Resensi Novel “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!”

Hidup adalah sebuah perjalanan. Bahkan banyak yang mengatakan hidup adalah sebuah pencarian. Namun dalam rangka pencariannya tersebut banyak yang salah arah, tidak tahu lagi dengan apa yang menjadi tujuan. Begitu pula dengan lahirnya novel karya Muhidin M Dahlan ini yang sengaja menulis sebuah novel kontroversial, yang tentu saja membuat setiap orang yang membacanya mnjadi terhenyak. Banyak yang kaget dengan judul yng disampaikan, maka tidak salah kalau sebelum membaca dengan detail novel tersebut, Anda bisa melihat dan membaca resensi novel “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!”.

Memang tidak ada yang tahu, apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Begitu pula dengan seorang gadis yang dikisahkan dalam novel ini. Pencarian makna hidup menjadikan dirinya harus terombang-ambing dalam kehidupan yang bertentangan dengan norma dan aturan yang ada. 

Resensi Novel “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!”

Identitas Buku:
Judul: Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!
Penulis: Muhidin M Dahlan.
Penerbit: ScriPta Manent.
Tahun terbit: Cetakan 1 Oktober 2003; Cetakan 13 Juli 2008.
Tebal buku: 264 halaman.
ISBN: 978-979-99461-1-9.

Resensi Buku “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!”

Novel dengan judul “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! – Memoar Luka Seorang Muslimah” ini sejatinya adalah sebuah novel tentang kritik sosial terhadap beberapa organisasi radikal yang mengusung pendirian negara Islam sekaligus cara beragama oknum-oknum mereka yang terlalu otoriter dan dogmatis.

Tersebutlah Nidah Kirani seorang muslimah yang taat. Tubuhnya dihijabi dengan jubah dan jilbab besar, bahkan hampir semua waktunya dihabiskan untuk shalat, membaca Al-Quan dan berzikir. Dan cita-citanya hanya satu, yaitu untuk menjadi seorang muslimah yang beragama secara kaffah.

Baca juga: Resensi Novel “Jangan Miringkan Sajadahmu!”.

Namun, di tengah perjalanan, Kiran diterpa badai kekecewaan yang luar biasa. Organisasi garis keras yang diikutinya yang mencita-citaan tegaknya syariat Islam di Indonesia yang menjadi role model bagi dirinya ternyata malah merampas nalar kritis dan juga keimanannya. Bahkan sudah berkali-kali kondisi tersebut diprotes dan digugatnya, namun yang datang hanya sebuah kehampaan. Bahkan Tuhan yang selama ini diagung-agungkannya seperti lari dari tanggung jawab dan tidak menjawab semua keluhannya.

Dalam segala kekalutan dan kondisi kosong tersebut, Kiran malah terjebak dan terjerembab dalam dunia hitam. Frustasi yang dialaminya malah dilampiaskan dalam free sex dan juga mengonsumsi obat-obatan terlarang. Dari petualangan seksnya tersebut, terbukalah tabir topeng-topeng kemunafikan dari para aktivis yang meniduri dan ditidurinya, baik aktivis sayap kiri maupan sayap kana yang selama ini lantang menegakkan tegaknya moralitas.

Bahkan sampai terkuak pula sisi gelap seorang dosen Kampus Matahari Terbit Yogyakarta yang bersedia menjadi germonya dalam dunia remang-remang pelacuran yang juga anggota DPRD dari fraksi yang selama ini bersikukuh memperjuangkan tegaknya syariat Islam di Indonesia.

Kelebihan Novel “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!”

Mengambil hikmah positif menjadi hal utama dan penting saat membaca sebuah karya tulis, begitu pula dengan novel karya Muhidin M Dahlan ini. Novel atau buku ini sejatinya adalah kritik, tentang:

  • Kritik sosial terhadap pemberontakan yang dilakukan Jemaah Daulah Islamiyah.
  • Kritik sosial terhadap pilihan hidup hingga menjadi seorang pelacur.
  • Kritik sosial atas masalah gender, yang selama ini masih menjadi isu.
  • Kritik sosial atas pelanggaran yang terjadi yang bertentangan dengan norma dan aturan yang ada.

Itu dia, sedikit resensi novel “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!” karya Muhidin M Dahlan, semoga bermanfaat, menghibur dan menginspirasi kita semua. 

Firman Seorang blogger yang senang menikmati kopi, traveling, dan menulis.

Belum ada Komentar untuk "Resensi Novel “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!”"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel