SEGO KRAWU SEMANGAT PAGIKU

Posted on

Berbicara semangat, berarti berbicara tentang kegigihan untuk hidup dan harapan untuk mencapai tujuan positif. Terkadang untuk mencapai tujuan, ditengah jalan kita mengalami putus harapan, yang bisa saja karena jenuh dalam menghadapi proses, atau pun tujuan yang belum terkabulkan.

Namun ada masa ketika jenuh itu muncul, maka terdapat motivasi untuk membuat diri kita bangkit lagi, dan teman dalam menuju bangkit itu adalah “Perseverance”. Perseverance, merupakan suatu bentuk kegigihan yang membuat bangkit dan maju, bersemangat lagi dan berjuang lagi. Begitu juga dengan pada pagi hari ini, ada sesuatu yang membuat saya untuk menulis di “Catatan Firman Kasan” ini, setelah terjebak dengan melihat kanan kiri, sekarang saya lebih memilih menulis sesuai dengan kata hati. Memang hidup harus memilih, dan “Hidup adalah pilihan”, lakukan mulai sekarang atau tidak terjadi apa pun.

Tidak ada kata yang tidak mungkin, mungkin itulah sebuah kalimat manjur untuk bangkit bagi siapa pun yang sedang merintis usaha. Pagi ini, saya sedang menikmati kenikmatan “sego krawu khas Gresik yang membahana dan luar biasa. Tapi dibalik kenikmatan sego krawu ada cerita luar biasa yang membuat sego krawu ini terkenal sampai sekarang.

Asal Sego Krawu

Bagi saya dan kawan-kawan pecinta kuliner mungkin mengira asal mula nasi krawu adalah dari Kota Gresik, ternyata tidak. Dan perkiraan saya salah besar. Nasi krawu telah bermigrasi dari tempat awalnya, dari sebuah Pulau Madura, lebih tepatnya dari Bangkalan. Dan secara psikologis, pola kuliner pun harus mengalami perpindahan, melakukan tindakan perseverance, gigih untuk berhijrah, agar bisa mendapatkan nilai lebih, yaitu nasi krawu menjadi laris untuk dijual dan bisa menghidupi yang menjual sego krawu ini.

SEGO KRAWU SEMANGAT PAGIKU
Ilustrasi Sego Krawu

Sejak pagi tadi, saat saya sedang menikmati sego krawu ini, otak saya berpikir untuk mengetahui sedikit tentang sego krawu ini, dan ternyata ada suka duka dibalik tenarnya sego krawu ini. Berdasarkan informasi yang saya dapat sekilas, sego krawu ini sudah ada di Madura sejak tahuan 1960-an, dan mungkin karena pasar yang belum mengenal dengan jenis sego krawu ini, maka nasi ini menjadi kurang peminat. Dan seorang Mbah Munimah yang kemudian hijrah ke Kota Gresik dan mencoba menjual nasi krawu ini.

Pada mulanya, Mbah Munimah ini berjualan di Desa Bedilan disebelah Toko Putih, Gresik namun tidak berjualan sego krawu. Sego krawu menurut beberapa sumber yang dihimpun penulis, dikembangkan oleh Hajah Sufayyah (Mbuk Su) yang merupakan putri dari Mbah Munimah, Mbuk Su belajar tentang sego krawu ini pada ibunya yaitu Mbah Munimah, yang dimulai dari resep sego krawu, cara memasak sampai dengan model penyajian sego krawu saat dihidangkan. Pada sekitar tahun 1970-an, Hj. Sufayyah, mulau berdagang sego krawu ini secara mandiri dengan berkeliling.

Dan saat ini, usaha dagang sego krawu ini diturunkan Hajah Sufayyah pada anak-anaknya, yang saat ini juga berjualan di Kota Gresik dan Surabaya, yang tidak lain untuk melestarikan sego krawu ini.

Kenikmatan Sego Krawu

Menikmati sego krawu memang memiliki kenikmatan tersendiri, apalagi kalau menikmatinya langsung di Kota Gresik. Seperi cerita diatas, awalnya penyebutan nasi krawu ini bisa saja karena pada saat melayani pembeli, penjual mengambil bagian sego krawu ini dengan dikrawuk-krawuk (mengambil makanan dengan tangan), dan ternyata anggapan ini salah.

Krawu ini adalah salah satu bagian dari sego krawu, yaitu kelapa yang telah diparut dan ditambah bumbu cabai merah (disebagian kota, dinamakan serundeng atau abon kelapa).

Tahukah kawan, nasi krawu ini memiliki beberapa item makanan yang disajikan dalam satu hidangan sehingga tersaji apa yang dinamakan sego krawu, unsur itu adalah:

  1. Nasi putih.
  2. Krawu atau serundeng kelapa.
  3. Daging sapi sebagai lauknya.
  4. Abon.
  5. Sambal merah.
  6. Mangut.

Yang menjadikan sego krawu ini sangat nikmat adalah, beberapa unsur bumbunya yang dibuat dengan cara yang spesial, misalnya daging sapi. Untuk daging sapi ini dimasak dengan cara direbus samapai benar-benar matang agar bisa diiris dengan mudah, dan kaldu dari daging yang telah direbus ini disebut semur yang juga digunakan untuk kuah nasi krawu.

Satu lagi yang tidak kalah penting, namanya “mangut”. Mangut ini adalah parutan kelapa yang telah dicampur bumbu bersama keluwek dan direbus sampai habis airnya.

Selain mangut, yang juga menambah kenikmatan nasi krawu ini adalah “Sambal” yang dibuat bersama-sama petis dan terasi udang.

Sebenarnya saya juga bingung atas penggunaan kata abon dan krawu, karena sama-sama berasal dari kelapa yang diparut, namun yang membedakan adalah kalau “abon” dibuat dari kelapa yang diparut dan ditambahkan bumbu sampai berwarna kecoklatan, namun untuk “krawu” dibuat dari kelapa yang diparut dan ditambahkan bumbu dan cabai merah sehingga warnanya lebih kemerah-merahan.

Motivasi

Jadi sahabatku, kawanku, kuliner seperti sego krawu saja melakukan hijrah dan bangkit dari tempat awalnya. Apalagi kita, sudah seharusnya kita bangkit dari keterpurukan dan jangan sampai putus asa. Tidak perlu kita iri dengan kehidupan orang lain, karena begitu kita iri dengan kehidupan orang lain, berarti kita harus mau menerima kegagalan yang sama seperti orang yang telah kita iri tersebut.

Dan tetaplah kita berteman dengan teman kita “perseverance”. Karena dengan kegigihan kita bisa mencapai apa yang kita harapkan yang bagi orang lain mustahil untuk dilakukan.

Yang terakhir, tetaplah selalu bersyukur, kalau dilihat kekurangan, kita sebenarnya tidak pernah kekurangan. Yang membuat kekurangan adalah nafsu dan gaya hidup yang membuat kita terlena dan selalu membuat orang lain lebih baik dan lebih enak dari kita.

Kata kunci.

  • Perseverance
  • Kegigihan
  • Bangkit
  • Pindah
  • Hijrah
Gravatar Image
Seorang pecinta kuliner, penikmat kopi, sedikit traveling dan senang pada entertainment dan life styles. Juga menulis tentang entrepreneur pada web blog yang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *