rupiah

Kali ini ada yang berbeda dengan tema yang diambil, diantara berbagai isu dibalik kenaikan jabatan bahkan kenaikan pangkat, maka unsur gaji menjadi hal yang signifikan yang selalu ingin dilihat. Bukan saja orang yang naik jabatan atau naik pangkat, yang memiliki rasa penasaran dengan besaran gaji yang diberikan, namun juga orang-orang disekitarnya selalu ingin tahu berapa gaji yang diterima setalah promosi tersebut. Gaji menjadi hal penting saat anda bekerja, namun tahukah anda di dalam unsur gaji terdapat sebuah tanggung jawab di balik nominal rupiah yang disandangnya.

Begitu pula saat baru pertama kali masuk kerja, atau saat tes interview, selalu mengharapkan mendapat gaji yang sangat besar. Tentunya hal ini menjadi sebuah hal yang lucu, karena belum bekerja sudah meminta imbalan yang sangat besar. Banyak pebisnis yang sudah berpengalaman selalu memberikan saran yang luar biasa, kejarlah ilmu dan pengalaman, setelah pengalaman didapat maka gaji akan mengikuti.

Mengejar gaji;Gaji dan Sebuah Tanggung Jawab di Balik Nominal Rupiah
Mengejar gaji (Sumber gambar: pixabay.com) 

1. Sebuah Kisah Gaji dan Tangggung Jawab.

Sering sekali kita memilki anggapan yang intinya, rumput tetangga lebih hijau, atau saat melihat seseorang yang sudah memiliki jabatan tertentu dengan gaji yang luar biasa besar. Dan kebetulan orang yang memiliki pemikiran seperti ini memiliki jabatan dibawah dari yang orang yang dibicarakan. Dalam perjalanan karir seseorang, tentunya kondisi ini sama halnya dengan orang yang merintis bisnis, pasti orang tersebut juga merintis dari bawah, dengan sabar mengikuti jenjang promosi jabatan atau sudah mendapatkan pengalaman, yang orang lain tidak memiliki pengalaman tersebut.

Terdapat sebuah cerita yang bisa diambil dari sebuah media sosial, sebagai berikut, “ Jangan sirik dan iri dengan orang, teman atau si bos yang sudah mendapatkan gaji besar. Ingat bahwa tanggung jawab dan tekanan gaji antara yang Rp 5 juta pasti berbeda dengan yang gajinya Rp. 40 juta. Dahulu pernah saat menjadi seorang staff, senang nyinyirin si bos yang datangnya siang, kerjanya hanya meeting, gaji besar dan mobilnya mewah. Dan saat posisi menjadi terbalik dan sudah mendapatkan posisi bos, ternyata menyesal juga sudah pernah nyinyir, ternyata pekerjaan meeting sangat melelahkan, meeting dalam perusahaan pasti masalah yang strategic, yang kalau salah dalam membuat keputusan, harkat hidup orang banyak menjadi taruhan. Memang jam kerja tidak terikat, namun hal ini yang membuat lelah, pulang pun tidak ada batasan waktu,dan datang siang pun untuk menjaga porsi istirahat agar stamina bisa terjaga”.

Baca juga: Jangan Mau Bekerja Seumur Hidup.

Intinya, kalau kalau belum siao mengambil tanggung jawab besar, belum siap dengan kerja di bawah tekanan, jangan bermimpi gaji besar, cukup sesuai dengan kapasitas yang diberikan. Percayalah dan yakinlah kecemburuanmu (jeaolus-mu) akan membunuhmu, rasa iri dan dengki membuat dirimu tidak bisa maju. Kalau ingin naik gaji, upgrade-lah skill (keahlian), jangan menjadi orang yang spesialis, jadilah orang yang generalis saja. Orang yang dengan tipe generalis bisa mudah pindah kerja, diletakkan dimana pun bisa survive.

Kalau pengalaman yang dimiliki itu-itu saja, cuma bisa fotocopy, entry data, gaji yang didapatkan sudah bisa ditebak?. Mengapa?. Mudah sekali jawabannya, karena kalau besok anda mati atau resign.

Yang menjadi pertanyaan penting saat anda memutuskan resign adalah “Perusahaan bangkrut atau tidak, akan goyang atau tidak?”. Kalau tidak, berarti impactmu terhadap perusahaan tempatmu bekerja ya tidak ada, dan wajar kalau gajimu tidak besar. Namun, kalau begitu dirimu tidak ada dan perusahaan kocar kacir, handphonemu terus berbunyi, bolehlah anda nego gaji, artinya anda membawa dampak besar buat perusahaan dan sangat layak diperhitungkan. Kalu mau jahat sangat mudah, buatlah dirimu tidak tergantikan atau irreplaceable.

2. Gaji dan Tuntutan Profesional

Gaji dan profesional seperti dua bilah pisau tajam yang tidak tahu kapan bisa berguna. Dua hal ini menjadi boomerang saat perusahaan mempekerjakan dua orang yang memiliki keahlian sama, masuk bekerjanya sama,  namun gajinya berbeda. Mungkin di satuu sisi karyawan yang mendapatkan gaji lebih kecil dari temannya tadi diam dan teteap bekerja, namun jangan salah, orang yang seperti ini harus anda perhatikan lebih, karena dia akan berusaha mencari pengalaman dan ilmu yag lebih. Dan pada suatu saat ketika pengalaman yang dimilkinya sudah cukup, maka saat dia mendapatkan tawaran pekerjaan dan gaji yang lebih, dia akan segera meninggalkan tempat dia bekerja.

Seharusna memang antara gaji dan profesionalitas harus berjalan seiring, namun sering tidak sejalan. Untuk itu dalam menuntut  gaji terdapat sebuah tanggung jawab di balik nominal rupiah yang diberikan. Semoga opini dan sharing ini bermanfaat untuk anda dan bisa menjadi sebuah pertimbangan. Terima kasih.

Firman Seorang blogger yang senang menikmati kopi, traveling, dan menulis.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel