Resensi Novel “Pulau Dokter Moreau”

Bagaimana jadinya kalau hewan yang tadinya hanya sekedar hewan, kemudian bisa beraktivitas seperti manusia, bisa bicara, bisa bekerja, dan bisa melakukan kegiatan normal layaknya manusia. Tentu akan menakutkan. Atau bayangan seperti film kartun atau animasi yang selama ini sering kita tonton di televisi benar-benar terjadi? Sepertinya hal inilah yang ada pada bayangan H.G. Wells saat menulis karya fiksi ilmiah tersebut. Tertarik dengan novel yang membuat penasaran tersebut, maka resensi novel “Pulau Dokter Moreau” ingin membedah secara singkat bagaimana sebenarnya jalan cerita dari novel karya H. G. Wells tersebut.

Novel “Pulau Dokter Moreau” telah diadaptasi untuk televisi dan film, dan yang menarik novel ini pernah di filmkan pada tahun 1996 yang dibintangi oleh Marlon Brando dan Val Kilmer. Novel fiksi ini ditulis saat pembedahan hewan sedang diperdebatkan dengan hangat dan juga semakin dikecam, dan ketika teori evolusi Charles Darwin mulai populer.

Identitas Novel :

Resensi Novel “Pulau Dokter Moreau”

Judul: Pulau Dokter Moreau.
Penulis: H. G. Wells.
Penerbit: Quills Book Publisher Indonesia.
Alih bahasa: Aryo Swastika.
Tahun terbit: Cetakan I, Agustus 2005.
Tebal buku: 26a halaman
ISBN: 978-999-850-6.

Resensi Buku “Pulau Dokter Moreau”

Pada awalnya cerita tentang kisah ini berawal dari ditemukannya sebuah catatan dalam bentuk manuskrip yang ditulis oleh Edwad Prendick. Prendick yang saat itu berlayar dengan Kapal Lady Vain, tiba-tiba menghilang setelah bertabrakan dengan kapal tak berawak. Saat menyelamatkan diri dengan perahu kecil, Prendick diselamatkan dan dibawa ke kapal Ipecacuanha. Di kapal itu, Prendick bertemu dengan Montgomery, seorang mantan mahasiswa kedokteran dan juga dengan seorang pria cacat yang bergerak dengan kecepatan binatang.

Di kapal itulah, Prendick juga bertemu dengan berbagai hewan, yang nantinya menjadi titik awal keingintahuan Prendick yang terjadi di pulau yang didiami Dokter Moreau. Dengan dikemudikan oleh Kapten Davies, akhirnya mereka sampai ke pulau terpencil tersebut. Dan Kapten Davies pun menolak Prendick untuk tinggal di Ipecacuanha, dan Prendick dipaksa naik perahu dan terapung sendirian. Akhirnya Prendick diselamatkan oleh Montgomery dan orang aneh lainnya.

Sampai di darat, Prendick melihat mahluk aneh dan juga diberi tahu bahwa pulau tersebut adalah pulau percobaan seorang dokter atau bisa disebut sebagai sebuah stasiun biologis. Dan saat itu barulah dirinya mengetahui bahwa seseorang berambut putih tersebut adalah Dokter Moreau seorang vivisector terkenal yang terpaksa meninggalkan Inggris beberapa tahun sebelumnya setelah eksperimen mengejutkannya dipublikasikan.

Baca juga: Resensi Novel “Rahasia Sang Lady”.

Ditengah keingintahuan dan kekhawatirannya, Prendcik mendengar tangisan atau rintihan, yang belakangan diketahui hal tersebut adalah pembedahan puma. Ketakutan tersebut membuat Prendick menjelajahi pulau tersebut yang pada akhirnya Prendick dikejar mahluk yang tidak dikenalnya. Di tengah pengajaran tersebut, Prendick bertemu dengan Manusia Kera, yang membawa Prendick kerumahnya dan bertemu dengan mahluk lainnya, yang mengajari Prendick tentang hukum yang harus ditaati oleh manusia binatang.

Ditengah usahanya melarikan diri dari kejaran Moreau, Prendick putus asa dan berusaha untuk menenggelamkan dirinya. Namun, keingintahuan mengalahkan hasrat untuk bunuh diri dan mendorongnya mendengarkan penjelasan Moreau tentang eksperimen yang dilakukannya, yang menjelaskan bahwa eksperimen yang dilakukannya tidak melibatkan manusia, namun mahluk tersebut adalah hewan yang dimanusiakan.

Dalam catatan Prendick yang ditemukan keponakannya tersebut, di pulau tersebut terdapat semacan “Beast Folk”, seperti manusia macan tutul, pria dan wanita babi, mahluk serigala dan juga M’ling yang mirip dengan manusia. Mendekati cerita akhir, Moreau menghukum manusia macan tutul yang melanggar hukum dengan memakan kelinci, namun mahluk ini malah menyerang Dokter Moreau. Beberapa minggu kemudian, menjadi kisah akhir, dengan terbunuhnya Dokter Moreau oleh manuisa puma yang belum selesai dikerjakan. Di situasi yang genting tersebut dengan menggunakan perahu yang terdampar di pantai, Prendick melarikan diri dan diselamatkan. Di Inggris, Prendick menceritakan kisahnya, namun tidak ada yang mempercayai dan menganggapnya gila.

Kelebihan Novel “Pulau Dokter Moreau”

Novel Pulau Dokter Moreau, bisa dikatakan sebagai novel distopia, yang merupakan suatu keadan fiksi yang tidak sempurna, tidak ideal dan penuh tekanan. Begitu pula dalam novel tersebut yang bisa ditemukan keadaan yang ekstrim, tidak stabil dan berbahaya.

Bagi saya, novel ini hanya dianggap sebagai hiburan saja, sehingga hanya menjadi referensi tentag cerita fiksi ilmiah, bagaimana sebenarnya proses pembedahan antar mahluk bisa dilakukan

Kekurangan Novel “Pulau Dokter Moreau”

Bagi yang memiliki imajinasi berbeda, novel ini bisa dikatakan menakutkan, seperti adanya pembedahan, rintihan karena efek tidak adanya obat bius saat pembedahan, membuat pembaca membayangkan tentang rasa sakit yang diderita.

Itu dia sedikit resensi novel “Pulau Dokter Moreau” karya H.G. Welss, semoga bermanfaat dan menghibur kita semua. 

Firman Seorang blogger yang senang menikmati kopi, traveling, dan menulis.

Belum ada Komentar untuk "Resensi Novel “Pulau Dokter Moreau”"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel