Lumpuh Layuh

Pernah dengar istilah lumpuh layuh? Kata-kata ini memang identik dengan mereka yang tidak bisa berjalan pada anak-anak. Bahkan karena lumpuh layuh, membuat semua orang menuduh polio sebagai pangkal penyebabnya.

lumpuh-layuh
Ilustrasi (Gambar: nytimes.com)

Memang sangat menarik membahas tema yang satu ini, begitu banyak referensi yang membahas tentang lumpuh layuh, salah satunya yang dibahas oleh dr Danny Pattirajawane, yang juga pernah dimuat dalam Majalah Intisari Edisi No. 504.

Lumpuh Layu atau Kaku adalah Lumpuh Seketika yang Mengagetkan Setiap Orang Tua

Lumpuh layuh ini mengacu pada istilah kedokteran acute flaccid paralysis. Kata akut (accute) merujuk pada penyakit-penyakit yang mendadak, seketika atau jangka pendek.

Gejala pada lumpuh layuh ini biasanya parah atau berat. Flaccid sendiri melukiskan keadaan otot yang tidak memiliki ketegangan (tonus) sama sekali, sedangkan paralysis berarti kelumpuhan.

Maka lumpuh layu ini disebut dengan kelumpuhan seketika, yang ditunjukkan dengan hilangnya ketegangan otot yang bersangkutan.

Polio sendiri memang identik dengan lumpuh layuh, karena penularannya sangat gampang. Virus yang menginfeksi manusia melalui pencernaan itu bisa masuk melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.

Baca juga: Tips Menjaga Kesehatan Kaki Si Kecil.

Istilah lumpuh layuh sendiri mencuat sejak media gencar memberitakan serangan virus polio di Sukabumi, sekitar awal Mei tahun 2005 yang lalu. Secara fisik, virus polio ini sulit dideteksi, bahkan oleh mikroskop cahaya biasa, karena ukurannya hanya 27 nanometer atau 0,000000001 m.

Polio sendiri adalah penyakit yang disebabkan oleh rendahnya kualitas sanitasi, yang masuk ke dalam tubuh dengan menumpang makanan atau minuman yang terkontaminasi, kemudian memperbanyak diri dalam kelenjar getah bening di saluran pencernaan. Dalam membangun koloni ini, mereka membutuhkan suplai asam amino dan asam laktat yang cukup, dan untuk memenuhi kebutuhan ini, mreka mengambil zat-zat itu dari sel tubuh manusia.

Hal ini mengakibatkan, sel-sel tubuh yang diambil tadi kemudian mati, begitu seterusnya, setelah satu sel mati, virus polio ini kemuadian akan merampok sel lainnya. 

Virus ini mampu melakukan penyusupan ke sel-sel jaringan kelenjar getah bening, jaringan otot jaringan selaput otak dan jaringan otak.

Pada tahap awal, ketika virus memperbanyak diri dalam tonsil, yang diserangnya akan membengkak, mirip dengan ‘radang tenggorokan’.

Dari tonsil ini, virus polio kemudian memperbanyak diri dalam kelenjar getah bening usus, hal ini menimbulkan mual atau muntah-munah. Bila infeksi ini berlnjut, virus akan masuk ke peredaran darah (menyebabkan demam tinggi), kemudian memperbanyak diri di jaringan otot. Dari jaringan otot, virus menyerang sel saraf melalui ujung sel saraf, sebelum akhirnya menjalan ke inti sel seratf pusat di daerah tulang belakang. Pada tahap inilah seseorang menjadi lumpuh.

Imunisasi polio ini sangat dianjurkan, karena jika terlanjur terserang virus polio, korban akan sulit diobati. Sampai saat ini masih belum ada obat yang efektif untuk membunuh virus ini. Imunisasi hanya meningkatkan “kecerdasan” sistem kekebalan tubuh untuk mengenali virus polio, karena semakin mudah virus dikenali, semakin mudah virus polio ini dibunuh.

Penyebab Lain Lumpuh Layu Pada Anak

Berbicara tentang lumpuh layu, ternyata tidak hanya virus polio yang bisa menyebabkan lumpuh layuh, masih banyak penyebab lainnya, seperti infeksi yang disebabkan virus coxsakie A7, echovirus 3, dan enterovirus 71. Ketiga virus ini ternyata masih satu keluarga dengan virus polio, yaitu kelompok virus enterovirus. Virus-virus jenis ini menginfeksi manusia melalui jalur saluran pencernaan atau masuk melalui mulut.

Bahkan secara medis, ketiga enterovirus tersebut bisa menyebabkan penyakit tangan, kaki, dan mulut (hand, foot and mouth disease, HFMD). Gejalanya terlihat pada daerah tangan, kaki, dan mulut. Disekitar tangan dan kaki muncul kelainan kulit berupa ruam-ruam dan vesikel atau gelembung kecil berisi cairan. Di daerah mulut dan tenggorokan, vesikel-vesikel tersebut akan sangat menyakitkan. Kulit daerah tangan dan kaki serta permukaan rongga mulut seperti melepuh.

Baca juga: Salah Kaprah Merawat Bayi.

Dari ketiga virus penyebab polio tersebut, enterovirus 71 adalah virus yang palig ganas. Bahkan dampak serangan ketiga virus ini pernah menimbulkan wabah hebat seperti di Toronto (1959), California (1969), Bulgaria (1975) dan Hungaria (1978). Di Asia Tenggara, inveksi virus pernah terjadi di Malaysia (1997) dan Taiwan. 

Virus lain yang berpotensi menjadi penyebab lumpuh layu adalah virus rabies. Seseorang yang tergigit anjing atau binatang lain yang terinfeksi virus rabies akan merasa baal di daerah tergigit. Hal ini dikarenakan virus rabies mengganggu saraf-saraf peraba di sekitar daerah tersebut. Melalui jaras-jaras saraf otot dari daerah yang tergigit, virus kemudian menjalar ke pusat persarafan tulang belakang (korda spinalis), kemudian naik ke atas sampai akhirnya menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot pernapasan, penelan dan bicara. Sedangkan waktu yang diperlukan untuk menyebabkan gejala-gejala tersebut masa inkubasinya antara 4 sampai 12 minggu, sehingga masih ada waktu untuk diberikan imuniasai.

Sindrom Guillain-Barre

Penyebab lumpuh layuh yang lainnya adalah Sindrom Guillain-Barre (SGB) yang merupakan penyakit yang sulit dibedakan dengan polio.

SGB ini merupakan gejala atau sindrom berupa kelumpuhan, kerusakan saraf, dan jika parah bisa menimbulkan koma.

Gejala-gejalanya muncul pada penderita yang telah terinfeksi bakteri atau virus yang dicurigai .

Singkatan SGB ini diambil dari nama para dokter yang pertama kali menemukan sindrom ini, yaitu dua dokter Prancis, Georges Guillain dan Jean A. Barre pada tahun 1916 yang melaporkan gejala kelumpuhan mirip polio pada para penderita yang barus saja mengalami perbaikan kondisi akibat influensa.

Awal kelumpuhan ini terjadi di bawah, naik ke kaki (umumnya pada kedua tungkai), dan terus merembet ke atas, hingga menyebabkan gangguan pernapasan dan penurunan kesadaran. Keempat tungkai (kedua kaki dan kedua tangan) ini yang berpeluang mengalami lumpuh layuh. Saraf yang diserang tidak hanya yang mempersaraf otot, tetapi bisa juga indra peraba. Akibatnya, penderita mengalami mati rasa.

Penderita SGB bisa sembuh secara spontan setelah 2 sampai 3 minggu. Kesembuhan ditunjukkan dengan pulihnya kekuatan otot, dimulai dari bagian atas. Otot-otot kaki biasanya pulih belakangan.

Myasthenia Gravis

Myasthenia artinya kelemasan pada otot, sedangkan gravis berarti berat atau parah. Dilihat dari namanya, penyakit ini menunjukkan kelemesan berat pada otot. Otot-otot penderita menjadi cepat lelah dan lemas secara tidak normal, setelah melakukan kerja fisik tertentu.

Penyakit ini termasuk kategori kelainan autoimmune, akibat sistem kekebalan tubuh (antibodi) menyerang organ-organ tubuh sendiri.

Antibodi seharusnya menyerang kuman penyakit dari luar, namun pada myastenia ini menyerang sambungan saraf otot. Agar otot berkontraksi, ujung serabut saraf melepaskan sinyal tertentu pada otot yang dituju.

Sinyal-sinyal yang dilepas tersebut berupa senyawa-snyawa kimia tertentu atau disebut dengan neurotransmitter. Pada penyakit ini, reseptor-reseptor yang berfungsi mneima neurotransmitter diblokade oleh antibodi itu sendiri. Hal ini mengakibatkan otot yang bersangkutan tidak mampu berkonstraksi dan menjadi lumpuh layuh.

Itu dia sedikit informasi tentang lumpuh layuh. Semoga bermanfaat.

Belum ada Komentar untuk "Lumpuh Layuh"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel