Resensi Buku “Credibility, How Leaders Gain and Lose It”

Ada apa dengan kredibilitas? Terdapat buku menarik yang ingin disampaikan kali ini dalam resensi buku “Credibility, How Leaders Gain and Lose It” yang ingin menyampaikan tentang pentingnya kredibilitas.

Buku “Credibility, How Leaders Gain and Lose It” (Foto: leadershipchallenge.com)

Resensi lain tentang buku ini juga sempat disampaikan oleh Yudo Anggoro, dari Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung, yang sempat ditayangkan di Majalah SWA Edisi no 9, tentang materi yang sama.

Informasi Buku:

  • Judul : Credibility, How Leaders Gain and Lose It. Why People Demand It.
  • Penulis: James M.Kouzes dan Barry Z. Posner.
  • Penerbit: Jossey-Bass, 2nd Edition, 2 Agustsu 2011.
  • Tebal buku: 272 halaman.
  • ISBN: 978-0470651711.

Resensi Buku Non Fiksi “Credibility,How Leaders Gain and Lose It”

Disampaikan bahwa sekitar tahun 1993, James M. Kouzes dan Barry Z. Posner meluncurkan edisi pertama buku ini. Pada masa itu, para pemimpin belum dibekali dengan teknologi informasi yang canggih atau pun bantuan para konsultan yang sering ditemui saat ini.

Saat itu kedua pemikir kepemimpinan terkemuka ini menemukan bahwa inti kepemimpinan yang efektif terletak pada kredibilitas individu yang terdiri atas kejujuran, kompetensi dan juga kemampuan untuk menginspirasi.

Dalam riset yang melibatkan lebih dari 100 ribu responden dari seluruh dunia, Kouzes dan Posner juga mewancarai ratusan pemimpin dunia dari berbagai latar belakang, mulai dari dunia bisnis, pemerintahan, pendidikan, agama sampai sektor non profit.

Baca juga: Resensi Buku “Mastering the VC Game”.

Hasil riset tersebut ternyata konsisten dengan temuan mereka pada dua dasawarsa yang lalu. Fondasi kepemimpinan masa kini adalah kredibilitas, yang terdiri dari kejujuran, kompetensi, kemampuan menginspirasi, ditambah satu karaakteristk baru, yaitu berpandangan ke depan.

Yang mejadi pertanyaan adalah mengapa kredibilitas itu sangat penting? Seorang pemimpin yang kredibel akan membuat anggotanya merasa bangga menjadi bagian dari organisasi, menjadi bersemangat, memiliki komitmen serta memiliki loyalitas dan juga rasa saling memiliki terhadap organisasi.

Begitu pula sebaliknya, pemimpin memiliki kredibilitas rendah akan membuat anggotanya bekerja hanya pada saat diawasi, termotivasi hanya oleh uang dan juga materi semata, serta merasa tidak betah berlama-lama menjadi anggota organisasi tersebut.

Dan bagaimana cara seorang pemimpin membangun dan menjaga kredibilitasnya? Kouzes dan Posner merumuskan dalam 6 poin disiplin. Dan disebut sebagai disiplin karena kredibilitas adalah sesuatu yang diraih dengan kerja keras dan komitmen tinggi.

Disiplin pertama adalah discover yourself. Seorang pemimpin harus mampu memahami dirinya lebih dulu sebelum memahami orang lain, artinya pemimpin harus memiliki sikap dan nilai-nilai yang selalu ia pegang teguh dalam mengambil keputusan. Disini pemimpin juga dituntut memiliki kompetensi yang memadai dalam menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya.

Disiplin kedua, menghargai bawahan. Proses ini berupa menyelaraskan nilai yang dianut pemimpin dengan nilai yang dipegang teguh bawahannya. Dalam proses ini, pemimpin dituntut lebih banyak mendengarkan, membangun dialog dan menghargai perbedaan pendapat dalam organisai. Tentu saja di era media sosial, seperti saat ini maka cara paling efektif adalah dengan berpartisipasi aktif dalm blog korporasi.

Disiplin ketiga, menegaskan nilai-nilai bersama. Nilai-nilai bersama adalah dasar dalam membangun hubungan kerja yang produktif dan tulus. Maka ketika organisasi menjadi besar, bahkan melintasi batas antarnegara, nilai-nilai bersama ini diperlukan untuk menegaskan identitas dan budaya organisai. Salah satu caranya adalah dengan selalu menanamkan nilai-nilai bersama ke dalam proses organisasi, mulai dari proses rekrutmen anggota baru, pelatihan sampai proses promosi.

Displin keempat, adalah dengan membangun kapasitas bawahan. Ada pun lima kapsitas yang harus dibangun adalah kompetensi, kebebasan memilih, rasa percaya diri, iklim organisasi dan komunikasi. Yang menarik tentu saja dalam hal ini adalah upaya membangun kompetensi, maka peran pemimpin hanyalah educate, educate dan educate.

Disiplin kelima, melayani. Kepemimpinan paada dasarya adalah memberikan pelayanan ke seluruh organisasi. Konsep ini telah banyak dibahas dalam topik-topik mengenai servant leadership. Salah satu cara termudah mengukur keseriusan seorang pemimpin adalah dengan mengamati berapa banyak waktu yang dicurahkan oleh pemimpin untuk bawahan dan organisainya. Bagi seorang, time is the only true resource. Selain itu, pemimpin yang kredibel termasuk yang pertama kali mengetahui adanya masalah dalam organisai. dan yang pertama kali pula bertindak menyelesaikan masalah itu.

Displin keenam. Senatiasa menjaga harapan dan semangat bawahan. Pemimpin adalah orang yang senantiasa menyebarkan antusiame dan rasa percaya yang tulus, mendorong kemauan bawahannya, menyediakan sumber daya yang dibutuhkan, serta menyiratkan optimisme untuk msa depan yang lebih baik. Seburuk apa pun kondisi yang tengah dihadapi, pemimpin adalah figur yang selalu tampil penuh percaya diri, berpikir positif dan memiliki can-do attitude.

Sebagai seorang pemimpin bisa jadi melakukan kesalahan yang mengakibatkan hilangnya kredibilitas. Untuk mendapatkan kembali kredibilitas terdapat 6 langkah yang harus dilakukan Kouzes dan Posner menyebut hal tersebut sebagai Six A’s of Leadership Accountability yang terdiri dari Accept, Admit, Apologize, Act, Amend, and Attend. 

Semoga informasi tentang resensi buku “Credibility, How Leaders Gain and Lose It” ini bermanfaat dan menjadi referensi untuk Anda. 

Belum ada Komentar untuk "Resensi Buku “Credibility, How Leaders Gain and Lose It”"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel