Menjelajahi Desa Wisata Sade & Ende, Jantung Budaya Suku Sasak di Pulau Lombok

Pulau Lombok tidak hanya tentang keindahan Pantai Kuta atau kegagahan Gunung Rinjani. Di balik pesona alamnya yang memukau, tersimpan kekayaan budaya yang masih terjaga dengan sangat murni. Bagi Anda yang ingin merasakan atmosfer kehidupan masa lalu yang autentik, Desa Wisata Sade dan Ende di Nusa Tenggara Barat adalah destinasi yang wajib masuk dalam daftar perjalanan Anda.

Mengenal Desa Wisata Sade dan Ende, Benteng Terakhir Budaya Sasak

desa-wisata-sade-ende-suku-sasak
Suasana Desa Wisata Sasak Ende (Gambar: KOMPAS.com/Muhammad Naufal)

Terletak di Kabupaten Lombok Tengah, Desa Sade dan Desa Ende merupakan potret nyata kehidupan Suku Sasak, penduduk asli Pulau Lombok. Meskipun zaman telah berganti ke era digital, masyarakat di kedua desa ini tetap teguh memegang prinsip hidup leluhur mereka.

Baca juga: Menikmati Sunset Spektakuler di Bukit Merese "Bukit Cinta" yang Viral di Media Sosial.

Secara visual, kedua desa ini menawarkan pemandangan yang kontras dengan hiruk-pikuk kota besar. Deretan rumah adat berbahan bambu dengan atap ilalang akan menyambut setiap pengunjung yang datang. Namun, apa yang membuat kedua desa ini begitu istimewa di mata dunia?

Daya Tarik Utama: Keunikan yang Tidak Ditemukan di Tempat Lain

1. Arsitektur Rumah Adat "Bale Tani"

Bangunan di Desa Sade dan Ende disebut sebagai Bale. Struktur bangunannya sangat unik, menggunakan tiang bambu atau kayu, dinding dari anyaman bambu (bedek), dan atap dari tumpukan ilalang kering yang rapat. Desain ini membuat suhu di dalam ruangan tetap sejuk saat siang hari dan hangat saat malam hari.

2. Tradisi Mengepel Lantai dengan Kotoran Kerbau

Salah satu daya tarik paling ikonik sekaligus mencengangkan bagi wisatawan adalah perawatan lantainya. Masyarakat Suku Sasak di sini secara rutin mengepel lantai rumah mereka menggunakan campuran kotoran kerbau atau sapi.

Mungkin terdengar tidak biasa, namun secara ajaib, lantai tersebut sama sekali tidak berbau. Penggunaan kotoran kerbau ini berfungsi untuk:

  • Membersihkan debu pada lantai tanah.
  • Membuat lantai lebih kuat dan tidak mudah retak.
  • Menghalau nyamuk dan serangga masuk ke dalam rumah.

3. Keahlian Menenun Kain Songket dan Ikat

Seorang perempuan Suku Sasak baru dianggap dewasa dan boleh menikah jika ia sudah mahir menenun. Di sepanjang jalan desa, Anda akan melihat para wanita duduk di depan rumah menggunakan alat tenun tradisional kayu untuk memproduksi kain tenun khas Lombok yang mendunia.

Keunikan Budaya: Tradisi yang Tetap Hidup

Pohon Cinta dan Tradisi Kawin Lari

Di Desa Sade, terdapat sebuah pohon nangka kering yang disebut "Pohon Cinta". Konon, di sinilah pasangan kekasih sering bertemu sebelum melakukan tradisi Merariq atau kawin lari. Dalam budaya Sasak, membawa lari calon pengantin perempuan (dengan persetujuan) dianggap lebih ksatria daripada sekadar melamar secara formal.

Struktur Hierarki Rumah

Uniknya, rumah Suku Sasak memiliki struktur lantai yang bertingkat. Bagian atas biasanya digunakan untuk tempat tidur wanita dan penyimpanan hasil bumi, sedangkan bagian bawah untuk ruang tamu dan tempat tidur laki-laki. Ini mencerminkan cara mereka melindungi kehormatan kaum perempuan.

Panduan Perjalanan: Lokasi, Rute, dan Harga Tiket

Agar perjalanan Anda lancar, berikut adalah detail logistik yang perlu Anda ketahui:

Lokasi Desa Wisata Sade & Ende

  • Desa Sade: Terletak di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.
  • Desa Ende: Terletak tidak jauh dari Sade, yakni di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.

Jarak kedua desa ini sangat dekat dengan Bandara Internasional Lombok (BIL), hanya sekitar 15–20 menit berkendara. Jika Anda datang dari arah Kota Mataram, perjalanan akan memakan waktu sekitar 1 jam.

Rute Menuju Lokasi

Jika Anda menggunakan kendaraan pribadi (motor atau mobil sewa), Anda cukup mengarahkan GPS menuju jalur utama Mataram-Kuta. Jalannya sudah sangat bagus dan beraspal mulus. Karena lokasinya berada di pinggir jalan raya utama menuju Pantai Kuta Mandalika, Anda tidak akan kesulitan menemukannya.

Harga Tiket Masuk (HTM)

Salah satu hal yang menarik adalah tidak ada tarif tiket masuk tetap di Desa Sade maupun Ende. Wisatawan hanya diminta untuk:

  1. Mengisi buku tamu.
  2. Memberikan donasi sukarela di kotak yang disediakan (biasanya wisatawan memberi Rp20.000 – Rp50.000).
  3. Menyewa jasa pemandu lokal (Local Guide) agar Anda mendapatkan penjelasan mendalam tentang sejarah desa. Biaya pemandu juga bersifat sukarela atau kesepakatan di awal.

Mengapa Anda Harus Menikmati Waktu di Desa Wisata Sade & Ende?

Mengapa harus mengunjungi kedua desa ini padahal ada banyak mal atau kafe di kota? Jawabannya adalah pengalaman batin.

  1. Edukasi Budaya yang Nyata: Anda tidak hanya melihat benda mati di museum, tetapi berinteraksi langsung dengan manusia yang menjalankan tradisi tersebut.
  2. Mendukung Ekonomi Lokal: Dengan membeli selembar kain tenun atau kerajinan tangan langsung dari perajinnya, Anda membantu keberlangsungan hidup komunitas adat tersebut.
  3. Refleksi Diri: Melihat kesederhanaan hidup Suku Sasak seringkali menjadi momen healing yang efektif untuk menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada kemewahan teknologi.
  4. Fotografi Budaya: Bagi pecinta fotografi, setiap sudut desa adalah objek yang sangat instagramable dan sarat akan cerita.

Tips Berwisata ke Desa Sasak

  • Berpakaian Sopan: Hormati adat setempat dengan mengenakan pakaian yang menutup bahu dan lutut.
  • Membawa Uang Tunai: Sebagian besar transaksi untuk suvenir dan donasi menggunakan uang tunai.
  • Interaksi yang Ramah: Masyarakat Sasak sangat ramah. Jangan ragu untuk melempar senyum atau menyapa "Matur Sakti" (terima kasih dalam bahasa Sasak).

Penutup

Desa Wisata Sade dan Ende adalah jendela untuk mengintip masa lalu yang masih bernapas di masa kini. Dari lantai kotoran kerbau yang fenomenal hingga harmoni suara alat tenun, setiap detik yang Anda habiskan di sini akan menjadi memori yang tak terlupakan.

Belum ada Komentar untuk "Menjelajahi Desa Wisata Sade & Ende, Jantung Budaya Suku Sasak di Pulau Lombok"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel