Resensi Novel “Gajah Mada –Sumpah di Manguntur”

Kisah sejarah menjadi sebuah kisah penting bagaimana anak bangsa mengingat kemajuan pendahulunya dalam membangun bangsa tersebut. Meskipun terjadi di zama lampau namun kebesaran dan sisa-sisa peninggalan menjadi bukti bahwa bangsa tersebut pernah berjaya. Hal  ini pula yang disampaikan Langit Kresna Hariadi dalam novel Gajah Mada yang ketiga, tidak hanya menunjukkan kisah sejarah, namun cerita menarik yang ditulisnya membuat para pembacanya terbawa dalam kisah lampau yang mendebarkan. Untuk itu, resensi novel “Gajah Mada –Sumpah di Manguntur” memberikan sedikit rangkuman bagaimana kisah serius dibungkus sedemikian rupa membuat kisah menarik dengan diselingi kisah sederhana para Bhayangkara dan sisi lain kisah dalam buku Gajah Mada.

Resensi Novel “Gajah Mada –Sumpah di Manguntur”
Novel “Gajah Mada –Sumpah di Manguntur”

Saya bisa mengatakan dari beberapa buku Gajah Mada yang ditulis Langit Kresna Hariadi, buku ketiga Gajah Mada ini menjadi buku yang serius, terlihat dari bagaimana sejatinya tonggak Sumpah Palapa disampaikan Gajah Mada saat dilantik menjadi Maha Patih Majapahit menggantikan Arya Tadah. Selain itu, di dalam buku ini juga sangat terlihat dengan jelas tentang unsur budaya masyarakat khususnya masyarakat Jawa di era Kerajaan Majapahit pada abad ke-13.

Identitas Buku:

  • Judul: Gajah Mada –Sumpah di Manguntur.
  • Penulis: Langit Kresna Hariadi
  • Penerbit: Tiga Serangkai.
  • Tahun terbit : Cetakan ke-1 2012.
  • Tebal buku: x + 694 halaman.
  • ISBN: 978-979-084-836-8.

Resensi Buku “Gajah Mada –Sumpah di Manguntur”

Pada intinya buku ini menunjukkan bagaimana sikap Gajah Mada setelah dilantik menjadi Maha Patih Kerajaan Majapahit dengan disampaikannya Sumpah Amukti Palapa. Kisah ini diawali dengan pembicaraan Ki Padmaguna, yang merupakan sahabat Raden Wijaya. Dalam kisah tersebut disampaikan bahwa Ki Padmaguna bertemu dengan nenek Branjang Ratus dari mimpinya, yang tidak lain adalah Sri Yendra. Pada akhirnya putra Ki Padmaguna, Branjang Ratus akhirnya berangkat menemui Bibi Sri Yendra untuk mengambil payung Udan Riwis dan cihna grinsing lobbeng lewih laka dari Bangunan Penyimpanan Benda Pusaka Kerajaan Majapahit.

Pada akhirnya kisah ini menjadi awal cerita menarik, dan menjadi awal bagaimana mantan Senopati Pasukan Bhayangkara Gajah Enggon bisa berubah takdir hidupnya dengan menikahi Rahyi Sunelok, Cucu Kia Pawagal setelah mendapatkan amanat dari Ibu Ratu Gayatri, dan bagaimana kisah hidup Pradhabasu menemukan keluarga bahagia yang memperistrikan Dyah Menur Tanjung bekas istri dari Raden Kudamerta.

Baca juga: Resensi Novel “Gajah Mada – Takhta dan Angkara”.

Kisah tersebut berlanjut dengan kemunculan Kiai Wirota Wiragati yang merupakan Mantan Maling Sakti yang pada akhirnya bisa bersahabat dengan Raden Wijaya hingga menjadi legenda dalam berdirinya Kerajaan Majaahit. Kisah tersebut juga tidak putus sampai dengan membeloknya harapan Kiai Wirogari hingga menjadi kipas api dalam hati Ma Panji Keta seorang Raja dari Keta yang pada akhirnya ingin memberontak pada Kerajaan Majapahit.

Kisah tersebut menjadi semakin menarik dengan kemampuan penulis yang menunjukkan alur maju dan alur mundur, hingga Ibu Suri Gayarti menceritakan bagaimana hubungann Ibu Suri Gaytri hingga terjalin sedikit kisah asmara dengan Kiai Wirogati, yang pada akhirnya Kiai Wirogati menjadi pencetus pembangkangan Keta Sadeng.

Hingga rencana pemberontakan Keta Sadeng bisa terselesaikan dan Patih Daha diangkat menjadi Maha Patih Gajah Mda yang kemudian mengucapkan Sumpah Amukti Palapa. “Untuk mewujudkan mimpi kita semua, aku bersumpah akan menjauhi hamukti wiwaha, sebelum cita-citaku dan cita-cita kits bersama itu terwujud. Aku tidak akan bersenang-senang dahulu. Aku akan tetap berprihatin dalam puasa tanpa ujung semata-mata demi kebesaran Majapahit. Aku bersumpah untuk tidak beristirahat.” 

Lamun huwus kalah Nusantara ingsun amukti pals. Lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tany’ungpurw, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasek, samana ingsun amuktipalapa!” 

Resensi Buku “Gajah Mada –Sumpah di Manguntur”
Novel “Gajah Mada –Sumpah di Manguntur”

Kelebihan Novel “Gajah Mada –Sumpah di Manguntur”

Selain memberikan kisah menarik yang memotivasi, juga terdapat unsur kepercayaan yang membuat seseorang yakin bahwa dengan keyakinannya akan mengantarkan pada keberhasilan seseorang. Hal ini juga terlihat dari beberapa kisah di dalam novel Gajah Mada –Sumpah di Manguntur yang menunjukkan bagaimana kekuatan akan kepercayaam yang pada akhirnya membentuk pengalaman, mulai dari kepercayaan pada kekuatan mimpi, kepercayaan pada takdir, kepercayaan pada tanda-tanda alam dan juga kepercayaan pada kekuatan gaib.

Selain memberikan cerita yang bagus, buku ini memberikan semangat dan motivasi bagi anak bangsa untuk selalu tetap berjuang dalam menggapai mimpi.

Kekurangan Novel “Gajah Mada –Sumpah di Manguntur”

Berbicara tentang kekurangan, tentu setiap karya pasti memiliki kekurangan, namun semakin membaca karya Langit Kresna Hariadi, apalagi pada buku ketiga Gajah Mada ini, yaitu Gajah Mada –Sumpah di Manguntur, semakin tidak bisa menemukan kekuangan. Hal ini berbeda dengan buku pertama yang terdapat beberapa kekurangan dan kesalahan khususnya dalam rentang waktu dan tempat

Itu dia, sedikit resensi novel “Gajah Mada –Sumpah di Manguntur”, semoga bermanfaat, menghibur dan menginspirasi kita semua.

Firman Seorang blogger yang senang menikmati kopi, traveling, dan menulis.

Belum ada Komentar untuk "Resensi Novel “Gajah Mada –Sumpah di Manguntur”"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel